KOSPI Masuk Bear Market, Reli Saham AI Korea Selatan Mulai Retak



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Pasar saham Korea Selatan menghadapi gejolak besar setelah indeks utama KOSPI terperosok ke zona bearish hanya beberapa pekan setelah mencetak rekor tertinggi. Meski telah kehilangan seperempat nilainya sejak akhir Juni 2026, KOSPI masih tercatat sebagai salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik di dunia sepanjang tahun ini.

Ketika Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menetapkan target indeks KOSPI mencapai 5.000 poin pada tahun lalu, target tersebut sempat dianggap terlalu ambisius. Pada saat itu, pasar saham Korea Selatan harus melonjak hampir dua kali lipat dari level yang relatif stagnan.

Namun, hanya dalam waktu sekitar satu tahun, KOSPI justru melesat menembus level 8.000 poin berkat reli yang didorong oleh ledakan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Meski demikian, Lee tetap menilai saham-saham Korea Selatan masih berada pada valuasi yang murah.


Kini, reli spektakuler tersebut berubah menjadi salah satu pembalikan arah paling dramatis di pasar keuangan. KOSPI telah merosot sekitar 25% dari rekor penutupan tertingginya di level 9.114,55 poin dan secara resmi memasuki pasar bearish sejak akhir Juni.

Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), indeks KOSPI diperdagangkan di bawah level 7.000 poin. Meski demikian, indeks tersebut masih membukukan kenaikan sekitar 60% sepanjang tahun ini, jauh melampaui kenaikan sekitar 10% pada indeks saham global MSCI.

Baca Juga: New York, Negara Bagian AS Pertama yang Berlakukan Moratorium Pusat Data

Pergerakan ekstrem tersebut mencerminkan besarnya peluang sekaligus risiko dari ledakan saham berbasis AI di Korea Selatan.

Pertumbuhan laba yang sangat kuat di raksasa semikonduktor seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masih menjadi fondasi utama optimisme investor. Namun, reli pasar yang didorong oleh utang margin, terkonsentrasi pada dua saham utama, serta semakin terlepas dari kondisi ekonomi riil membuat regulator dan pelaku pasar mulai waspada.

"Ini adalah peringatan keras," ujar Francis Tan, Kepala Strategi Asia di Indosuez Wealth Management, Singapura.

"Baik bagi mereka yang serakah maupun yang takut. Bagi mereka yang selama ini khawatir, ini bisa menjadi momen yang baik untuk masuk ke pasar. Namun, bagi investor yang sudah memiliki eksposur besar, kondisi ini mengingatkan bahwa investasi pada saham chip merupakan permainan yang sangat fluktuatif," katanya.

Investor Ritel Terjebak Volatilitas

Salah satu investor ritel, Lee Seung-ho, mahasiswa berusia 24 tahun, merasakan langsung dampak gejolak tersebut. Ia sempat menggunakan pinjaman margin untuk mengubah modal 10 juta won hingga 20 juta won atau sekitar US$ 7.000–US$ 13.000 menjadi 300 juta won selama reli berlangsung.

Namun, keuntungan besar itu kemudian lenyap seiring koreksi tajam pasar.

"Seperti saat naik secara eksplosif, pasar juga turun secara eksplosif," kata Lee.

"Saya pikir orang-orang seperti ibu dan nenek saya, meskipun mengatakan Samsung adalah perusahaan nomor satu di Korea Selatan, belum sepenuhnya memahami risiko investasi berbasis utang. Mereka hanya memikirkan potensi keuntungan yang bisa meningkat dua kali lebih cepat, tanpa mempertimbangkan risiko kerugian yang juga bisa berlipat ganda," tambahnya.

Saham Teknologi Jadi Sumber Gejolak

Fenomena euforia pasar terlihat jelas pada saham SK Hynix. Didukung derasnya aliran dana pinjaman, harga saham perusahaan tersebut sempat melonjak tiga kali lipat dan membantu mencatatkan pencatatan saham perusahaan asing terbesar di Amerika Serikat senilai US$ 26,5 miliar.

Baca Juga: Jelang Semifinal Piala Dunia, Prancis Hormati Kekuatan Spanyol Tanpa Rasa Takut

Saham tersebut bahkan sempat dibuka 14% di atas harga penawaran.

Namun, volatilitas yang sangat tinggi juga menghantam saham tersebut. Pada perdagangan Senin (13/7), saham SK Hynix anjlok 14% di Seoul. Sementara itu, dana kelolaan berbasis exchange traded fund (ETF) dengan leverage dua kali yang mengikuti pergerakan saham tersebut merosot lebih dari 30% di Hong Kong.

Gelombang aksi jual ini memperbesar tekanan di pasar dan menyeret indeks KOSPI turun hingga 8%.

Saat ini, Samsung Electronics dan SK Hynix menyumbang lebih dari separuh kapitalisasi indeks KOSPI. Artinya, pergerakan tajam pada salah satu saham dapat memberikan dampak besar terhadap keseluruhan pasar.

"Pengaruh produk investasi leverage berbasis saham tunggal terhadap indeks jauh lebih besar dibandingkan negara lain karena porsi Samsung dan SK Hynix di KOSPI sangat dominan," ujar analis Shinhan Securities, Park Woo-yeol.

Sebagai perbandingan, Nvidia yang merupakan salah satu saham terbesar di Amerika Serikat hanya menyumbang sekitar 7% terhadap indeks S&P 500.

Indeks volatilitas KOSPI tercatat berada di level 82,07 pada Selasa (14/7/2026), setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi 97,99 pada 29 Juni 2026. Angka ini melonjak tajam dibandingkan level 28,85 pada akhir 2025.

Otoritas Jasa Keuangan Korea Selatan (Financial Supervisory Service/FSS) menyatakan akan memantau berbagai produk investasi tersebut dan menyelidiki praktik pemasaran yang dinilai berlebihan. Bank Sentral Korea (Bank of Korea) juga mengawasi potensi distorsi pasar dan peningkatan volatilitas akibat ETF berbasis saham tunggal.

Investor Asing Tarik Dana Jumbo

Di tengah volatilitas tinggi, investor asing tercatat menarik dana dalam jumlah besar dari pasar saham Korea Selatan. Sepanjang tahun ini, arus keluar modal asing mencapai hampir US$ 110 miliar.

Baca Juga: Harga Tembaga Naik Selasa (14/7) Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan di Selat Hormuz

Penarikan dana tersebut sebagian besar dilakukan untuk menyesuaikan alokasi portofolio global agar tidak terlalu terpapar pada lonjakan nilai pasar Korea Selatan.

Akibatnya, investor ritel domestik kini menjadi penopang utama pasar. Pada Juli 2026, investor ritel membeli saham KOSPI senilai 13,2 triliun won, setelah sebelumnya mengakumulasi pembelian sebesar 42,4 triliun won pada Juni.

Sementara itu, nilai investasi berbasis pinjaman margin pada saham KOSPI mencapai 28 triliun won per 14 Juli, sedikit di bawah rekor tertinggi 29,8 triliun won yang tercatat pada 24 Juni.

"Korea Selatan masih menjadi posisi overweight terbesar dalam portofolio kami, tetapi saya mulai menguranginya," ujar Kepala Strategi Ekuitas CLSA, Alexander Redman.

"Yang membuat saya khawatir adalah investor ritel kini menjadi penggerak utama pasar karena mereka menggunakan utang margin dalam jumlah besar," tambahnya.

Meski harga saham Samsung Electronics dan SK Hynix telah melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini, proyeksi keuntungan kedua perusahaan meningkat sangat cepat sehingga rasio price-to-earnings (P/E) justru mengalami penurunan.

Namun, tidak semua investor tergoda untuk masuk ke pasar.

"Saya tidak suka membeli pasar yang terus naik tanpa henti, jadi saat ini saya belum melakukan apa pun," kata Jim Rogers, pendiri Quantum Fund bersama George Soros.

"Saya lebih suka berinvestasi pada aset yang sedang terpuruk dan dikelilingi pesimisme. Kondisi seperti itu belum terlihat di Korea Selatan saat ini," ujarnya.