KONTAN.CO.ID - Korea Utara mengungkapkan bahwa peluncuran sejumlah rudal pada Sabtu (12/9/2026) merupakan bagian dari latihan tembak langsung yang melibatkan unit artileri jarak jauh dan pasukan rudal. Kantor berita pemerintah Korea Utara KCNA melaporkan, latihan tersebut melibatkan lima unit militer Angkatan Darat dan menguji sejumlah sistem persenjataan. Senjata yang digunakan dalam latihan mencakup drone serang, rudal jelajah taktis, rudal balistik taktis, serta peluncur roket multipel berkaliber besar.
Baca Juga: Arab Saudi Cabut Peringatan Bahaya di Empat Kota Ini KCNA menyebut latihan bertajuk “serangan daya tembak gabungan” tersebut bertujuan meningkatkan moral pasukan sekaligus memperkuat kemampuan militer untuk menghancurkan musuh ketika mendapat perintah. Laporan tersebut mengutip seorang pejabat artileri yang mengatakan latihan dilakukan untuk meningkatkan kesiapan pasukan dalam menjalankan operasi militer. Sebelumnya, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan atau
Joint Chiefs of Staff (JCS) mengatakan Korea Utara meluncurkan sejumlah rudal balistik jarak pendek pada Sabtu. Rudal-rudal tersebut terbang sekitar 250 kilometer sebelum jatuh ke laut di lepas pantai timur Korea Utara. Peluncuran rudal itu dilakukan sehari setelah Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang menyelesaikan latihan militer trilateral Freedom Edge yang berlangsung selama lima hari. Latihan tersebut berfokus pada peningkatan kemampuan menghadapi ancaman dari Korea Utara.
Baca Juga: Harga Emas Spot Turun ke US$4.327, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga Tunjukkan kemampuan serangan terintegrasi Laporan KCNA mengenai latihan tersebut baru muncul dua hari setelah peluncuran rudal. Peristiwa itu diyakini menjadi peluncuran rudal balistik ke-13 yang diketahui dilakukan Korea Utara sepanjang tahun ini. Media pemerintah Korea Utara sebelumnya juga tidak selalu memberitakan sejumlah uji coba rudal yang dilaporkan oleh Korea Selatan. Profesor Lim Eul-chul dari Institute for Far Eastern Studies, Kyungnam University di Seoul, menilai latihan tersebut bukan sekadar pengujian satu jenis senjata. “Ini bukan pengujian satu sistem senjata, melainkan demonstrasi jaringan serangan terintegrasi,” kata Lim.
Baca Juga: Serangan Houthi Meningkat, Arab Saudi Sempat Beri Peringatan di 4 Kota Menurut dia, Korea Utara tampaknya ingin menunjukkan kemampuan mengoordinasikan drone, rudal jelajah, rudal balistik dan artileri roket melalui satu sistem komando dan kendali. Absennya pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta keterlambatan pemberitaan juga dinilai memiliki arti tersendiri.
Lim mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan Pyongyang kemungkinan ingin menggambarkan kegiatan tersebut sebagai latihan militer yang bersifat teknis dan praktis, sekaligus menjaga agar ketegangan tidak meningkat terlalu jauh. Di sisi lain, Korea Utara juga dinilai memanfaatkan latihan tersebut untuk mengumpulkan data operasional sebelum persenjataan digunakan dalam kondisi sebenarnya. Menurut Lim, taktik tersebut juga dapat diarahkan untuk membanjiri sistem pertahanan rudal Korea Selatan dan Amerika Serikat melalui serangan secara bersamaan menggunakan berbagai jenis senjata dengan karakteristik lintasan yang berbeda.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Ekonomi Paling Kompetitif 2026, Indonesia Masuk 50 Besar