Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) Terkontraksi Imbas Pelemahan Nilai Tukar Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) masih terus mengalami perlambatan. Kondisi ini dinilai terjadi karena pelemahan rupiah yang berakibat pada kenaikan harga barang impor.

Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan KKB perbankan pada Maret 2026 terkontraksi sampai 9,2% secara tahunan. Perlambatan ini melanjutkan kontraksi yang terjadi di Februari 2026 sebesar 8,1% secara year on year (yoy).

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu bank yang mencatatkan penurunan kredit KKB. Hingga Maret 2026, BCA mencatat KKB sebesar Rp 53,9 triliun.


Baca Juga: Di Tengah Digitalisasi, OJK Nilai LKM Tetap Berperan Penting bagi Masyarakat Mikro

Adapun jika dilihat dari presentasi perusahaannya, KKB BCA ini terhitung turun 19,7% yoy. Di mana pada Maret 2025, BCA menyalurkan KKB sebesar Rp 67,1 triliun.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn mengatakan, penyaluran KKB BCA akan sejalan dengan kondisi di industri. Ia pun menyebut banknya selalu memperhatikan manajemen risiko dalam penyaluran kredit.

"Di tengah dinamika kondisi ekonomi dan industri, penyaluran KKB BCA akan terus disesuaikan dengan kondisi pasar, kebutuhan nasabah, serta strategi pertumbuhan kredit yang prudent," kata Hera kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Hera juga menyebut BCA sudah menggelar acara 'BCA Expoversary 2026' hingga 30 April 2026 lalu dan menawarkan KKB BCA dengan bunga spesial 2,15% flat bertenor 3 tahun.

"Kami juga mendorong nasabah untuk terlebih dahulu mempertimbangkan kemampuan finansial dan memilih tenor maupun skema bunga yang paling sesuai dengan kebutuhan jangka panjang," ucapnya.

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga mencatatkan penurunan kredit KKB, terkhusus yang disalurkan untuk segmen nasabah ritel.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan menyebut hingga Maret 2026, KKB ritel banknya terkontraksi 3,5% yoy. Sedangkan, portofolio kredit automotif secara keseluruhan masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 4% yoy.

Baca Juga: Saham Big Banks Menguat Meski Sebagian Masih Dilego Asing, Simak Rekomendasi Analis

Adapun Lani menyebut saat ini portofolio kredit automotifnya didominasi oleh kredit denga skema channeling. 

Meski masih melambat, Lani memproyeksi KKB banknya dapat tumbuh positif pada akhir tahun 2026. "Kami perkirakan sampai akhir tahun KKB masih bisa tumbuh di bawah 5%," kata Lani.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, pelambatan KKB perbankan utamanya disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah.

Selain itu, kendaraan bermotor juga merupakan barang bernilai besar dan sangat sensitif pada kenaikan harga cicilan.

"Pada saat rupiah melemah, harga kendaraan yang mengandung komponen impor atau bahan baku impor cenderung naik," kata Josua.

Josua juga menyebut minat masyarakat untuk mencicil mobil semakin turun sebab kenaikan harga bahan bakar dan perawatan yang kian mahal.

"Pertumbuhan KKB kemungkinan masih membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Bank sebaiknya tidak mengejar volume secara agresif, tetapi fokus pada kualitas debitur," ucapnya.

Strategi terbaik bagi bank, kata Josua, adalah dengan selektif memilih calon nasabah KKB agar menghindari potensi gagal bayar.

Bank pun bisa menjalin kerja sama dengan dealer, bengkel, asuransi, atau mitra lainnya untuk menambah nilai penawaran.

PT Bank KB Indonesia Tbk misalnya, mengaku sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah mitra untuk penyaluran kredit di sektor ini.

Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie menyebut, banknya saat ini belum fokus menyalurkan KKB. Akan tetapi, ia mempertimbangkan peluang banknya untuk serius menyalurkan KKB di masa mendatang.

"KB Bank masih melakukan penjajakan kerja sama secara selektif dengan mitra strategis sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan profil risiko bank," kata Kunardy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News