KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit perbankan di sektor konstruksi masih menunjukkan pertumbuhan tinggi hingga April 2026. Namun, di tengah tren kenaikan suku bunga acuan, industri perbankan dinilai perlu meningkatkan kewaspadaan dalam menyalurkan pembiayaan pada sektor ini. Bank Indonesia mencatat outstanding kredit konstruksi perbankan hingga April 2026 mencapai Rp 582,4 triliun. Realisasi tersebut tumbuh signifikan sebesar 44,73% secara tahunan (year-on-year/yoy). Jika dilihat berdasarkan penggunaannya, kredit konstruksi untuk investasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 64,2% yoy. Sementara itu, kredit konstruksi untuk modal kerja juga tetap ekspansif dengan pertumbuhan 29,3% yoy.
Meski demikian, risiko kredit di sektor ini masih menjadi perhatian. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) untuk kredit konstruksi perumahan tercatat berada di level 8,18%, meningkat dibandingkan April 2025 yang sebesar 7,57%.
Baca Juga: Perbankan Waspadai Tekanan Likuiditas di Tengah Gejolak Global Dorongan PSN dan Proyek Infrastruktur Jadi Penopang
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai pertumbuhan kredit konstruksi yang tinggi masih ditopang oleh proyek strategis nasional (PSN). Selain itu, penyaluran kredit juga banyak mengalir ke proyek pembangunan infrastruktur dasar, kawasan industri, hilirisasi, serta proyek properti yang telah memiliki komitmen pembiayaan sejak awal.
Kenaikan BI Rate Berpotensi Tekan Pertumbuhan
Trioksa menyoroti kenaikan BI Rate menjadi 5,75% yang dinilai dapat memengaruhi laju penyaluran kredit konstruksi pada semester II-2026. Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya dana (
cost of fund) perbankan, sehingga membuat bank lebih berhati-hati dalam ekspansi kredit. "Ini disebabkan biaya dana meningkat dan bank akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan baru, terutama pada proyek dengan profil risiko tinggi atau arus kas yang belum jelas," ucapnya saat dihubungi, Senin (22/6/2026). Ia menambahkan, bank perlu memperketat proses evaluasi kelayakan proyek guna menjaga kualitas kredit dan mengendalikan rasio NPL. Meski demikian, penyaluran kredit konstruksi diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir 2026, meskipun tidak setinggi awal tahun.
Baca Juga: Pindar Samir Telah Salurkan Pembiayaan Rp1,5 Triliun hingga April 2026 BTN Fokus pada Kualitas Proyek dan Developer
Dari sisi perbankan, Direktur Manajemen Risiko PT Bank Tabungan Negara Tbk Setiyo Wibowo menuturkan bahwa pihaknya akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit konstruksi, khususnya pada proyek yang memiliki fundamental kuat.
Menurutnya, dalam kondisi BI Rate yang tinggi, kualitas pengembang (developer) menjadi faktor kunci dalam penilaian pembiayaan. Aspek yang dinilai antara lain progres pembangunan, kelayakan proyek, serta kemampuan arus kas yang sehat. Setiyo juga menyebutkan bahwa rasio NPL BTN pada sektor kredit konstruksi saat ini masih terjaga dengan baik. Tekanan NPL yang ada sebagian besar berasal dari kredit lama. "NPL di sektor ini terutama berasal dari kredit legacy sebelum periode transformasi kredit, sementara kredit baru yang disalurkan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kualitas yang lebih baik," ucapnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News