KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit bank digital masih bertumbuh pada semester I 2026, meski lajunya bervariasi. Sejumlah bank masih mencatat pertumbuhan kredit dua digit, sementara ada yang mulai lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan demi menjaga kualitas aset. Bank Indonesia (BI) mencatat outstanding kredit perbankan mencapai Rp 8.916,7 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh 12,1% secara tahunan (year on year/YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 10,8% YoY pada Mei 2026. Superbank menjadi salah satu bank digital dengan pertumbuhan kredit tertinggi. Berdasarkan laporan keuangannya, hingga semester I 2026 penyaluran kredit mencapai Rp 13,4 triliun atau naik 61% YoY.
Pertumbuhan tersebut didorong semakin luasnya integrasi produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS) ke dalam ekosistem Grab dan OVO. Di sisi lain, NPL gross turun menjadi 1,6% dari 2,7% pada semester I 2025. Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan, strategi pertumbuhan berbasis ekosistem mulai menunjukkan hasil. "Semester pertama 2026 menjadi momentum penting bagi Superbank. Strategi berbasis ekosistem yang kami bangun bersama para pemegang saham kini semakin terlihat hasilnya," ujarnya. Sementara itu, outstanding kredit Bank Jago mencapai Rp 26,6 triliun hingga akhir Juni 2026 atau meningkat 24% YoY. Pertumbuhan tersebut ditopang inovasi produk dan kolaborasi dengan berbagai mitra ekosistem strategis, termasuk integrasi dengan Bibit dan Stockbit. Bank Jago juga menjaga kualitas aset dengan NPL gross sebesar 0,8%. Direktur Utama Bank Jago Arief Harris mengatakan, pertumbuhan tersebut didukung inovasi produk dan layanan serta kolaborasi dengan mitra ekosistem. "Kami menghadirkan solusi keuangan yang relevan bagi berbagai segmen nasabah, sekaligus membangun fundamental yang solid untuk pertumbuhan di masa depan," katanya. Bank Raya juga masih mencatat pertumbuhan. Hingga kuartal II 2026, penyaluran kredit digital mencapai Rp 16,46 triliun atau tumbuh 22,6% YoY. Sementara itu, outstanding kredit digital meningkat 21,2% YoY menjadi Rp 3,17 triliun. Salah satu pendorongnya berasal dari produk Pinang Dana Talangan bagi Agen BRILink dan Agen Gadai. Berdasarkan laporan keuangan, NPL gross Bank Raya naik menjadi 4,68% pada Juni 2026 dari 4,03% setahun sebelumnya. Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan kinerja tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam mendorong pertumbuhan bisnis digital. "Melalui berbagai inovasi layanan dan penguatan ekosistem digital, kami terus mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat sekaligus menghadirkan pengalaman perbankan yang semakin mudah, aman, dan relevan bagi masyarakat," ujarnya. Tak hanya itu, Allo Bank juga mencatat pertumbuhan kredit. Hingga akhir Juni 2026, kredit yang disalurkan mencapai Rp 9,54 triliun atau tumbuh 28% YoY, ditopang pertumbuhan di segmen Perbankan Ritel dan Perbankan Wholesale. Di tengah ekspansi tersebut, Allo Bank mempertahankan kualitas aset dengan rasio NPL gross sebesar 1,73% dan NPL net sebesar 0,73%. Sementara itu, Bank Neo Commerce (BNC) mencatat total kredit sebesar Rp 7,13 triliun atau turun 11,79% YoY. Penurunan terutama berasal dari segmen komersial dan korporat sebagai bagian dari strategi optimalisasi portofolio dan peningkatan kualitas aset. Di sisi lain, kredit konsumer dan UMKM tumbuh 6,68% YoY menjadi Rp 5,80 triliun, sedangkan NPL gross membaik menjadi 2,99% dari 3,10%. Direktur Utama BNC Eri Budiono mengatakan perseroan mengedepankan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, dan pengelolaan risiko. "Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif," katanya. Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai bank digital mulai memasuki fase yang lebih matang. Menurutnya, fokus bank digital tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan kredit, tetapi juga menjaga kualitas aset dan profitabilitas.
"Walau mayoritas bank digital masih mencatat pertumbuhan kredit di atas rata-rata industri pada semester I 2026, sebagian mulai lebih selektif dalam memilih segmen, debitur, dan mitra penyaluran untuk menjaga kualitas aset," ujar Trioksa kepada Kontan, Senin (3/8). Trioksa menilai strategi bank digital kini lebih menitikberatkan pada pemanfaatan data dan Artificial Intelligence (AI) dalam proses underwriting, penguatan pembiayaan berbasis ekosistem, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, penghimpunan dana murah, kualitas aset, dan profitabilitas. Trioksa mengatakan langkah bank digital yang lebih selektif saat ini bukan mencerminkan pelemahan bisnis, melainkan pergeseran menuju pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News