KONTAN.CO.ID - Pasar saham negara berkembang di Asia merosot ke level terendah dalam dua bulan pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Aksi jual saham produsen cip Korea Selatan membebani bursa regional di tengah kekhawatiran terhadap persaingan dari China, keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI), serta tingginya biaya pinjaman. Melansir
Reuters, indeks MSCI yang mengukur kinerja saham negara berkembang di Asia anjlok hampir 3,5% ke level terendah sejak awal Agustus. Sementara itu, indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun hampir 3% ke posisi terendah sejak akhir Juli.
Baca Juga: Rusia Klaim Serang Kapal Pengangkut Barang Militer ke Ukraina Tekanan terutama datang dari Korea Selatan, yang memiliki bobot besar dalam indeks saham negara berkembang Asia. Samsung Electronics dan SK Hynix secara bersama-sama menyumbang sekitar 16% dari indeks MSCI emerging Asia. Indeks Kospi ditutup anjlok 5,5%, menjadi penutupan terlemah sejak 30 Juli. Dengan penurunan selama lima sesi berturut-turut, Kospi telah kehilangan hampir 14%. Ini menjadi rentetan pelemahan terpanjang sejak September 2024. Dalam perdagangan intraday, Kospi sempat merosot 7,4% hingga memicu mekanisme penghentian sementara perdagangan program atau sidecar. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi lebih kecil, Kosdaq, ditutup turun 1,4%. Saham Samsung Electronics berhasil memangkas sebagian kerugiannya, tetapi tetap ditutup turun 7,4%. Adapun saham SK Hynix anjlok 10%.
Baca Juga: Kim Jong Un Pamerkan Rudal Hwasong-20, Mampu Jangkau Amerika Serikat Pelemahan saham semikonduktor Asia mengikuti tekanan di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Saham produsen cip memori asal Amerika Serikat (AS), Micron Technology, turun hampir 4%. Sentimen pasar memburuk setelah laporan mengenai kemajuan produsen cip memori China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), dalam mengembangkan cip memori server baru. Perkembangan ini memicu kekhawatiran bahwa perusahaan semikonduktor China mampu mempersempit kesenjangan teknologi dengan para pesaing globalnya lebih cepat dari perkiraan. Kieron Poon, direktur investasi ekuitas Asia di Aberdeen Investments, mengatakan perkembangan tersebut mengindikasikan industri memori China daratan mengejar ketertinggalan teknologi lebih cepat dari perkiraan pasar. "Hal ini memicu aksi jual luas pada saham-saham terkait memori di Jepang, Korea, Taiwan, dan AS," kata Poon.
Baca Juga: Produsen Mobil Eropa Hidupkan Model Legendaris untuk Lawan Mobil Listrik China Namun, sejumlah pelaku pasar menilai reaksi investor terlalu berlebihan. Aadil Ebrahim, kepala grup ekuitas di Klay Group, mengatakan kemajuan CXMT belum terjadi pada segmen cip memori dengan bandwidth tinggi atau high-bandwidth memory (HBM), yang masih menjadi salah satu keunggulan produsen Korea Selatan dan AS. "Pertanyaan sebenarnya adalah apakah CXMT mampu memproduksi cip tersebut dalam skala besar dengan tingkat hasil produksi yang sebanding dengan produsen memori mapan," ujar Ebrahim. Di Taiwan, indeks saham yang didominasi perusahaan teknologi turun 2% ke level terendah sejak akhir Juli. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) terkoreksi hampir 2% menjelang pengumuman kinerja keuangan perusahaan pada akhir pekan ini. Tekanan juga terlihat di sejumlah bursa Asia Tenggara. Indeks saham Indonesia turun 0,4%, sedangkan saham Filipina melemah 0,9%. Sebaliknya, bursa Singapura menguat 0,6% menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral pada Rabu (14/10/2026). Pasar secara luas memperkirakan bank sentral Singapura akan memperketat kebijakan moneternya.
Baca Juga: Bandara Riyadh Ditutup hingga 17 Oktober, Serangan Houthi Lumpuhkan Penerbangan Di pasar valuta asing, won Korea Selatan melemah hingga 0,8%, sehari setelah mencapai level tertinggi dalam dua tahun. Dolar Taiwan juga turun hampir 1% menjadi 32,21 per dolar AS, level terlemah sejak pertengahan Agustus. Sebaliknya, rupee India menguat ke level tertinggi dalam satu bulan di 95,073 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi setelah bank sentral India mengeluarkan langkah baru untuk meredakan tekanan terhadap mata uangnya, disertai kemungkinan intervensi di pasar valuta asing. Sementara itu, pasar Thailand tutup karena hari libur nasional.