Koreksi Harga Emas Berpotensi Tekan Prospek Kinerja Emiten, Ini Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi harga emas dunia dalam beberapa waktu terakhir berpotensi membebani prospek kinerja emiten yang bergerak di sektor produsen emas. Ini mengingat kinerja keuangan emiten emas sangat bergantung pada harga komoditas tersebut

Pada akhir pekan lalu, harga emas dunia sempat anjlok cukup dalam hingga menyentuh area support di kisaran US$ 3.959 hingga US$ 3.982 per ons troi. 

Meski demikian, tekanan tersebut mulai mereda. Pada perdagangan Senin (26/10/2026), harga emas spot berhasil rebound ke level sekitar US$ 4.015 per ons troi.


Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan koreksi harga emas dunia berpotensi menekan prospek kinerja emiten produsen emas, terutama melalui penurunan harga jual rata-rata dan margin keuntungan apabila harga emas bertahan di level yang lebih rendah.

Baca Juga: Denominasi USD Tak Jamin Untung, Reksadana Saham Indonesia Anjlok

Namun, dampaknya tidak serta-merta membuat seluruh emiten emas mengalami penurunan kinerja, karena masing-masing perusahaan memiliki struktur biaya produksi, volume penjualan, cadangan emas, dan strategi lindung nilai yang berbeda. Rebound harga emas ke kisaran US$ 4.015 per ons juga menunjukkan bahwa volatilitas masih tinggi. 

"Ke depan, prospek emiten emas akan sangat bergantung pada arah harga emas global, tren suku bunga Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, serta permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik," kata Nafan kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Sementara itu, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama  berpendapat prospek emiten emas masih menarik dalam jangka menengah, tetapi koreksi harga emas yang berkepanjangan dapat menekan margin, laba, dan kelayakan ekspansi. 

"Dampaknya bergantung pada biaya produksi, volume penjualan, arus kas, serta efisiensi operasional. Investor perlu membedakan koreksi sementara dari perubahan tren emas global," ujar Elandry.

Menurut Elandry, emiten seperti ARCI, PSAB, dan BRMS lebih sensitif terhadap pelemahan emas karena eksposur pendapatan dan biaya produksinya. 

Baca Juga: Arah Gerak Rupiah Dibayangi Ketidakpastian Konflik Timur Tengah dan Pertemuan The Fed

Sementara, ANTM relatif lebih defensif berkat diversifikasi bisnis, sedangkan MDKA juga dipengaruhi kinerja tembaga, nikel, dan proyek emas. Dus, penurunan harga saham tidak selalu mencerminkan pelemahan fundamental yang sama.

Cermati Fundamental Emiten

Nafan menyarankan investor sebaiknya tidak hanya menjadikan penurunan harga emas sebagai dasar keputusan investasi, tetapi juga mencermati biaya produksi per ons, tren volume produksi, rasio utang, arus kas operasional, dan valuasi saham. 

Dalam kondisi volatilitas tinggi, investor perlu menerapkan strategi pembelian secara bertahap, menghindari keputusan karena fear of missing out (FOMO), serta menyesuaikan porsi investasi dengan profil risiko masing-masing. 

"Koreksi harga emas dapat menjadi peluang akumulasi apabila prospek jangka panjang masih terjaga dan valuasi emiten sudah menarik, tetapi investor tetap perlu mewaspadai risiko penurunan harga lebih lanjut," ucap Nafan.

Adapun Elandry merekomendasikan Investor tidak terburu-buru membeli saat harga saham terkoreksi. Fokus pada valuasi, biaya produksi, arus kas, dan prospek volume produksi.

ANTM dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang lebih terdiversifikasi, sementara MDKA cocok bagi investor dengan toleransi risiko lebih tinggi. Dalam kondisi volatil, strategi selektif dan akumulasi bertahap lebih disarankan daripada mengejar rebound jangka pendek.

Baca Juga: Reksadana USD Beda Nasib, Efek Luar Negeri Cuan, Saham Domestik Tertekan

Elandry menyarankan mencermati saham ANTM dengan target harga Rp 3.300 dan menjadikannya pilihan karena bisnisnya lebih terdiversifikasi, sementara MDKA dengan target Rp 2.600 menarik untuk investor yang agresif. Di tengah volatilitas harga emas, investor disarankan melakukan akumulasi bertahap.

Sementara Nafan menyarankan akumulasi beli saham AMMN dan UNTR di target harga masing-masing Rp 28.575 dan Rp 6.425 per saham, serta add saham ANTM dengan target harga Rp 3.470 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News