KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) mendapat beban risiko baru di tengah kondisi neracanya yang mengkhawatirkan. Saham milik kelompok usaha Haji Isam di PT Jhonlin Agro Raya Tbk (
JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (
PGUN) dijaminkan kepada BMRI. Langkah ini menjadi sorotan karena nilai saham yang dijaminkan berkaitan dengan fasilitas kredit kepada perusahaan afiliasi, di tengah rencana akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (
BYAN). Riset Mirae Aset Sekuritas mengungkapkan, pada 30 September 2026, PT Eshan Agro Sentosa menjaminkan 7,99 miliar saham JARR atau setara 86,64% dari total saham beredar. Sementara itu, PT Araya Agro Lestari, PT Citra Agro Raya, dan PT Baramega Citra Mulia Persada secara bersama-sama menjaminkan 5,30 miliar saham PGUN kepada Bank Mandiri.
Baca Juga: Bank Asing Makin Mantap Kembangkan Sayap Bisnisnya di Indonesia Penjaminan tersebut dilakukan sebagai agunan fasilitas kredit yang diberikan kepada perusahaan afiliasi. Meski demikian, transaksi ini tak mengubah pengendalian atas JARR maupun PGUN. Pengungkapan penjaminan saham itu muncul pada 7 Oktober 2026, bertepatan dengan transaksi pengalihan 10,08 miliar saham BYAN atau setara 30,25% saham perusahaan di harga Rp 2.588 per saham. Nilai transaksi tersebut sesuai dengan perjanjian jual beli saham bersyarat atau
conditional share purchase agreement (CSPA) yang telah diamendemen antara keluarga Low dan PT Jhonlin Baratama. Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin memperkirakan pembelian saham BYAN tersebut berpotensi dibiayai sepenuhnya melalui utang. "Dengan asumsi tersebut, kebutuhan fasilitas pinjaman diperkirakan mencapai sekitar Rp 26,1 triliun," sebutnya dalam riset 9 Oktober 2026. Pada harga penutupan 8 Oktober 2026, nilai saham JARR dan PGUN yang dijaminkan diperkirakan mencapai Rp 73 triliun. Nilai tersebut terdiri dari saham JARR senilai Rp 24,9 triliun dan saham PGUN sebesar Rp 48,1 triliun. Dengan demikian, rasio pinjaman terhadap nilai agunan atau
loan-to-value (LTV) diperkirakan sekitar 36%, dengan cakupan agunan sebesar 2,8 kali nilai pinjaman.
Baca Juga: OJK Terus Pantau Ketat Penyelesaian Masalah Gagal Bayar Akseleran, Crowde dan KoinP2P Namun, Nurkholis menilai ruang pengaman tersebut dapat menyusut jika harga saham turun. Berdasarkan rata-rata harga saham selama 90 hari terakhir, LTV berpotensi meningkat menjadi 41%. Sementara itu, jika menggunakan harga terendah dalam periode yang sama, LTV dapat melonjak hingga 65%. Risiko lainnya berasal dari komposisi agunan yang didominasi saham PGUN, yakni sekitar 66% dari total nilai saham yang dijaminkan. Saham PGUN memiliki nilai transaksi harian di bawah Rp 1 miliar dan diperdagangkan pada valuasi sekitar 178 kali rasio harga terhadap laba atau
price to earnings ratio (PER). Ia memandang kondisi tersebut menyulitkan proses likuidasi saham dalam jumlah besar apabila debitur mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya.
Berkaca pada Kasus Bakrie 2008
Nurkholis juga mengingatkan risiko penjaminan saham dengan utang melalui kasus kelompok usaha Bakrie pada 2008. Kala itu, Bakrie & Brothers mengumumkan akuisisi saham pengendali PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan dua perusahaan afiliasinya dengan nilai Rp 48,4 triliun pada Januari 2008. Pada periode April hingga Oktober 2008, kelompok usaha tersebut dilaporkan meminjam sekitar US$ 1,2 miliar hingga US$ 1,4 miliar dengan menjaminkan saham BUMI dan perusahaan afiliasi. Nilai agunan diperkirakan mencapai sekitar US$ 6 miliar pada puncak harga saham. Dengan asumsi tersebut, LTV pada saat nilai agunan berada di puncak hanya sekitar 20%–25%, lebih rendah dibandingkan estimasi LTV penjaminan saham JARR dan PGUN saat ini yang mencapai sekitar 36%.
Baca Juga: OJK Sebut Prospek Pembiayaan Emas Multifinance Masih Positif ke Depannya Namun, penurunan harga saham membuat nilai agunan menyusut drastis. Harga saham BUMI sempat melonjak dari Rp 950 pada Januari 2008 menjadi Rp 8.750 pada Juni 2008, sebelum terkoreksi tajam seiring krisis pasar pada tahun tersebut. Pada 6 Oktober 2008, nilai saham yang dijaminkan dilaporkan hanya tersisa sekitar US$ 1,35 miliar. Kondisi tersebut mendorong LTV melampaui 100%, bahkan dengan asumsi konservatif. Sejumlah saham yang terafiliasi dengan kelompok Bakrie kemudian mengalami penghentian sementara perdagangan. Ketika perdagangan kembali dibuka pada 6 November 2008, saham BUMI menyentuh batas penurunan harga selama empat hari berturut-turut. Antrean jual pada hari pertama perdagangan kembali dilaporkan mencapai sekitar 1,9 miliar saham atau setara 10% dari saham beredar. Kreditur juga meminta penambahan agunan. Pada salah satu kreditur, jumlah saham BUMI yang dijaminkan dilaporkan meningkat dari 697 juta saham menjadi 1,3 miliar saham. Pada akhirnya, utang kelompok Bakrie dialihkan kepada Northstar, Brentwood, dan Ancora dengan imbalan saham BUMI yang dijaminkan.
Beban Neraca Bank Mandiri
Meski penjaminan saham JARR dan PGUN dilakukan kepada satu kreditur, yakni Bank Mandiri, Nurkholis menilai struktur tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko. Sebagai satu-satunya penerima agunan, menurutnya emiten bank pelat merah ini memiliki ruang untuk mengelola proses penjualan saham agar tak memicu tekanan jual yang tidak terkendali. Namun, seluruh saham pengendali yang terkait telah dijaminkan. Kondisi ini membatasi ruang penambahan agunan apabila rasio LTV meningkat. Berdasarkan simulasi sekuritas, penurunan nilai agunan sekitar 64% dapat membuat nilainya lebih rendah daripada asumsi pinjaman. Di luar transaksi tersebut, ia mempertahankan pandangan negatif terhadap prospek saham BMRI. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah likuiditas bank yang ketat.
Baca Juga: Prudential Lihat Minat Nasabah Affluent pada Produk Berbasis Valuta Asing Meningkat Rasio kredit terhadap simpanan atau
loan-to-deposit ratio (LDR) Bank Mandiri tercatat sebesar 94,4% pada delapan bulan pertama 2026. Pada saat yang sama, simpanan berjangka tumbuh agresif sebesar 48% secara tahunan (
year-on-year/yoy), yang berpotensi menambah tekanan terhadap biaya dana. Tekanan likuiditas tersebut juga dapat mempengaruhi ruang permodalan bank. Rasio kecukupan modal atau
capital adequacy ratio (CAR) Bank Mandiri secara bank only turun menjadi 17,5% pada semester I-2026. Bank kemudian menerbitkan instrumen tambahan modal inti atau
additional tier 1 (AT1) yang setara sekitar 0,9 poin persentase dari aset tertimbang menurut risiko (ATMR) pada September 2026.
Pembayaran dividen interim pada 2 Oktober 2026 juga dinilai berpotensi membuat bank lebih berhati-hati dalam menentukan kebijakan dividen dan ekspansi kredit ke depan. Selain itu, Mirae Asset Sekuritas menyoroti potensi kenaikan biaya kredit atau
cost of credit (CoC) akibat masalah kualitas aset di sektor konstruksi BUMN. CoC Bank Mandiri yang berada di bawah 60 basis poin (bps) secara tahunan pada kuartal I-2026 telah meningkat hingga masuk ke kisaran panduan setahun penuh 2026 sebesar 60–80 bps pada semester I-2026. Sekuritas menilai ruang penurunan CoC masih terbatas, mengingat rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah atau
loan loss reserve (LLR) Bank Mandiri berada di sekitar 2,4%, terendah sepanjang sejarah bank tersebut dan di bawah bank-bank besar lainnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News