KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat sejarah baru dengan membukukan penyaluran kredit yang untuk pertama kalinya menembus level Rp 1.000 triliun. Hingga semester I-2026, total kredit BCA mencapai Rp 1.036 triliun, tumbuh 8% secara tahunan (
year on year/YoY). Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, secara
year to date (YTD), kredit perseroan juga meningkat 4,3% dibandingkan posisi akhir 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya permintaan pembiayaan dari berbagai sektor usaha yang masih menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika ekonomi. "Puji syukur, hingga semester I-2026 pertumbuhan kredit BCA secara tahunan berada di kisaran 8%, sedangkan secara
year-to-date mencapai sekitar 4,3%," ujar Hendra dalam paparan kinerja BCA, Selasa (28/7).
Baca Juga: Transmisi BI Rate Mulai Lebih Cepat, Bunga Kredit Naik Jadi 8,81% Menurut Hendra, pertumbuhan kredit didorong oleh sejumlah sektor yang masih ekspansif, di antaranya infrastruktur, khususnya yang berkaitan dengan teknologi, sektor mineral, pertanian dan perikanan,
refinery dan
edible oil, serta pertambangan nonmigas. Sementara itu, berdasarkan portofolio pembiayaan BCA, sektor
financial services, plantation and agriculture, infrastructure, transportation, serta sejumlah sektor produktif lainnya menjadi kontributor utama penyaluran kredit. "Sektor-sektor tersebut masih menunjukkan permintaan pembiayaan yang baik dan menjadi penopang pertumbuhan kredit BCA hingga saat ini," katanya. Secara rinci, kredit korporasi masih menjadi motor pertumbuhan dengan nilai mencapai Rp 513,4 triliun, meningkat 13,6% YoY atau 6,7% secara YTD. Selanjutnya, kredit komersial tumbuh 7,2% YoY menjadi Rp 153,9 triliun, sedangkan kredit usaha kecil dan menengah (UKM) meningkat 6% YoY menjadi Rp 134,6 triliun. Di sisi lain, segmen kredit konsumer masih mengalami kontraksi 2,4% YoY menjadi Rp 221 triliun. Meski demikian, kredit pemilikan rumah (KPR) masih tumbuh 4,8% YoY menjadi Rp 144,3 triliun, sementara kredit kendaraan bermotor turun 21,5% YoY menjadi Rp 51,3 triliun. Adapun pinjaman personal meningkat 8,2% YoY menjadi Rp 25,4 triliun. Hendra optimistis pertumbuhan kredit BCA akan tetap berlanjut pada semester II-2026. Perseroan tidak melakukan revisi terhadap Rencana Bisnis Bank (RBB) dan masih mempertahankan target pertumbuhan kredit sebesar 8%-10% hingga akhir tahun. Menurutnya, optimisme tersebut didukung oleh meningkatnya utilisasi fasilitas kredit
(loan utilization) sepanjang semester pertama. "Hingga semester I-2026, kami melihat utilisasi fasilitas kredit terus meningkat. Baik kebutuhan pembiayaan modal kerja maupun investasi menunjukkan tren yang positif," ujarnya. Selain itu, pipeline penyaluran kredit juga masih kuat. Hendra mengatakan, pertumbuhan kredit pada semester II diperkirakan tetap ditopang oleh sektor infrastruktur yang berkaitan dengan teknologi, transformasi logistik, perkebunan, pertanian, serta jasa keuangan. "Selama utilisasi fasilitas kredit terus meningkat, kami optimistis target pertumbuhan kredit hingga akhir tahun dapat tercapai," katanya.
BCA juga memastikan belum melakukan revisi terhadap target bisnis tahun ini. "Kami tidak melakukan revisi terhadap Rencana Bisnis Bank (RBB). Kami tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di kisaran 8% hingga 10% sampai akhir tahun," tutup Hendra.
Baca Juga: Ketidakpastian Global Mendorong Pelaku Usaha Perkuat Manajemen Risiko Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News