KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis kredit pensiunan masih dinilai menjanjikan meski daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Sejumlah bank yang fokus menggarap segmen ini masih mencatatkan pertumbuhan positif, didukung oleh besarnya basis nasabah pensiunan dan strategi pengembangan produk yang lebih beragam. Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY Agus Trimurjanto mengatakan, perseroan saat ini mengelola pembayaran gaji sekitar 45.000 pensiunan. Namun, baru sekitar 30% dari total nasabah tersebut yang memanfaatkan fasilitas kredit pensiunan.
Baca Juga: Bos Bank Mandiri Borong 50.000 Saham BMRI "Kami mengelola gaji pensiunan kurang lebih 45.000 orang. Dari keseluruhan tersebut yang menikmati kredit baru sekitar 30%, sehingga masih terdapat potensi yang dapat digali," ujar Agus kepada Kontan. Meski demikian, pertumbuhan kredit pensiunan Bank BPD DIY masih relatif terbatas. Hingga Mei 2026,
outstanding kredit pensiunan tercatat sekitar Rp 836 miliar atau hanya tumbuh 0,93% secara tahunan. Menurut Agus, kondisi tersebut dipengaruhi oleh pelemahan daya beli dan meningkatnya kehati-hatian pensiunan dalam mengambil pinjaman baru. "Pertumbuhan kredit pensiunan sangat dipengaruhi kondisi daya beli dan prioritas kebutuhan yang diutamakan. Mereka cenderung menahan diri untuk mengambil kredit karena kondisi ekonomi yang masih sulit," katanya. Dari sisi kualitas aset, kredit pensiunan Bank BPD DIY masih terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 1,5%. Apabila kondisi ekonomi belum membaik hingga akhir tahun, Bank BPD DIY memperkirakan pertumbuhan kredit pensiunan hanya berada di kisaran 3% secara tahunan. Di sisi lain, PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) masih mencatatkan pertumbuhan yang lebih agresif di segmen pensiunan. Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan mengatakan bisnis pensiunan tetap memiliki prospek yang besar meski persaingan semakin ketat seiring bertambahnya pemain baru di segmen tersebut.
Baca Juga: Simpanan Nasabah Kaya Makin Menggunung di Perbankan Saat ini Bank Mandiri Taspen menempati peringkat kedua pengelola pensiunan aparatur sipil negara (ASN) dengan jumlah sekitar 591.000 pensiunan atau setara pangsa pasar 18%. Sementara pada segmen pensiunan TNI/Polri, perseroan berada di peringkat keempat dengan jumlah sekitar 57.000 nasabah atau pangsa pasar 11%. "Artinya Bank Mandiri Taspen masih memiliki ruang dan potensi untuk terus tumbuh di segmen ini dalam beberapa tahun ke depan," ujar Panji. Hingga Maret 2026, Bank Mandiri Taspen mencatat jumlah nasabah pensiunan ASN dan TNI/Polri mencapai 648.000 orang, meningkat sekitar 101.000 orang atau tumbuh 18,6% secara tahunan. Dari sisi penyaluran kredit, Bank Mandiri Taspen membukukan kredit pensiunan sebesar Rp 50,9 triliun pada Maret 2026 atau tumbuh 9,1% YoY. Panji menjelaskan, pertumbuhan tersebut ditopang sejumlah strategi, mulai dari optimalisasi konversi nasabah non-kredit, pengembangan produk inovatif, peningkatan produktivitas pegawai melalui program
cross selling, hingga simplifikasi proses kredit. Selain itu, Bank Mandiri Taspen juga mengandalkan program tiga pilar yang terdiri dari Mantap Sehat, Mantap Aktif, dan Mantap Sejahtera untuk memperkuat loyalitas nasabah pensiunan. "Program tersebut mencakup akses fasilitas kesehatan gratis, kegiatan Komunitas Mantap Indonesia, hingga pelatihan kewirausahaan yang menjadi nilai tambah bagi nasabah pensiunan," jelasnya. Dari sisi kualitas aset, rasio NPL Bank Mandiri Taspen tercatat sebesar 0,71% hingga Maret 2026, jauh di bawah ambang batas regulator sebesar 5%.
Baca Juga: Outstanding Kredit Pensiunan Bank BPD DIY Capai Rp 836 Miliar Hingga Mei 2026 Perusahaan ini menargetkan rasio NPL tetap terjaga pada kisaran 0,5%-0,8% sepanjang tahun ini melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan penyaluran kredit yang selektif. Menariknya, sebagian besar kredit pensiunan yang disalurkan Bank Mandiri Taspen tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga aktivitas produktif. Melalui program Mantap Sejahtera, perseroan aktif mengembangkan potensi kewirausahaan para pensiunan melalui pelatihan bisnis, pendampingan usaha, akses pembiayaan, hingga dukungan pemasaran melalui platform digital.
"Bank secara aktif berperan dalam mendorong terciptanya pensiunan yang produktif dan sejahtera dengan mengembangkan potensi kewirausahaan para pensiunan," kata Panji. Untuk tahun ini, Bank Mandiri Taspen optimistis kredit pensiunan dapat tumbuh sekitar 10% secara tahunan menjadi Rp 55,4 triliun. Target tersebut akan didorong melalui pengembangan produk baru, peningkatan produktivitas tenaga pemasar, penyempurnaan proses kredit, serta penguatan sinergi dengan induk usaha dan entitas dalam grup. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News