Koreksi Harga Emas Hanya Sementara, Cek Prospeknya hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan tajam harga emas dunia dari puncaknya dinilai sebagai fase koreksi teknikal dan profit taking yang wajar, bukan akhir dari tren penguatan (bullish) secara struktural.

Mengutip data Trading Economics pada Rabu (30/9/2026) pukul 13.02 WIB, harga emas berada di level US$ 4.176,82 per ons troi, terkoreksi US$ 5,29 atau turun 0,13% secara harian.

Secara mingguan, harga emas melorot 2,51%, meluncur 5,88% dalam sebulan, serta terkoreksi 3,24% secara YtD, meski masih membukukan kenaikan 8,14% secara YoY.


Baca Juga: Indocement Tunggal (INTP) Gabung Anak Usaha, Ini Rinciannya

Penyebab utama dari tekanan harga emas terkini dipicu oleh kombinasi aksi profit taking serta penyesuaian ekspektasi (repricing) terhadap kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

Lonjakan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya isu Iran, kembali memicu kekhawatiran inflasi.

Hal tersebut menekan harga komoditas logam mulia ini karena mendorong penguatan Indeks Dolar AS (DXY) serta imbal hasil (yield) obligasi US Treasury.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan menjelaskan bahwa penurunan tajam emas dari kisaran US$ 4.700 menuju level US$ 4.100 merupakan reaksi wajar pasar pasca-reli yang sangat agresif.

Meski terjadi penurunan cukup dalam, arah pergerakan utama komoditas ini belum sepenuhnya berbalik arah.

"Jadi, saya belum melihat koreksi sekarang sebagai akhir dari tren emas secara struktural. Tetapi untuk kembali ke US$ 4.700 bahkan US$ 4.800, emas membutuhkan perubahan yang jelas pada ekspektasi suku bunga, yield dan dolar AS," ujar Brahmantya kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).   

Baca Juga: ASGR Segera Tebar Dividen Interim Jumbo, Intip Profil hingga Kinerja Terkininya

Menurut Brahmantya, skenario dasar (base case) pergerakan harga emas pada akhir 2026 berada di rentang US$ 4.300 hingga US$ 4.600 per ons troi.

Sementara dalam skenario bullish, harga berpotensi menembus US$ 4.600–US$ 4.800 apabila inflasi AS mereda dan ekspektasi pengetatan suku bunga berkurang.

Sebaliknya, skenario bearish berada di area US$ 3.850–US$ 4.100 jika inflasi kembali melonjak dan The Fed melanjutkan menaikkan suku bunga.   

Senada, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono, menilai status emas sebagai aset safe haven tidak memudar, melainkan sedang mengalami konsolidasi akibat dominasi penguatan greenback.

Efek pengetatan moneter agresif dari The Fed secara perlahan mulai direspons oleh pelaku pasar.   

"Memasuki kuartal IV-2026, kita memandang bahwa tren koreksi atau konsolidasi emas berpotensi mulai mereda dan membuka peluang bagi pemulihan bertahap (rebound)," kata Wahyu.   

Baca Juga: Aturan Baru ESDM Batasi Kontraktor Afiliasi, Cermati Emiten yang Terdampak

Wahyu menambahkan bahwa dukungan struktural seperti aksi borong emas oleh bank-bank sentral dunia, terutama People's Bank of China (PBOC), serta ketidakpastian geopolitik global tetap memberikan batas bawah (price floor) yang kokoh bagi harga emas.

Oleh karena itu, investor jangka panjang disarankan untuk memanfaatkan momentum koreksi ini untuk akumulasi bertahap dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA).  

Secara konsensus, Wahyu Laksono memproyeksikan harga emas spot (XAUUSD) bergerak di rentang US$ 4.300 hingga US$ 5.000 per ons troi menjelang penutupan tahun 2026.

Dalam skenario dasar (base case), emas diperkirakan berada di sekitar level US$ 4.320 per troy ounce.

Sementara itu, target skenario optimis (bull case) berpeluang menguji rentang US$ 4.500 hingga US$ 4.650, bahkan hingga batas atas konsensus di US$ 4.800–US$ 4.900 per ons troi jika ekspektasi pelonggaran moneter The Fed terwujud.

Adapun batas risiko bawah atau skenario bearish diperkirakan tertahan di area penyangga kuat pada kisaran US$ 3.500 hingga US$ 4.000 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News