Kredit Lesu Tekan Pendapatan Bunga Perbankan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja perbankan nasional masih dibayangi tekanan pada pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Sejumlah bank mencatat pertumbuhan NII yang terbatas, bahkan ada yang minus.

PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) misalnya, mencatatkan pendapatan bunga bersih mencapai Rp 19,14 triliun pada Februari 2026 atau tumbuh 4,84% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 18,25 triliun.

Pada Februari 2026, pertumbuhan kredit BRI mencapai Rp 1.346 triliun, naik 11,30% yoy, dengan pertumbuhan laba 17,06% mencapai Rp 7,73 triliun.


Selanjutnya, pendapatan bunga bersih PT CIMB Niaga hanya tumbuh 1,89% mencapai Rp 1,93 triliun pada Februari 2026 dari Rp 1,90 triliun di periode sama tahun sebelumnya. Adapun kreditnya juga hanya tumbuh 6,67% mencapai Rp 167,60 triliun.

Baca Juga: Prudential Sebut Inflasi Medis Turut Pengaruhi Klaim Asuransi Kesehatan

Bahkan pendapatan bunga bersih PT Bank Central Asia (BCA) terlihat minus 0,15% yoy di Februari 2026 mencapai Rp 12,85 triliun dari Rp 12,87 triliun di Februari 2025. Laba bersih BCA juga hanya tumbuh 2,82% menjadi Rp 9,22 triliun, dan kreditnya hanya tumbuh 5,84% pada Februari 2026 mencapai Rp 953,22 triliun.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, terbatasnya pertumbuhan pendapatan bunga dipengaruhi oleh melambatnya penyaluran kredit serta menurunnya margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Menurut dia, prospek ke depan diharapkan membaik pada paruh kedua 2026, apabila tensi geopolitik mereda, ekonomi mulai bergairah, serta daya beli masyarakat meningkat.

“Strategi yang perlu dilakukan bank antara lain memperbesar porsi dana murah dan meningkatkan efisiensi operasional untuk menekan biaya dana,” ujarnya.

Senada, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut pertumbuhan pendapatan bunga yang minim sejalan dengan permintaan kredit yang masih rendah.

Untuk menjaga kinerja, CIMB Niaga kini lebih mengandalkan pendapatan non-bunga sebagai penopang. Perseroan mengoptimalkan lini bisnis seperti wealth management dan produk treasury guna mengimbangi perlambatan pendapatan bunga.

Sementara itu, Bank Central Asia tetap menjaga keseimbangan antara pendapatan bunga dan non-bunga. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, hingga dua bulan pertama 2026, kinerja pendapatan perseroan masih terjaga.

Baca Juga: OJK Sebut Tagihan Lender Berstatus Tidak Terverifikasi Masih Dianalisis Tim Likuidasi

Secara bank only, BCA mencatat laba bersih sebesar Rp9,2 triliun per Februari 2026. Pendapatan bunga bersih dinilai akan sangat bergantung pada permintaan kredit, kondisi ekonomi, serta pergerakan suku bunga.

Di sisi lain, pendapatan non-bunga terus diperkuat melalui peningkatan aktivitas transaksi. Sepanjang 2025, total frekuensi transaksi BCA tumbuh 17% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 42 miliar transaksi. Bahkan, pada periode puncak, BCA mampu memproses hampir 300 juta transaksi dalam satu hari.

Transaksi digital juga mencatatkan pertumbuhan signifikan, dengan frekuensi mobile banking dan internet banking meningkat 19% YoY hingga akhir 2025.

Hera menambahkan, peningkatan tersebut didorong oleh inovasi layanan serta ekspansi ekosistem transaksi, baik melalui kanal digital maupun jaringan fisik.

Ke depan, BCA akan terus memperkuat platform transaksi yang aman dan andal, sekaligus menghadirkan solusi yang relevan bagi kebutuhan nasabah. Langkah ini diharapkan dapat memperluas basis nasabah serta meningkatkan volume transaksi, yang pada akhirnya menopang pertumbuhan pendapatan non-bunga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News