KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
PT Bank Amar Indonesia Tbk masih mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid di tengah perlambatan industri perbankan. Hingga Februari 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit industri perbankan tumbuh 9,37% secara tahunan (year on year/yoy). Dalam periode yang sama, kredit Amar Bank tumbuh 31,31% secara tahunan menjadi Rp 4,05 triliun. SVP Finance Amar Bank David Wirawan mengatakan, pertumbuhan kredit perseroan ditopang oleh fokus pada segmen ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang permintaannya masih kuat.
“Di tengah perlambatan industri, Amar Bank tetap mencatatkan pertumbuhan kredit yang positif karena kami fokus pada segmen ritel dan UMKM yang kebutuhannya masih terus tumbuh,” ujar David kepada Kontan, pekan lalu.
Baca Juga: OJK Beberkan Tantangan Dana Pensiun Terapkan Skema Life Cycled Fund Ia menambahkan, model bisnis digital berbasis
artificial intelligence (AI) dan data analytics turut menjadi kunci dalam mendorong penyaluran kredit yang lebih cepat, efisien, dan tepat sasaran. Per Desember 2025, kredit bruto Amar Bank tercatat tumbuh 35,7% yoy menjadi Rp 3,98 triliun. Lebih dari 50% portofolio kredit tersebut disalurkan ke sektor UMKM. Memasuki 2026, kinerja tersebut berlanjut. Menurut David, pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi pinjaman digital melalui platform Tunaiku dan Amar Bank Bisnis, serta tingginya permintaan pembiayaan dari masyarakat, khususnya segmen yang belum terlayani perbankan (unbanked). Di sisi lain, Amar Bank tetap mewaspadai risiko perlambatan ekonomi yang berpotensi menekan kualitas kredit. Oleh karena itu, perseroan menekankan pentingnya menjaga kualitas aset di tengah ekspansi. “Amar Bank tetap fokus bukan hanya pada pertumbuhan, tetapi juga pada menjaga kualitas aset yang sehat,” jelasnya. Untuk mengantisipasi risiko, bank memperkuat seluruh siklus manajemen risiko, mulai dari seleksi nasabah, underwriting, pemantauan portofolio secara
real-time, hingga proses penagihan (
collection). Optimalisasi data analytics dan
machine learning juga dilakukan agar strategi tetap adaptif terhadap perubahan kondisi pasar. David menambahkan, pengalaman Amar Bank yang telah lebih dari satu dekade juga menjadi bekal dalam menghadapi berbagai siklus ekonomi. Ke depan, Amar Bank masih optimistis penyaluran kredit akan tumbuh hingga pertengahan tahun 2026, meski tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. “Permintaan di segmen ritel dan UMKM masih kuat dan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan Amar Bank,” katanya.
Sejumlah katalis yang diperhatikan antara lain permintaan nasabah, peningkatan adopsi layanan digital, perluasan akses pembiayaan UMKM, serta kolaborasi dalam ekosistem. Namun, bank tetap mencermati kondisi makroekonomi dan kualitas portofolio agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan. “Fokusnya bukan semata-mata tumbuh cepat, melainkan tumbuh secara disiplin dengan tetap menjaga manajemen risiko yang kuat,” tutup David.
Baca Juga: Prudential Beberkan Penyebab Inflasi Medis, dari Gaya Hidup hingga Overutilisasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News