Krakatau Steel (KRAS) Bidik Kinerja Positif di Semester I-2026, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten baja pelat merah, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mulai memetik hasil dari suntikan modal kerja yang dikucurkan Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia pada akhir 2025.

Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengungkapkan, dana sekitar Rp 5 triliun yang diterima perusahan telah memberikan dampak langsung terhadap kinerja operasional, terutama dalam pengadaan bahan baku.

Menurutnya, sebelumnya keterbatasan modal kerja membuat Krakatau Steel kesulitan bersaing karena tidak memiliki kapasitas memadai untuk membeli bahan baku.


Di sisi lain, akses pembiayaan dari perbankan juga belum sepenuhnya terbuka seiring status perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi.

Baca Juga: Laba PGAS Melonjak 45,84% pada Kuartal I-2026, Manajemen Ungkap Faktor Pendorongnya

"Mudah-mudahan di Q2 ini atau semester satu ini terus membawa kinerja positif," kata Akbar dalam Coffee Morning with CEO di Jakarta, Senin (27/4/2026).

Suntikan modal tersebut merupakan bagian dari upaya lanjutan restrukturisasi yang telah berjalan sejak 2019. Dalam proses itu, Krakatau Steel juga memperoleh dukungan signifikan dari kreditur melalui skema restrukturisasi utang, termasuk haircut hingga sekitar 80% atas pokok, bunga, dan denda.

Langkah tersebut dinilai menjadi titik balik penting untuk memulihkan kepercayaan lembaga keuangan terhadap perseroan.

Dari sisi pembiayaan, skema pendanaan dari Danantara juga memberikan keuntungan bagi Krakatau Steel karena bunga yang dikenakan relatif lebih rendah, yakni sekitar 8%. Angka ini jauh di bawah biaya pendanaan sebelumnya yang bisa mencapai 20%–25%.

Dengan struktur biaya yang lebih efisien, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan operasional sekaligus memperbaiki kinerja keuangan.

Namun demikian, Akbar mengakui tantangan masih membayangi, terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Saat ini, kebutuhan iron ore masih dipasok dari Australia, sementara produk setengah jadi seperti slab steel diimpor dari kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat Krakatau Steel rentan terhadap dinamika global, termasuk gangguan rantai pasok seperti penutupan jalur perdagangan strategis.

 
KRAS Chart by TradingView

Selain itu, penggunaan dana dari Danantara juga berada dalam pengawasan ketat. Dana tidak langsung masuk ke kas perusahaan, melainkan dikelola dengan mekanisme tertentu guna memastikan penggunaannya tepat sasaran dan akuntabel.

Sebelumnya, Krakatau Steel mengajukan kebutuhan modal kerja sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 8,3 triliun kepada Danantara untuk menopang operasional dan menjamin ketersediaan bahan baku. Namun, realisasi dilakukan secara bertahap dengan tahap awal sebesar Rp 5 triliun.

Akbar menilai langkah ini sudah cukup untuk mendorong perbaikan awal kinerja, sembari menunggu dukungan lanjutan guna memperkuat pemulihan bisnis secara berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News