Koreksi Kripto Berlanjut, Bitcoin Tetap Menarik bagi Investor Jangka Panjang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja aset kripto masih tertinggal dibandingkan sejumlah instrumen investasi lain sepanjang tahun ini. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, sementara pasar kripto masih dibayangi aksi ambil untung dan tingginya volatilitas.

Berdasarkan data Bloomberg, Bitcoin terkoreksi 4,66% secara bulanan (month on month/MoM) pada Mei 2026. Sejak tahun berjalan hingga Mei (year to date/YtD), aset kripto terbesar di dunia tersebut telah turun 16,84%.

Tekanan yang lebih dalam terjadi pada Ethereum. Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua itu melemah 11,79% sepanjang Mei dan telah terkoreksi 32,78% sejak awal tahun.


Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.805 per Dolar AS, Ditopang Sentimen DHE dan Harga Minyak

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai kinerja kripto yang tertinggal dibandingkan aset seperti emas maupun saham dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi dan dinamika pasar.

Menurut Antony, ketidakpastian ekonomi global membuat investor lebih memilih aset defensif seperti emas. Selain itu, arah kebijakan suku bunga global yang belum sepenuhnya jelas mendorong sebagian investor memindahkan dana ke instrumen dengan risiko lebih rendah.

"Setelah reli signifikan pada periode sebelumnya, pasar kripto juga mengalami fase konsolidasi dan profit taking yang cukup wajar," ujar Antony kepada Kontan, Senin (1/6/2026).

Di sisi lain, pasar saham tertentu masih mendapat dukungan dari pertumbuhan sektor teknologi dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sementara, emas diuntungkan oleh meningkatnya permintaan aset safe haven.

Antony melihat koreksi Ethereum yang lebih dalam dibandingkan Bitcoin juga mencerminkan kecenderungan investor untuk lebih selektif dalam memilih aset kripto. 

Dalam beberapa bulan terakhir, investor lebih banyak mengarahkan dana ke Bitcoin yang dinilai memiliki profil risiko relatif lebih rendah dibandingkan aset kripto lainnya.

Baca Juga: IHSG Masih Terpuruk pada Mei 2026, Ini Sektor yang Masih Menarik Dilirik Investor

Menurut dia, posisi Bitcoin semakin kuat berkat likuiditas yang besar, adopsi institusional yang terus meningkat, serta statusnya yang semakin diterima sebagai digital gold.

Meski demikian, Antony menegaskan bahwa pelemahan Ethereum tidak serta-merta menunjukkan menurunnya minat terhadap ekosistem blockchain tersebut.

"Investor saat ini cenderung lebih selektif dan fokus pada aset yang memiliki narasi paling kuat di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih," katanya.

Lebih lanjut, Antony menilai pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda pembentukan fase akumulasi setelah mengalami koreksi dalam beberapa bulan terakhir. Ia melihat investor jangka panjang mulai memanfaatkan penurunan harga untuk menambah kepemilikan aset secara bertahap.

Namun, ia mengingatkan bahwa risiko volatilitas masih tinggi mengingat pasar kripto sangat sensitif terhadap perkembangan makroekonomi global, kebijakan moneter, maupun sentimen di pasar keuangan.

"Kami melihat fase akumulasi mulai terbentuk, tetapi potensi fluktuasi jangka pendek masih perlu diantisipasi," kata Antony.

Untuk prospek ke depan, Antony tetap optimistis terhadap Bitcoin maupun Ethereum. Bitcoin dinilai masih ditopang oleh meningkatnya adopsi institusional, keterbatasan pasokan pasca-halving, dan perannya sebagai aset penyimpan nilai digital.

Sementara itu, Ethereum masih memegang peran penting sebagai infrastruktur utama berbagai aktivitas blockchain, mulai dari tokenisasi aset, decentralized finance (DeFi), hingga aplikasi berbasis smart contract.

Dengan asumsi tidak terjadi gejolak besar pada perekonomian global, Antony memperkirakan Bitcoin berpotensi bergerak pada kisaran US$ 65.000 hingga US$ 90.000 pada kuartal III-2026. Adapun Ethereum diproyeksikan berada di rentang US$ 1.800 hingga US$ 3.000.

Di tengah pelemahan pasar, Antony juga melihat investor institusi belum meninggalkan aset kripto. Menurutnya, yang terjadi saat ini lebih berupa penyesuaian strategi investasi dan pengelolaan risiko.

Banyak investor institusi memilih meningkatkan eksposur pada aset yang memiliki likuiditas tinggi dan rekam jejak yang lebih kuat, terutama Bitcoin. Bahkan, sebagian institusi memanfaatkan koreksi harga saat ini untuk melakukan akumulasi secara bertahap.

"Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap prospek jangka panjang industri aset kripto masih cukup terjaga, meskipun dalam jangka pendek sentimen pasar masih menghadapi berbagai tantangan," tutup Antony.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News