Korea Utara Luncurkan Rudal, Redam Harapan Diplomasi dengan Korea Selatan



KONTAN.CO.ID - Korea Utara kembali meluncurkan proyektil yang diduga rudal ke arah laut di lepas pantai timurnya pada Rabu (8/4/2026), menurut militer Korea Selatan, di tengah memudarnya harapan perbaikan hubungan antar-Korea.

Peluncuran ini terjadi setelah sehari sebelumnya Korea Selatan mendeteksi peluncuran lain yang diduga rudal balistik dari wilayah Pyongyang.

Otoritas Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) saat ini masih menganalisis peluncuran tersebut.


Baca Juga: ICE Tembak Pria yang Diduga Coba Tabrak Petugas di California AS

Melansir Reuters mengacu kantor berita Yonhap, proyektil yang diluncurkan pada Selasa (7/4/2026) terbang ke arah timur, namun menunjukkan indikasi gangguan pada tahap awal penerbangan sebelum akhirnya menghilang.

Militer Korea Selatan melalui Joint Chiefs of Staff menilai objek tersebut kemungkinan besar merupakan rudal balistik, yang bisa jadi mengalami kegagalan setelah diluncurkan.

Korea Selatan biasanya segera mengumumkan uji coba rudal balistik Korea Utara karena melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, sementara untuk senjata konvensional atau rudal jelajah, pengumuman cenderung lebih hati-hati.

Namun, Korea Utara menolak larangan tersebut dan menyatakan bahwa pembatasan itu melanggar hak kedaulatan untuk membela diri.

Baca Juga: Bursa Australia Naik 2% Rabu (8/4) Pagi, Gencatan Senjata Iran Picu Sentimen Risk-On

Tegaskan Sikap Permusuhan

Perkembangan ini muncul setelah pernyataan pejabat tinggi Korea Utara yang menegaskan bahwa Pyongyang tidak mengubah sikapnya terhadap Seoul.

Pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Utara Jang Kum Chol menyatakan bahwa Korea Selatan hanya berangan-angan jika menganggap hubungan kedua negara bisa mencair.

“Ide bahwa Korea Selatan bukan lagi musuh tidak akan pernah berubah dengan kata-kata atau tindakan apa pun,” ujarnya, seperti dikutip media pemerintah KCNA.

Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Korea Utara menyebut Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung “bijak” karena menyampaikan penyesalan atas insiden pelanggaran wilayah udara oleh drone awal tahun ini yang sempat dianggap sebagai sinyal pelunakan sikap.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terjun Bebas: Brent & WTI Anjlok ke Bawah US$ 100 Pagi Ini (8/4)

Namun, pejabat Korea Utara menegaskan bahwa pernyataan tersebut sebenarnya merupakan peringatan, bukan tanda niat baik.

Hubungan Korea Utara dan Korea Selatan sendiri secara teknis masih dalam status perang sejak konflik 1950–1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.