Korea Utara Uji Coba 10 Rudal Balistik Saat Latihan AS-Korea Selatan Dekati Akhir



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Ketegangan di Semenanjung Korea kembali memanas setelah Korea Utara meluncurkan lebih dari 10 rudal balistik jarak pendek pada hari ini (20/8/2026).

Kantor kepresidenan Korea Selatan pun mengecam uji coba yang dilakukan Korea Utara dan memerintahkan militernya untuk menjaga kesiapsiagaan penuh selama latihan gabungan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.

Peluncuran tersebut terjadi setelah Kim Yo Jong—saudara perempuan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un—pada hari Rabu (19/8/2026) mengecam latihan militer AS-Korea Selatan, meskipun Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan pengurangan signifikan partisipasi AS dalam latihan tersebut.


Kantor kepresidenan menggelar rapat keamanan darurat yang dihadiri oleh para pejabat dari kementerian pertahanan dan otoritas militer setelah Korea Utara menembakkan rudal-rudal tersebut dari wilayah Pyongyang ke arah laut di sebelah timur Semenanjung Korea, demikian pernyataan kantor tersebut.

"Peluncuran rudal balistik ini merupakan tindakan serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB," kata pernyataan itu, seraya mendesak Korea Utara untuk segera menghentikan tindakan semacam itu.

Baca Juga: Bursa Inggris Tertekan, Saham JD Sports Anjlok 15% Usai Pangkas Prospek Laba

Rudal-rudal tersebut terbang sejauh sekitar 300 kilometer (186 mil) ke arah laut, menurut Kepala Staf Gabungan Korea Selatan.

Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa rudal balistik jarak pendek tersebut diyakini sebagai peluncur roket ganda (multiple rocket launchers) berkaliber 600 mm.

Dia menambahkan bahwa Seoul telah memantau senjata-senjata tersebut karena berpotensi dikerahkan di dekat perbatasan dengan Korea Selatan. Korea Utara sebelumnya menggambarkan sistem peluncur 600 mm—yang secara internasional dikenal sebagai KN-25—sebagai senjata yang mampu membawa hulu ledak nuklir taktis.

Sebelumnya, pada hari yang sama, Ahn menyatakan bahwa Korea Utara memiliki antara 80 hingga 120 hulu ledak nuklir.

Latihan militer gabungan Korea Selatan dan AS dipersingkat dan berakhir pada hari Jumat setelah Presiden Donald Trump memerintahkan pengurangan signifikan dalam partisipasi AS serta menyatakan keinginannya untuk menghidupkan kembali diplomasi dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

Pada hari Senin, Trump mengatakan bahwa ia telah menerima tanggapan dari Kim Jong Un setelah adanya pengurangan tersebut.

Namun, adik perempuan Kim, Kim Yo Jong, pada hari Rabu menyatakan tidak mengetahui adanya komunikasi terbaru antara kedua pemimpin negara, sembari menegaskan bahwa "kebijakan bermusuhan" Amerika Serikat terhadap Korea Utara tidak berubah.

Yang Moo-jin, seorang profesor di Universitas Studi Korea Utara di Seoul, mengatakan bahwa peluncuran tersebut tampaknya bertujuan untuk menegaskan bahwa peringatan yang disampaikan Kim Yo Jong sehari sebelumnya bukanlah sekadar retorika belaka.

Baca Juga: Alibaba Catat Pendapatan Naik 9%, Bisnis AI Jadi Mesin Pertumbuhan

Ia menyebutkan bahwa peluncuran itu kemungkinan memiliki beberapa tujuan, termasuk menunjukkan penentangan terhadap latihan militer Korea Selatan-AS, mengungkapkan ketidakpuasan atas pembahasan terkini mengenai persenjataan nuklir Korea Utara, serta memperingatkan pihak luar agar tidak berspekulasi mengenai urusan keamanan Pyongyang.

"Ini adalah pesan bahwa masalah yang menyangkut keamanan Korea Utara merupakan keputusan Korea Utara sendiri," ujar Yang, seraya menambahkan bahwa peluncuran tersebut juga bisa jadi bertujuan untuk menguji sistem rudal yang telah disempurnakan.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi, yang mengunjungi Seoul pekan ini, mendesak Korea Selatan untuk tidak memihak antara Beijing dan Washington; ia menyatakan bahwa AS sebaiknya meninggalkan kebijakan "bermusuhan" terhadap Korea Utara demi meredakan ketegangan di Semenanjung Korea.