Korea Utara Kritik Respons Presiden Korsel Soal Pengurangan Latihan Militer AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Korea Utara mengecam respons Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung terhadap keputusan Amerika Serikat (AS) mengurangi keterlibatan dalam latihan militer bersama Seoul.

Pyongyang menilai pernyataan Lee sebagai sikap bermuka dua yang menunjukkan kegelisahan dan ketidaksabaran.

Kritik tersebut disampaikan Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melalui kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, pada Kamis (20/8).


Lee sebelumnya menyambut keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengurangi latihan militer bersama AS dan Korea Selatan.

Menurut Lee, langkah tersebut menunjukkan upaya Trump menciptakan kondisi yang memungkinkan kembali dibukanya dialog dengan Korea Utara.

Baca Juga: Adik Kim Jong-un Bantah Klaim Ukraina soal Rencana Kirim 50.000 Tentara ke Rusia

"Pesan Presiden Trump kali ini terasa seperti keputusan besar yang dipertimbangkan secara matang untuk menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea," kata Lee melalui akun X pada Rabu.

Latihan militer AS-Korea Selatan dijadwalkan berakhir pada Jumat setelah Trump memerintahkan pengurangan signifikan terhadap keterlibatan pasukan AS. Trump juga menyatakan ingin menghidupkan kembali diplomasi dengan Kim Jong Un.

Namun, Kim Yo Jong menilai penjelasan Korea Selatan mengenai pengurangan latihan tersebut hanya alasan yang dibuat-buat. Ia juga mengatakan kebijakan AS yang dianggap bermusuhan terhadap Pyongyang belum berubah.

Pernyataan Kim Yo Jong muncul setelah Trump mengatakan pada Senin bahwa dirinya telah menerima tanggapan dari Kim Jong Un setelah pengurangan latihan militer tersebut.

Meski demikian, Kim Yo Jong sehari sebelumnya mengatakan tidak mengetahui adanya komunikasi terbaru antara kakaknya dan Trump.

Baca Juga: Trump Sebut Kim Jong Un Merespons Upayanya untuk Buka Kembali Dialog

Di tengah ketegangan tersebut, Rusia justru menyambut keputusan AS mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan. Rusia diketahui semakin mempererat hubungan dengan Korea Utara, terutama sejak perang Ukraina dimulai pada 2022.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan latihan militer semacam itu berisiko mengganggu stabilitas keamanan di kawasan Asia-Pasifik.

"Setiap langkah yang mengurangi potensi konflik dan risiko keamanan hanya bisa disambut baik," kata Zakharova dalam konferensi pers mingguannya.

Perkembangan ini menunjukkan adanya sinyal yang berbeda di kawasan. Washington mulai membuka ruang bagi diplomasi dengan Pyongyang melalui pengurangan aktivitas militer, sementara Korea Utara masih menilai kebijakan AS terhadap negaranya belum mengalami perubahan mendasar.