JAKARTA. Pertumbuhan kredit tahun 2009 ini dipastikan gagal mencapai angka 10%. Sampai pekan ketiga November, laju pertumbuhan kredit tahunan baru mencapai 6%. Artinya, dalam rentang dua minggu, pertumbuhan kredit justru susut 1,3%. Pada awal November, pertumbuhan kredit masih 7,3%.
Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah menuturkan, penyebab anjloknya pertumbuhan kredit adalah rendahnya penyaluran kredit ke sektor manufaktur. "Permintaan kredit dari sektor manufaktur nilainya paling kecil," ujar Halim, Kamis (24/11). Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menduga ada masalah dengan terus menyusutnya pertumbuhan kredit perbankan ini. Seharusnya BI tidak menganggap remeh persoalan ini, "Pasti ada yang tak beres dengan fungsi intermediasi perbankan," ujarnya. Purbaya menilai, BI sebetulnya bisa campur tangan untuk memaksa bank menyalurkan kredit. Cara yang bisa ditempuh BI, seperti melonggarkan likuiditas dengan mengurangi penyerapan likuiditas melalui Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Saat ini, dana menganggur yang parkir di SBI sudah Rp 280 triliun. "Kebijakan BI aneh dan tidak sinkron," ujarnya. Di satu sisi, suku bunga acuan sudah banyak diturunkan, tapi pada saat bersamaan BI terus menyedot likuiditas di pasar melalui SBI. Akhirnya, pertumbuhan uang mengalami kontraksi. Para bankir pun akhirnya terlalu nyaman menumpuk duit di SBI. Penyebab lain minimnya pertumbuhan kredit adalah bunga kredit yang masih tinggi. Saat ini, bunga acuan sudah 6,5%, namun rata-rata bunga kredit perbankan masih berkisar 13,5%-14%. "Harusnya bunga kredit sudah di angka 11%," ujarnya. Ganggu pertumbuhan BI, ujar Purbaya, harusnya menggiring bank menurunkan bunga kredit. Jika BI membiarkan penyaluran kredit berjalan lambat seperti sekarang, maka pertumbuhan ekonomi akan terkena imbas. "Dampak buruk kredit yang rendah, paling tidak, bakal terasa pada pertengahan tahun depan," katanya. Jika lemahnya pertumbuhan kredit terus berlangsung hingga tahun depan, maka pertumbuhan ekonomi akan terancam. "Kalau pertumbuhan kredit di kuartal satu dan dua 0%, maka pertumbuhan ekonomi bisa berantakan," jelas Purbaya. Direktur Utama Bank Mega Yungki Setiawan menganggap naik turunnya penyaluran kredit perbankan masih dinamis. Menurut Yungki, kalau pekan ini ada penyaluran kredit baru, sementara pekan depan ada pelunasan dalam jumlah besar, otomatis pertumbuhan kredit akan turun. Menurut dia, saat ini tidak ada masalah di perbankan. Kondisi likuiditas di pasar masih mencukupi. "Masalahnya, sebagian besar pebisnis masih bersikap wait and see," ujarnya, Selasa (24/11).
Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Surdaryanto Sudargo menduga, naik turunnya harga komoditi di pasar dunia ikut mempengaruhi penyerapan kredit. Saat harga komoditi turun, perusahaan enggan menggunakan kredit bank karena mereka tidak memerlukan dana untuk ekspansi usaha. Misalnya saat harga minyak kelapa sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) diprediksi akan naik, biasanya permintaan kredit oleh sektor usaha tersebut akan meningkat drastis. Senada dengan Yungki, Sudaryanto menilai debitur masih menahan diri untuk meminta kredit dari bank. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News