Kredit Konsumsi AS Menyusut US$ 21 Miliar



WASHINGTON. Kredit konsumsi AS mengkerut di bulan Juli, dan mencatatkan rekor lebih dari lima kali seperti yang diprediksikan lantaran perbankan mengetatkan persyaratan kredit. Selain itu, pemecatan pekerja juga membuat warga AS harus pikir-pikir terlebih dahulu untuk mengutang. Kredit konsumsi AS anjlok sebesar US$ 21,6 miliar atau 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 2,5 triliun. Hal ini ditegaskan melalui laporan The Federal Reserve yang dirilis hari ini di Washington DC. Kredit anjlok sebesar US$ 15,5 miliar di bulan Juni, lebih dari yang diprediksikan semula. Mengkerutnya kredit ini sudah terjadi di bulan ke-enam; penurunan kredit yang terpanjang sejak 1991. Kondisi pasar kredit yang terbilang genting, pendapatan yang stagnan dan penurunan kesejahteraan rumah tangga justru menimbulkan keraguan ditengah upaya pemulihan perekonomian. Program yang dirilis pemerintah 'cash for clunkers' pada bulan Juli lalu, nyatanya tak bisa menopang kemerosotan kredit konsumsi ini. "Para pemberi utang atau perbankan memperketat akses kredit karena risiko telah meningkat dan bersilangan dengan upaya rumah tangga mengurangi pengeluaran," tegas Richard DeKaser, Chief Economist Woodley Park Research di Washington. Asal tahu saja, ia memprediksi penurunan kredit konsumsi ini sebesar US$ 12 miliar; paling pesimis dibandingakn ekonom lain. Menurut perkiraan tengah 31 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, ekonom telah memprediksi kredit konsumsi anjlok US$ 4 miliar di bulan Juli.