Kredit Berisiko Perbankan Melandai Seiring Terbatasnya Penyaluran ke Sektor High-Risk



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sikap selektif perbankan dalam menyalurkan kredit tahun ini mendorong pertumbuhan yang lebih sehat. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio kredit berisiko (loan at risk/LaR) perbankan nasional ada di level 8,56% per Agustus 2026. Posisi itu memang naik dari 8,39% pada bulan sebelumnya, tetapi jelas lebih rendah dari posisi 9,73% pada periode yang sama tahun lalu. 

Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, pada dasarnya LaR terutama didorong oleh kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta komersial. 


Jika dilihat, dalam periode yang sama kredit konsumsi secara industri memang relatif lesu dengan catatan pertumbuhan 5,07% secara tahunan (year-on-year/yoy), melambat dari pertumbuhan 5,38% yoy pada bulan sebelumnya dan 7,89% yoy pada periode sama tahun lalu. Pun meski mulai menunjukkan kinerja positif, kredit UMKM baru tumbuh 2,32% yoy. 

Baca Juga: Pertumbuhan Paylater Perbankan Tetap Double Digit, Capai Rp 31,41 Triliun

David bilang perkembangan kredit berisiko di perbankan masih bergantung pada kondisi global ke depannya, termasuk tensi geopolitik di Timur Tengah. “Ini akan berpengaruh ke harga minyak dan harga barang input lainnya,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (6/10/2026). 

Di level individu bank, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan saat ini pihaknya berhasil menekan LaR ke posisi 6,13%. Jika mengecualikan portofolio bekas Covid-19, Lani bilang levelnya bahkan lebih rendah di 5%.

“Secara tahunan LaR terus membaik sehubungan dengan kualitas aset kami yang sehat,” sebut Lani.

Secara umum, kinerja kredit CIMB Niaga ke segmen ritel dan UMKM memang tak kencang. Hingga Juni 2026, kredit konsumer bank hanya tumbuh 0,1% yoy dan UKM naik 2,9% yoy. Sebagai perbandingan, kredit korporasi bank tumbuh 13,8% yoy dalam periode yang sama. 

Lani memandang segmen ritel memang masih bakal tertekan pertumbuhannya. Di samping sikap selektif bank seiring peningkatan biaya dana, laju pertumbuhan kredit ritel yang lebih masif bisa terwujud jika ada perbaikan daya beli masyarakat. 

Baca Juga: Investasi IT KB Bank Rp200 Miliar pada 2026, Realisasi Baru Mencapai 50%-60%

Di sisi lain, Direktur Allo Bank Indonesia Ganda Raharja Rusli mengaku pihaknya memperketat kriteria underwriting untuk tetap menjaga dan mengantisipasi kenaikan kredit berisiko. Ia tak membeberkan nilainya, tetapi menurutnya LaR Allo Bank masih cukup stabil dan cenderung menurun.

Yang pasti, dalam hal penyaluran kredit, Allo Bank memastikan setiap pertumbuhan memberikan risk-adjusted return yang sehat agar kualitas aset terjaga dan pada gilirannya dapat berkontribusi terhadap pendapatan yang berkelanjutan. Untuk mencapai itu, Allo Bank memperkuat data-driven underwriting dan manajemen risiko.

Secara umum, Ganda bilang pihaknya melihat antisipasi kenaikan LaR masih diperlukan saat ini, di tengah tekanan ekonomi yang terjadi karena kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta kenaikan bahan bakar minyak. “Kami senantiasa mengantisipasi,” sebutnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News