Kredit ke Sektor Tekstil Masuk Perhatian Khusus, Perbankan Siapkan Pencadangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor padat karya merupakan salah satu sektor yang berisiko bagi perbankan saat ini. Pasalnya, belakangan ini santer kabar isu pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif di sektor ini, terutama industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) salah satu bank yang mewaspadai portofolio kredit di industri tekstil. 

"Khusus sektor tekstil sendiri merupakan salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus dari BRI," kata Aestika Oryza Gunarto Sekretaris Perusahaan BRI, Kamis (24/11).


Hingga akhir kuartal III 2022, BRI tercatat memiliki portofolio kredit BRI kepada industri tekstil sebesar Rp 29,1 triliun.

Baca Juga: Jelang Rights Issue Bank Neo Commerce, Gozco Capital Jual 330 Juta Saham BBYB

Untuk mengantisipasi risiko pemburukan aset di sektor ini, Aestika mengatakan, BRI sudah menyiapkan pencadangan yang memadai untuk penyaluran kredit kepada industri tekstil.

PHK di sektor TPT menandakan bahwa kondisi bisnis mereka tidak sedang baik-baik dan ada potensi mengganggu kemampuan pelaku industri membayar kewajiban terhadap bank.

Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), jumlah karyawan industri TPT yang terkena PHK saat ini sudah di atas 61.000 karyawan. Penyebab utamanya adalah seretnya permintaan ekspor produk TPT Indonesia sehingga banyak pabrik mengurangi kapasitas produksi.

Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan outstanding kredit di sektor tekstil per September 2022 sebesar Rp 20,8 triliun.  Hera F Haryn, Sekretariat dan Komunikasi Perusahaan BCA mengatakan, pihaknya sudah melakukan antisipasi terjadinya pemburukan aset di sektor tekstil dengan pencadangan.

"Pencadangan yang dilakukan di sektor ini tercatat sebesar 27%," kata Hera pada KONTAN, Jumat (24/11).

Ia menambahkan, BCA senantiasa berkomitmen untuk menyalurkan kredit secara prudent dan tetap mengkaji peluang di berbagai sektor sekaligus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian.

Sementara, PT Bank Permata Tbk mengaku tidak membatasi diri menyalurkan kredit terhadap sektor-sektor tertentu, termasuk ke sektor padat karya. Namun, bank ini harus memastikan terlebih dahulu klien yang dibiayai memiliki kinerja yang baik.

Artinya, Bank Permata hanya fokus pada kondisi individu masing-masing calon debitur ketika memutuskan memberikan kredit, bukan pada sektor industrinya. Sementara saat ini, kondisi portofolio kredit Bank Permata di sektor padat karya diklaim masih baik.

"Sampai saat ini kondisi portfolio kita masih baik," kata Darwin Wibowo, Direktur Bank Permata, Rabu (22/11).

Mengacu pada laporan keuangan perusahaan tekstil, ada banyak bank yang memiliki portofolio kredit di sektor tekstil, baik itu lewat pinjaman langsung maupun dalam bentuk kredit sindikasi.

PT Pan Brothers Tbk (PBRX) misalnya memiliki kredit sindikasi dengan jumlah pokok sebesar US$ 138,4 juta per Juni 2022 ke sejumlah bank yang terdiri dari Bank KEB Hana Indonesia, Maybank, BNP Paribas, BRI, Bank China Construction, dan lain-lain.

Baca Juga: BCA dan Mandiri Kian Balapan Kejar Transaksi Digital Banking dari Nasabah

Sementara PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) tercatat memiliki pinjaman jangka pendek ke sejumlah bank di antarnya BCA, Cibank, Bank Mizuho Indonesia, HSBC Indonesia, Bank DBS, Bank BJB, Bank QNB, CIMB Niaga, Maybank, Bank Muamalat, Bank Jateng, BNI, Bank KEB Hana,Bank DKI, Bank Danamon, Bank Woori Saudara, dan lain-lain.

Sekretaris Perusahaan Pan Brothers Iswardeni menyampaikan, saat ini perseroan sedang mempersiapkan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue dengan target dana US$ 50 juta. 

Rencana itu merupakan upaya perseroan untuk memperbaiki rasio keuangannya. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha, termasuk untuk pembelian bahan baku, biaya produksi, biaya operasional, biaya pemasaran, dan lain-lain.

Asal tahu saja, aksi rights issue US$ 50 juta ini merupakan bagian dari persetujuan restrukturisasi dengan para kreditur. Mengingat, Pan Brothers mempunyai keterbatasan pendanaan seiring dengan dikuranginya fasilitas kredit dari perbankan secara drastis. 

"Juni 2022, PBRX baru melakukan restruktukturisasi," ujarnya Iswardeni. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi