Korporasi Didorong Adopsi CBR Mendukung UMKM, Wismilak Sudah Mulai Lebih Dulu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong perusahaan-perusahaan besar mengubah cara mereka mendukung pelaku UMKM. Pola bantuan yang selama ini didominasi program Corporate Social Responsibility (CSR) diharapkan bergeser menjadi Corporate Business Responsibility (CBR).

Berbeda dengan CSR yang umumnya berorientasi pada kegiatan sosial, CBR menitikberatkan pada pembinaan, pendampingan, serta pengembangan kapasitas pelaku UMKM agar mampu membangun usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman menilai, konsep CSR yang telah lama dijalankan korporasi belum mampu melahirkan lebih banyak pengusaha sukses atau menciptakan kelas wirausaha baru.


"Pada akhirnya, sesuatu yang sifatnya sosial tidak akan mampu membangun kemandirian dan daya juang. Program sosial hanya membuat orang-orang tangannya tetap di bawah," ujar Maman, Kamis (9/7/2026).

Menurut Maman, pendekatan CBR menggeser fokus dari sekadar memberi bantuan menjadi membangun kemampuan. Melalui konsep ini, perusahaan didorong menjadi mitra pengembangan bisnis bagi UMKM, mulai dari memberikan pelatihan, pendampingan, coaching, hingga membuka akses terhadap jaringan usaha dan pasar.

Baca Juga: Pendampingan Jadi Kunci Pengembangan UMKM Berbasis Komoditas Lokal

Ia mencontohkan, satu perusahaan atau grup usaha besar dapat menyelenggarakan kompetisi bagi pelaku UMKM. Peserta terbaik tidak hanya memperoleh uang, tetapi juga kesempatan mengikuti program coaching, mendapatkan pendampingan langsung dari para praktisi bisnis, berbagi pengalaman, motivasi, hingga akses yang dapat mempercepat pertumbuhan usaha mereka.

Menurut Maman, dengan cara seperti ini, yang dibangun bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan kapasitas dan mentalitas pelaku usaha agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Wismilak Group merupakan satu dari segelintir perusahaan besar yang sudah menerapkan konsep CBR dalam mendukung terciptanya pelaku-pelaku usaha baru yang mandiri dan berdaya saing di Tanah Air. Perusahaan ini melalui sudah belasan tahun menjalankan konsep CBR lewat program Diplomat Success Challenge (DSC). 

DSC merupakan program kompetisi kewirausahaan bagi generasi muda Indonesia yang diinisiasi lewat Wismilak Foundation. Program ini dijalankan setiap tahun sejak 2009.

Luncurkan SDC ke-17

Pada tahun 2026, Wismilak Group resmi meluncurkan program DSC season ke-17 pada Kamis (9/7/2026). Mengusung  tema Founders of Indonesia, program ini  bertransformasi dengan menghadirkan  Founders' Arena, sebuah evolusi dari kompetisi bisnis menjadi ekosistem kewirausahaan yang lebih terbuka, inklusif, dan kolaboratif. 

Pendaftaran DSC Season 17 telah dibuka hingga 9 Oktober 2026.  Para entrepreneur dari seluruh Indonesia dapat mendaftarkan ide bisnis maupun usaha yang telah berjalan melalui www.foundersarena.id untuk bergabung dalam ekosistem Founders' Arena sekaligus memperebutkan total dana hibah senilai Rp 2,5 miliar.

Transformasi DSC hadir di tengah kebutuhan Indonesia akan lebih banyak entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada Season 16, DSC mencatat lebih dari 40.000 pendaftar dan telah membangun jaringan alumni Diplomat Entrepreneur Network (DEN) selama 16 tahun.

Peluncuran DSC Season 17 juga bertepatan dengan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (year on year/yoy) pada Triwulan I 2026. Namun, rasio wirausaha mapan Indonesia hingga Februari 2026 baru mencapai 3,43% dari total angkatan kerja, masih tertinggal dibandingkan Malaysia (4,74%), Thailand (4%), dan Singapura (8,76%).

Baca Juga: Pelatihan Pengelolaan Usaha Diharapkan Mampu Mendorong Daya Saing UMKM

Setiap tahun sekitar 2,9 juta penduduk usia kerja memasuki pasar kerja. Sementara itu, 65,5 juta UMKM telah menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional dan berkontribusi sekitar 60% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kondisi ini menunjukkan bahwa lahirnya entrepreneur baru menjadi kebutuhan strategis bagi Indonesia.

Ronald Walla, President Director PT Wismilak Inti Makmur mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak founder yang mampu menciptakan solusi sekaligus lapangan kerja. “Karena itu, setelah 17 tahun, DSC berevolusi menjadi Founders' Arena, sebuah ekosistem yang lebih terbuka, inklusif, dan tetap berlandaskan prinsip 3P: Paham, Piawai, dan Persona," ujar Ronald. 

Ketua Dewan Komisioner DSC, Surjanto Yasaputera, menambahkan bahwa pengalaman selama 17 tahun menunjukkan founder terbaik bukanlah yang paling hebat secara individual, melainkan yang paling mampu menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Menurutnya, ekosistem Founders' Arena diharapkan menjadi platform kolaboratif yang mampu memberikan dampak positif bagi iklim dunia usaha Indonesia.

Baca Juga: Permen UMKM Terbit, Platform E-Commerce Wajib Transparan Soal Biaya ke Seller UMK

Menteri Maman  mengapresiasi komitmen Wismilak Group yang selama 17 tahun secara konsisten menjalankan program Diplomat Success Challenge (DSC) untuk melahirkan entrepreneur baru di Indonesia. Menurutnya, Kementerian UMKM akan terus mendukung program tersebut.

"Kami dari Kementerian UMKM wajib hadir bersama-sama mendukung dan menyukseskan semakin banyak program seperti ini agar ditiru oleh grup-grup usaha lainnya untuk menghasilkan entrepreneur-entrepreneur baru di tanah air," kata Maman. 

Maman mengatakan, semakin banyak perusahaan yang terlibat dalam membina calon wirausaha, semakin besar peluang lahirnya pelaku usaha baru yang mampu menciptakan lapangan kerja.

Ia menambahkan, setiap entrepreneur yang berhasil mengembangkan usahanya berpotensi menyerap lima hingga 10 tenaga kerja. Karena itu, semakin banyak entrepreneur yang lahir dan berkembang, semakin besar pula kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News