Kredit melambat, bank genjot pendapatan komisi



JAKARTA. Para bankir tengah berupaya mencari potensi sumber kontribusi bagi pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income di tahun ini. Upaya mencari fee based ini akan dimaksimalkan, mengingat prediksi pertumbuhan kredit tahun ini tidak akan lebih tinggi dari tahun 2014.

Contohnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Bank milik pemerintah ini terus meningkatkan pemanfaatan teknologi dalam menggenjot bisnis transaksi e-channel dan e-banking.

Kontribusi fee based income dari kedua layanan tersebut di tahun lalu tumbuh hingga 51,3%. Achmad Baiquni, Direktur Keuangan BRI bilang, kontribusi fee dari e-channel dan e-banking tumbuh paling tinggi. "Tapi kontributor utama masih dari biaya administrasi simpanan," ujar Baiquni, Rabu (7/1).


Hingga September 2014, fee based income BRI meningkat 23,8% menjadi Rp 4,2 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 3,4 triliun.

Tak mau kalah, Roy A. Arfandy, Direktur Utama Bank Permata mengatakan, pihaknya terus menggenjot sumber fee based dari bisnis yang sudah ada. "Terutama dari transactional banking dan bancassurance," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (7/1).

Per September 2014, fee based Bank Permata meningkat 28% menjadi Rp 1,2 triliun. Peningkatan ini berkat dukungan bancassurance, trade finance dan aktivitas transaksi berbasis biaya lainnya.

Lain halnya dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang mencium potensi pemasukan fee based dari anak usaha. Meski begitu, Raymon Yonarto, Kepala Divisi Perencanaan dan Keuangan BCA mengatakan, kontribusi fee based itu belum bernilai material.

Sekedar gambaran, total fee based BCA hingga kuartal III 2014 bernilai Rp 5,3 triliun. "Angka itu mencerminkan pertumbuhan sebesar 15%," kata Raymon.

Parwati Surjaudaja, Direktur Utama Bank OCBC NISP optimistis pendapatan fee based banknya di tahun ini akan kembali membaik. "Tahun lalu pertumbuhan fee based tidak lebih baik karena turunnya pendapatan forex related income," tutur Parwati.

Selain dari forex, Parwati menyebut, sumber fee based NISP juga berasal dari surat berharga, trade finance dan wealth management.

Bank Bukopin juga mengincar sumber pendapatan komisi dari transaksi perbankan. Di kuartal III 2014,  pertumbuhan fee based Bukopin mencapai 26,54% menjadi sekitar Rp 723,7 miliar.

Tri Joko Prihanto, Direktur Keuangan dan Perencanaan Bukopin bilang, pihaknya juga mengincar fee based dari layanan pembayaran listrik, kartu kredit, dan trade finance. Per September 2014, bisnis kartu kredit menyumbang porsi terbesar, yakni 30% terhadap fee based Bukopin.

Sementara transaksi perbankan menopang 20% komisi. "Fee based akan tumbuh pada kisaran 16%–20% hingga akhir tahun 2014," kata Joko. Dia pun berharap ini akan menjadi amunisi Bukopin mencetak laba tahun 2014.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News