Kredit Bank Swasta Berpotensi Tumbuh hingga Akhir 2026, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Peluang pertumbuhan kredit perbankan pada kuartal IV-2026 masih terbuka seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan menjelang akhir tahun.

Namun, bank swasta diperkirakan tetap berhati-hati dalam memperluas penyaluran kredit karena biaya dana masih relatif tinggi dan permintaan pembiayaan belum merata di seluruh segmen.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan per Agustus 2026 tumbuh 13,65% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Meski demikian, pertumbuhan kredit tersebut masih terkonsentrasi pada kelompok bank tertentu. Kredit bank badan usaha milik negara (BUMN) mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni sekitar 16,41% yoy.


Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz menilai, peluang pertumbuhan kredit pada kuartal IV-2026 tetap terbuka, terutama didorong meningkatnya kebutuhan modal kerja untuk persediaan barang, perdagangan, dan aktivitas bisnis menjelang akhir tahun.

Baca Juga: Laju Penyaluran Kredit Bank Swasta Dibayangi Beban Biaya Dana

Kendati demikian, akselerasi kredit bank swasta diperkirakan tidak akan seagresif pertumbuhan kredit industri perbankan secara keseluruhan.

Faiz melihat, pertumbuhan kredit industri saat ini lebih banyak ditopang oleh siklus pembiayaan korporasi dan investasi serta ekspansi bank BUMN, dibandingkan dengan peningkatan permintaan kredit yang merata di berbagai segmen.

Memasuki kuartal IV-2026, peluang pertumbuhan kredit masih berasal dari proyek infrastruktur, hilirisasi, pusat data (data center), serta berbagai proyek prioritas lainnya. Namun, bank swasta diperkirakan tetap mengedepankan selektivitas dalam penyaluran kredit ketimbang sekadar mengejar pertumbuhan volume.

“Ada beberapa yang dipertimbangkan,” kata Faiz kepada Kontan, dikutip Selasa (13/10/2026).

Salah satu pertimbangan utama adalah biaya dana atau cost of fund yang masih relatif tinggi. Kondisi tersebut membuat perbankan perlu memastikan bahwa ekspansi kredit dapat menghasilkan margin yang memadai.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan per Agustus 2026 tumbuh 10,94% yoy. Namun, pertumbuhan deposito mencapai 13,10% yoy, lebih tinggi dibandingkan giro yang tumbuh 9,82% yoy dan tabungan sebesar 9,56% yoy.

Menurut Faiz, kondisi tersebut menunjukkan persaingan penghimpunan dana yang masih intensif. Oleh karena itu, bank perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan biaya pendanaan agar profitabilitas tetap terjaga.

Baca Juga: BTPN Syariah (BTPS) Siapkan Buyback Saham Rp 1 Triliun, Ini Alasannya

Selain faktor pendanaan, permintaan kredit yang belum merata juga menjadi tantangan bagi perbankan swasta.

Segmen korporasi besar relatif kuat, didukung program prioritas nasional dan investasi di sektor pusat data. Sebaliknya, permintaan kredit dari segmen konsumsi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih cenderung moderat.

Kondisi ini membuat pertumbuhan kredit antarbank berpotensi berbeda, bergantung pada komposisi portofolio masing-masing. Bank dengan porsi kredit yang lebih besar pada segmen ritel, UMKM, dan konsumer belum tentu mencatatkan pertumbuhan setinggi bank yang memiliki eksposur besar terhadap belanja modal korporasi.

Likuiditas Perbankan Masih Memadai

Di tengah tantangan tersebut, Faiz menilai likuiditas dan permodalan industri perbankan masih memadai untuk mendukung penyaluran kredit.

Hal ini tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang berada di kisaran 23,04%, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,84%, serta rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sekitar 2,10%.

Dengan kondisi tersebut, tantangan utama perbankan bukan semata-mata terletak pada kemampuan menyediakan pembiayaan, melainkan juga menemukan debitur yang memiliki kebutuhan kredit, tingkat imbal hasil, dan profil risiko yang sesuai.

Baca Juga: Bank Digital Masih Agresif Gaet Nasabah Lewat Bunga Deposito

Faiz memperkirakan bank swasta akan mengakselerasi penyaluran kredit secara selektif hingga akhir 2026. Fokus pembiayaan diperkirakan mengarah pada debitur korporasi berkualitas, pembiayaan rantai pasok (supply chain financing), sektor-sektor yang berkaitan dengan investasi, serta nasabah eksisting dengan ekosistem transaksi yang kuat.

Sementara itu, ekspansi kredit pada segmen dengan tingkat risiko lebih tinggi kemungkinan tetap dilakukan secara hati-hati.

Menurut Faiz, momentum akhir tahun memang berpotensi mendorong pertumbuhan kredit. Namun, bank swasta tidak harus mengejar laju pertumbuhan industri apabila kondisi pendanaan dan permintaan pembiayaan belum mendukung.

Dalam situasi biaya dana yang masih tinggi dan permintaan kredit yang belum merata, menjaga kualitas aset serta mempertahankan margin dinilai lebih penting dibandingkan sekadar mengejar pertumbuhan kredit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News