Kredit Kendaraan Bermotor Makin Tertekan, Harga BBM dan Suku Bunga Jadi Penghambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit kendaraan bermotor (KKB) perbankan nasional masih tertekan hingga April 2026.

Tingginya harga bahan bakar minyak (BBM), pelemahan daya beli masyarakat, serta kenaikan biaya kredit diperkirakan akan terus membayangi kinerja pembiayaan kendaraan dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Juga: Pembiayaan BSI OTO Tumbuh Positif, Ditopang Pembiayaan ke Segmen Kendaraan Listrik


Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan penyaluran KKB perbankan pada April 2026 terkontraksi 9% secara tahunan (year on year/YoY). Pelemahan ini lebih dalam dibandingkan Maret 2026 yang terkontraksi 8,9% yoy dan Februari 2026 sebesar 8,1% yoy.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, penurunan daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang menekan permintaan kredit kendaraan.

Menurutnya, kondisi ekonomi rumah tangga yang masih menghadapi berbagai tekanan membuat masyarakat cenderung menunda pembelian kendaraan baru, terutama yang menggunakan fasilitas kredit.

Selain itu, lonjakan harga BBM non-subsidi turut memperbesar biaya kepemilikan kendaraan sehingga memengaruhi keputusan konsumen.

Baca Juga: Porsi Pembiayaan Fintech Lending ke Sektor Produktif Turun Jadi 34,09% per April 2026

"Kenaikan harga BBM non-subsidi turut menambah biaya kepemilikan kendaraan. Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter membuat sebagian konsumen semakin berhitung sebelum membeli kendaraan baru," ujar Yusuf, Selasa (16/6/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM paling berdampak pada segmen mobil baru dan kelompok konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi pasar utama pembiayaan kendaraan perbankan.

Tekanan terhadap KKB juga datang dari kenaikan harga kendaraan baru yang dipicu pelemahan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia berpotensi meningkatkan bunga kredit dan cicilan kendaraan.

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat prospek pertumbuhan KKB masih menghadapi tantangan yang cukup berat.

Baca Juga: OJK Beri Sejumlah Relaksasi Aturan untuk Industri PVML, Ini Rinciannya

Yusuf memperkirakan pemulihan permintaan kredit kendaraan baru akan terjadi apabila kondisi makroekonomi membaik, termasuk stabilitas nilai tukar, inflasi yang terkendali, dan meningkatnya keyakinan masyarakat terhadap prospek pendapatan mereka.

Karena itu, perbankan perlu lebih fokus menjaga kualitas portofolio kredit kendaraan yang telah disalurkan di tengah perlambatan permintaan.

"Permintaan KKB berpotensi kembali meningkat ketika nilai tukar stabil, inflasi terkendali, dan keyakinan terhadap pendapatan membaik," kata Yusuf.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News