KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit konsumsi tercatat semakin melambat pada Maret 2026. Pelambatan terjadi karena bank semakin ketat dan selektif untuk menyalurkan kredit. Bank Indonesia (BI) mencatat kredit bank pada Maret 2026 tumbuh sebesar 9,49% secara tahunan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37% secara
year on year (yoy). Dari segmen penyalurannya, kredit investasi dan kredit modal kerja berhasil naik lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Maret 2026, kredit investasi tumbuh sampai 20,85% yoy dan kredit modal kerja tumbuh 4,38% yoy.
Baca Juga: Hadapi Dinamika RKAB Batubara, CFIN Perkuat Mitigasi Risiko Pembiayaan Alat Berat Sementara itu, kredit konsumsi justru semakin mengalami perlambatan. Kredit konsumsi pada Maret 2026 hanya tumbuh sebesar 5,88% yoy, lebih rendah dari Februari 2026 yang sebesar 6,34% yoy. Angka itu juga semakin jauh di bawah pertumbuhan kredit konsumsi pada Januari 2026 yang sebesar 7,2% yoy. Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kondisi pelemahan kredit konsumsi ini bisa menjadi tanda dari semakin turunnya kemampuan masyarakat untuk belanja keperluan rumah tangga. Menurut Yusuf, perlambatan kredit konsumsi dapat terjadi karena dua hal, yaitu semakin lemahnya kemampuan masyarakat untuk berutang dan turunnya keberanian bank untuk menyalurkan kredit. Yusuf menyebut masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi motor penggerak konsumsi semakin tertekan perekonomiannya. Ini karena pendapatan mereka tergerus oleh inflasi dan penurunan upah kerja. Lebih lanjut, Yusuf bilang tekanan ekonomi juga dirasakan oleh masyarakat kelas menengah atas. Hal itu ditandai oleh pertumbuhan kredit kendaraan yang juga semakin menurun. "Pembeli mobil biasanya dari segmen menengah ke atas. Kalau segmen ini mulai menahan belanja, berarti tekanan sudah naik level, tidak hanya di kelompok bawah," kata Yusuf saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026).
Baca Juga: FIF Group Perluas Jaringan, Tambah Cabang Bekasi dan Perkuat Energi Surya Dari sisi perbankan, Yusuf menilai mulai ada pergeseran komposisi kredit. Bank saat ini lebih agresif menyalurkan kredit investasi, sementara penyaluran untuk kredit konsumsi semakin dijaga ketat karena risiko yang terus meningkat. Yusuf pun memprediksi pertumbuhan kredit konsumsi dalam jangka pendek hanya akan terbatas di kisaran 5%. "Atau bahkan bisa lebih turun dari 5% kalau tekanan eksternal masih berlanjut," tambahnya. Sejumlah bank juga mencatat porsi kredit konsumsi dalam portofolionya semakin menurun. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BCA). BCA mencatat kredit konsumernya hingga kuartal-1 2026 terkontraksi 2% bila dibandingkan kuartal yang sama di tahun sebelumnya. Dari sisi penggunaannya, kredit kendaraan BCA terkontraksi sangat dalam sampai 19,7% yoy. Adapun pertumbuhan kredit BCA hingga kuartal-1 2026 secara keseluruhan juga tidak terlalu besar. Kredit BCA naik 5,6% yoy
mencapai Rp 994 triliun per Maret 2026. PT Bank KB Indonesa Tbk juga menyebut penyaluran kredit konsumernya semakin selektif tahun ini. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie bilang, pertumbuhan kredit konsumer banknya tahun ini lebih mementingkan kualitas daripada ekspansi yang agresif.
Baca Juga: Kinerja Pembiayaan Investasi Multifinance Beragam Pada Awal 2026 "Kami terus memperkuat proses
underwriting, manajemen risiko, dan pemantauan portofolio, sembari menangkap peluang pertumbuhan di segmen yang memiliki profil risiko yang baik," ucapnya kepada Kontan, Jumat (24/4/2026). Di sisi lain, PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) menyebut kredit konsumernya masih terus tumbuh positif. Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah menyebut, hingga kuartal-1 2026 kredit konsumer banknya tumbuh sampai 8% bila dibandingkan akhir tahun 2025.
Efdinal mengakui adanya sejumlah tantangan dari penyaluran kredit tahun ini, di antaranya daya beli masyarakat yang dinilai masih belum stabil dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi. Ia pun bilang, OK Bank saat ini lebih menggencarkan penyaluran kredit di segmen yang berisiko rendah. Untuk segmen konsumer, OK Bank lebih ingin menjaga kualitas dibanding ekspansi pertumbuhan. "Kalau terkait penyaluran, OK Bank fokus pada segmen yang memiliki profil risiko yang lebih terjaga," ucapnya saat dihubungi, Jumat (24/4/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News