Korsel Kecam Serangan Kapal di Selat Hormuz, Siap Tindak Lanjuti Hasil Investigasi



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Pemerintah Korea Selatan melalui Kantor Kepresidenan Blue House pada Senin mengecam keras serangan terhadap sebuah kapal kargo milik perusahaan pelayaran Korea yang terjadi di Selat Hormuz pada awal bulan ini. Pemerintah menyatakan akan mengambil langkah lanjutan setelah sumber serangan berhasil diidentifikasi.

Seorang pejabat Blue House mengatakan bahwa para ahli telah melakukan analisis forensik awal terhadap kerusakan pada bagian buritan kapal. Insiden tersebut diketahui memicu kebakaran di ruang mesin kapal.

Kapal bernama Namu yang dioperasikan oleh HMM Co. dilaporkan tidak melanggar aturan pelayaran apa pun pada saat kejadian, yang terjadi di perairan lepas Uni Emirat Arab. Pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan tindakan terhadap kapal komersial yang tidak dapat dibenarkan.


“Kami mengutuk hal ini dengan sekeras-kerasnya,” ujar penasihat keamanan nasional presiden Korea Selatan, Wi Sung-lac, dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa kerusakan kapal telah teridentifikasi melalui pemeriksaan forensik oleh pejabat Korea Selatan dan para ahli di sebuah pelabuhan di Dubai.

Baca Juga: Kapal LNG Qatar Kedua Lintasi Selat Hormuz Menuju Pakistan di Tengah Konflik Iran

Menurut pejabat Blue House, sebagian kerusakan sebelumnya tidak terdeteksi karena lokasinya berada di bagian bawah buritan kapal.

Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai peran Iran dalam insiden tersebut. Pemerintah Iran sebelumnya telah membantah keterlibatan dalam serangan yang disebut melibatkan benturan keras pada sisi kapal.

Pada hari yang sama, Kedutaan Besar Iran di Korea Selatan menyatakan tidak memiliki posisi resmi terkait insiden tersebut, namun akan menyampaikan pernyataan lebih lanjut jika terdapat perkembangan atau keputusan resmi.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan tak lama setelah insiden terjadi bahwa Iran telah menembaki kapal Korea Selatan tersebut, serta mendesak Seoul untuk bergabung dalam upaya yang dipimpin AS guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.