KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Selatan telah memilih proyek pembangkit listrik tenaga gas di Texas sebagai proyek pertama yang akan dijalankan Seoul dalam kesepakatan investasi senilai US$ 350 miliar dengan Washington, serta sedang mempertimbangkan dua proyek lainnya. Mengutip
Reuters, Selasa (2/9/2026), Menteri Perindustrian Korea Selatan, Kim Jung-kwan, memaparkan rencana tersebut kepada para anggota parlemen dalam pertemuan tertutup pada hari Selasa, sekaligus menyampaikan rincian mengenai dua proyek lain yang sedang dipertimbangkan. Anggota parlemen Chung Chin-ook mengatakan kepada wartawan di sela-sela pertemuan bahwa pembangkit listrik di Texas merupakan proyek pertama yang dipastikan, sementara Seoul juga sedang membahas investasi pada dua reaktor nuklir APR1400 rancangan Korea Selatan sebagai bagian dari proyek investasi nuklir yang lebih luas.
Baca Juga: Harga CPO Diproyeksi Tetap di Atas US$ 1,154 per Ton hingga Akhir 2026 Chung mengatakan, Korea Selatan juga sedang membahas pengambilan saham sebesar 5% hingga 10% di perusahaan teknologi nuklir AS, Westinghouse, namun belum ada keputusan mengenai partisipasi dalam proyek gas alam cair (LNG) Alaska yang telah lama tertunda. Sesi penjelasan ini merupakan langkah penting seiring upaya Seoul dan Washington untuk merampungkan implementasi kesepakatan perdagangan yang disepakati pada bulan November tahun lalu, yang memangkas tarif AS untuk produk-produk Korea Selatan menjadi 15%. Komitmen investasi tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan perdagangan tahun lalu, di mana Seoul berjanji untuk berinvestasi di sektor manufaktur AS sebagai imbalan atas penurunan tarif impor dari Korea Selatan.
Ancaman Trump
Dari total paket senilai US$ 350 miliar tersebut, sebesar US$ 150 miliar telah dialokasikan untuk industri pembuatan kapal. Rincian untuk sisa investasi strategis senilai US$ 200 miliar belum diputuskan secara final. Para pejabat AS mengkritik Seoul karena lambat dalam melaksanakan kesepakatan tersebut, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Jepang. Presiden AS Donald Trump sempat mengancam Korea Selatan dengan tarif yang lebih tinggi awal tahun ini terkait lambatnya laju pelaksanaan kesepakatan itu. Presiden Lee Jae-myung mengatakan pada hari Jumat bahwa kelayakan komersial telah menjadi kendala utama saat para negosiator beralih dari kesepakatan umum ke perincian proyek-proyek individual. Lee mengatakan Seoul berupaya memastikan kesepakatan tersebut mencakup investasi yang "wajar secara komersial," di tengah pertanyaan mengenai imbal hasil, pembagian keuntungan, dan penanganan kerugian dari proyek-proyek yang tidak menguntungkan.
Baca Juga: Daya Tarik Sydney Bagi Investor Indonesia dinilai Tetap Kuat Saat ini, pemerintah Korea Selatan hanya perlu memberikan penjelasan kepada anggota parlemen mengenai proyek-proyek yang dianggap wajar secara komersial, alih-alih meminta persetujuan resmi dari parlemen. Anggota parlemen dari pihak oposisi menuntut pengawasan parlemen yang lebih ketat, seraya memperingatkan bahwa Seoul bisa terpapar risiko keuangan yang tidak proporsional dalam proyek-proyek energi. Menurut rancangan undang-undang Korea Selatan tentang investasi strategis AS, proyek-proyek yang tidak layak secara komersial—namun ingin dijalankan pemerintah demi kepentingan keamanan nasional atau stabilitas rantai pasok—akan memerlukan persetujuan parlemen.
Proyek Energi dan Nuklir
Menurut laporan media dan keterangan seorang anggota parlemen lainnya, proyek pembangkit listrik tenaga gas berkapasitas 6,3 gigawatt di Encinal, Texas, bernilai lebih dari US$ 20 miliar dan ditujukan untuk memasok listrik ke pusat data kecerdasan buatan (AI) serta pabrik cip. Seoul dan Washington juga telah membahas pembangunan hingga delapan reaktor nuklir besar di Amerika Serikat; dua di antaranya akan dibangun menggunakan model APR1400 buatan Korea, sementara enam lainnya akan menggunakan desain AP1000 dari Westinghouse, menurut sumber yang mengetahui perundingan tersebut.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Selasa (22/9), Saham AI Kembali Reli dan Dolar AS Makin Perkasa Sumber lain yang mengetahui pembahasan tersebut juga menyebutkan bahwa Korea Selatan berupaya membatasi investasi tahunan sebesar US$20 miliar guna meminimalkan dampak terhadap pasar mata uang lokal. Menurut para pejabat dan laporan media, sesi penjelasan kepada komite perdagangan Majelis Nasional ditunda pekan lalu sementara para negosiator berupaya menjembatani perbedaan posisi antara AS dan Korea Selatan. Lee bertolak ke Amerika Serikat pekan ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB, di mana ia berupaya mengadakan pertemuan dengan Trump dan para pemimpin lainnya.