Kredit Kendaraan Bermotor Masih Tertekan, Bank Mulai Andalkan Strategi Cross-Selling



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) perbankan masih tertekan.

Bank Indonesia (BI) mencatat KKB pada Juli 2026 sebesar Rp 129,3 triliun, terkontraksi 10% secara tahunan (YoY), lebih dalam dibandingkan kontraksi 9,9% pada Juni 2026.

Pelemahan KKB terjadi di tengah pertumbuhan kredit konsumsi yang juga melambat menjadi 5,3% YoY dari 5,7% YoY pada Juni 2026.


Baca Juga: Piutang Pembiayaan Syariah Industri Multifinance Tumbuh 9,14% pada Semester I-2026

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat outstanding Auto Loans sebesar Rp 18,96 triliun pada Juni 2026. Nilai tersebut meningkat 4,7% secara tahunan dari Rp 18,10 triliun pada Juni 2025 dan tumbuh 0,2% secara kuartalan dari Rp 18,92 triliun pada Maret 2026.

Direktur Consumer Banking Bank CIMB Niaga Noviady Wahyudi mengatakan, CIMB Niaga mendorong pembiayaan kendaraan melalui cross-selling kepada nasabah yang sudah ada.

"Tidak terlepas dari apa yang terjadi di industri, kita itu punya kesempatan untuk cross-selling ke masyarakat yang luas. Jadi kita tidak hanya tergantung dari pembelian mobil baru atau second," ujar Noviady di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penyaluran pembiayaan kendaraan baru pada kuartal II 2026 mencapai Rp 6,6 triliun, naik 4,8% secara kuartalan dari Rp 6,3 triliun pada kuartal I 2026.

Baca Juga: Pefindo Sebut Masih Ada Multifinance yang Terbitkan Surat Utang pada Semester II-2026

Namun, angka tersebut masih turun 23,3% secara tahunan dibandingkan Rp 8,6 triliun pada kuartal II 2025.

Penurunan penyaluran pembiayaan kendaraan baru BCA juga terjadi di seluruh wilayah pada semester I 2026, dengan Jakarta turun 29,9% secara tahunan, Jawa di luar Jakarta turun 39,3%, dan luar Jawa turun 48,2%.

Presiden Direktur BCA Finance Petrus Karim mengatakan, saat ini ada pergeseran minat masyarakat dari kendaraan berbasis mesin pembakaran internal menjadi kendaraan hybrid, electric vehicle (EV) hingga plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

“Kalau di BCA kita punya portfolio untuk mobil EV itu sudah mendekati 15-20 persen dari total penjualan yang ada,” kata Petrus di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat, pembiayaan otomotif sebesar Rp 6,71 triliun per Juni 2026, tumbuh 12,37% secara tahunan dari Rp 5,97 triliun pada Juni 2025.

Dari sisi kualitas, Non-Performing Financing (NPF) pembiayaan otomotif meningkat menjadi 3,01% dari 2,52% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: CIMB Niaga Perkenalkan Preferred BOSS untuk Pengusaha

Direktur Retail Banking Kemas Herwan Husainy mengatakan, pembiayaan kendaraan melalui Oto Online mencapai 0,14 triliun atau tumbuh 130,5 persen.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga mencatat penurunan pembiayaan kendaraan. Berdasarkan paparan perusahaan, outstanding Auto Loan Bank Mandiri tercatat Rp 25,4 triliun pada Juni 2026, turun 19,2% secara tahunan dari Rp 31,5 triliun pada Juni 2025.

Sementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) belum menjadikan KKB sebagai fokus bisnis.

SEVP Retail Bank KB Pauline Sulistianingsih mengatakan, kontribusi pembiayaan otomotif terhadap portofolio kredit perseroan masih sangat terbatas.

“Saat ini KB Bank belum secara aktif memiliki fokus bisnis pada penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB). Oleh karena itu, kontribusi pembiayaan otomotif terhadap portofolio kredit Bank masih sangat terbatas,” ujar Pauline kepada Kontan Senin, (24/8/2026).

Baca Juga: CIMB Niaga Perkenalkan Preferred BOSS untuk Pengusaha

Pauline mengatakan, KB Bank saat ini lebih berfokus pada penguatan kualitas aset serta pengembangan portofolio kredit pada segmen bisnis yang menjadi fokus utama bank.

Untuk pembiayaan otomotif, KB Bank masih melakukan penjajakan kerja sama secara selektif dengan mitra strategis sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan profil risiko Bank.

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai, kontraksi KKB lebih disebabkan oleh lemahnya permintaan masyarakat ketimbang kemampuan bank menyalurkan kredit.

“Tekanan utamanya lebih berasal dari sisi permintaan, bukan dari kemampuan bank menyalurkan kredit,” kata Yusuf kepada Kontan, Rabu (26/8/2026).

Kendati demikian, Yusuf melihat kontraksi KKB berpeluang mulai mereda hingga akhir tahun seiring mulai membaiknya permintaan kredit kendaraan baru.

“Saya memperkirakan kontraksi KKB perbankan bisa menipis ke kisaran 5 sampai 7 persen secara tahunan pada Desember. Jika daya beli kelas menengah belum pulih, kontraksinya masih bisa bertahan di sekitar 8 persen,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News