KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspansi kredit bank-bank pelat merah yang melaju jauh lebih cepat dibandingkan industri mulai menjadi perhatian. S&P Global Ratings menilai pertumbuhan kredit yang didorong pemerintah berpotensi meningkatkan risiko kualitas aset sekaligus menekan kinerja laba bank BUMN. Dalam laporan yang ditulis analis S&P Global Ratings, Nikita Anand dikutip
Bloomberg, pertumbuhan kredit bank-bank BUMN terjadi di tengah kenaikan biaya pendanaan. Kondisi tersebut diperkirakan akan menekan net interest margin (NIM) bank BUMN sebesar sekitar 10 basis poin (bps) hingga 20 bps dalam 12-18 bulan ke depan. S&P mencatat, tiga bank BUMN yang mendapat pemeringkatan dari S&P, yakni PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (
BBNI), mencatat pertumbuhan kredit rata-rata sebesar 26% secara tahunan per Juni 2026.
Baca Juga: AAUI Nilai Program Penjaminan Polis Dapat Berdampak Positif bagi Perasuransian Pertumbuhan tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan yang berada di level 12%. S&P menyebut lonjakan tersebut terutama didorong oleh penyaluran kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN) dan berbagai program pemerintah. Bahkan, laju pertumbuhan kredit tersebut telah melampaui proyeksi S&P maupun panduan pertumbuhan yang sebelumnya disampaikan masing-masing bank. Menurut S&P, tantangan berikutnya adalah menguji apakah ekspansi kredit tersebut tetap mampu menjaga kualitas aset. Salah satu ujian penting akan muncul pada akhir September 2026 ketika PT Agrinas Pangan Nusantara dijadwalkan melakukan pembayaran cicilan pertamanya. Agrinas merupakan perusahaan yang berada di bawah kendali Danantara dan bertugas mengelola program koperasi desa yang menjadi bagian dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. S&P memperkirakan pinjaman kepada Agrinas mencapai sekitar 2%-6% dari total kredit masing-masing Bank Mandiri, BRI, dan BNI. "Meski pinjaman tersebut tidak dijamin, bank dapat menagihkan kekurangan pembayaran kepada pemerintah," tulis analis S&P dikutip
Bloomberg. Namun, S&P menilai efektivitas mekanisme tersebut masih belum teruji. Besarnya nilai kredit yang diberikan kepada BUMN juga membuat risiko gagal bayar menjadi perhatian serius. S&P memperingatkan, apabila terjadi gagal bayar pada kredit BUMN dengan nilai besar, kondisi tersebut dapat menyebabkan lonjakan biaya kredit, penurunan laba, hingga pelemahan permodalan bank.
Baca Juga: Gap Literasi dan Inklusi Sektor Fintech Lending Lebar, Ini Penjelasan OJK Risiko tersebut menjadi semakin relevan di tengah upaya pemerintah melalui Danantara untuk memperbaiki kondisi keuangan sejumlah perusahaan pelat merah yang mengalami tekanan. Sejumlah BUMN telah menghadapi kebutuhan restrukturisasi akibat akumulasi utang. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar dana yang nantinya dibutuhkan untuk menyehatkan sektor BUMN dan apakah kebutuhan tersebut berpotensi mengalihkan sumber daya dari investasi baru. S&P memperkirakan pertumbuhan kredit bank-bank BUMN akan mulai melambat dalam satu tahun ke depan. Pertumbuhan kredit bank pelat merah diproyeksikan berada di kisaran 8%-10%, seiring kondisi likuiditas yang semakin ketat dan langkah perbankan untuk melunasi utang jangka pendek. Meski demikian, S&P menilai bank-bank BUMN masih memiliki bantalan permodalan yang cukup kuat untuk menghadapi potensi tekanan tersebut. Rasio modal Tier 1 bank-bank yang dikendalikan negara berada di kisaran 16%-20%. Tingkat permodalan tersebut dinilai dapat menjadi penyangga apabila risiko kredit meningkat atau profitabilitas mengalami tekanan. Dengan demikian, tantangan bagi bank BUMN ke depan bukan semata-mata menjaga pertumbuhan kredit, tetapi memastikan ekspansi tersebut tetap menghasilkan kualitas aset dan imbal hasil yang memadai di tengah biaya pendanaan yang meningkat. S&P menilai kombinasi antara pertumbuhan kredit yang sangat cepat, dominasi pembiayaan kepada BUMN dan program pemerintah, serta potensi penyempitan margin bunga perlu dicermati karena dapat menjadi tekanan baru bagi laba dan permodalan bank BUMN dalam 12-18 bulan mendatang. Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dalam riset 2 September 2026 juga mengakui jika pertumbuhan kredit bank pelat merah banyak ditopang dari penyaluran kredit kepada PT Agrinas Pangan Nusantara. "Pertumbuhan terutama ditopang bank-bank BUMN yang mencatat pertumbuhan kredit sekitar 11%-16% yoy, termasuk didorong oleh penyaluran kredit kepada PT Agrinas Pangan Nusantara," tulis dia dalam riset. Hal ini membuat akumulasi laba bersih empat bank besar atau big four mencapai Rp 101,6 triliun pada kuartal II 2026, tumbuh 13% secara tahunan. Realisasi tersebut sejalan dengan ekspektasi Indo Premier Sekuritas dan konsensus, masing-masing mencapai sekitar 50% dan 51% dari proyeksi tahun berjalan.
Baca Juga: AAJI dan LIMRA-LOMA Luncurkan Program Pacesetter, Cetak Pemimpin Agen Asuransi Meski pertumbuhan kredit berlangsung agresif, kualitas aset empat bank besar secara umum masih relatif stabil. Loan at risk (LAR) membaik secara kuartalan di seluruh bank besar. Perbaikan terbesar terjadi pada BBRI yang turun 52 bps qoq, disusul BBNI 50 bps, BBCA 20 bps, dan Bank Mandiri 19 bps. Untuk rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL), hanya BBCA yang mengalami kenaikan, yakni 10 bps qoq. Kenaikan tersebut terutama disebabkan penurunan kualitas kredit pada segmen UKM dan komersial. Sebaliknya, NPL BBRI turun 11 bps qoq, sedangkan NPL Bank Mandiri dan BBNI relatif tidak berubah. Jovent juga mencatat sebagian besar bank masih berhati-hati dalam menyalurkan kredit konsumer. Sementara itu, cost of credit (CoC) seluruh bank masih sesuai dengan panduan masing-masing dan belum ada perubahan terhadap target CoC. Melihat kondisi tersebut, Indo Premier Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi overweight (OW) terhadap sektor perbankan. Rekomendasi tersebut ditopang oleh valuasi yang dinilai masih menarik serta sentimen terhadap sektor perbankan yang mulai membaik.
Saat ini, sektor perbankan diperdagangkan pada valuasi sekitar 1,5 kali price to book value (P/B) FY2026F dan 8,4 kali price to earnings (P/E). Level tersebut masih di bawah rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 2,2 kali P/B dan 14,3 kali P/E. Untuk pilihan utama (top picks), Indo Premier Sekuritas memilih BBRI dan BBCA. Baca Juga:
Kredit Macet Properti Masih Tinggi di Tengah Pertumbuhan Kredit yang Agresif Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News