KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit perbankan pada Maret 2026 menunjukkan perbaikan yang cukup solid setelah sempat melambat di awal tahun. Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan kredit kembali menguat baik secara tahunan maupun secara kumulatif sejak akhir 2025, menandakan mulai pulihnya permintaan pembiayaan di tengah perbaikan aktivitas ekonomi. Per Maret 2026, kredit perbankan tumbuh 9,49% secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari yang sebesar 9,37%. Jika dihitung sejak akhir 2025, kredit juga sudah naik 0,83%, berbalik dari kondisi Februari yang masih terkontraksi 0,32%.
Perbaikan ini memperlihatkan bahwa momentum ekspansi kredit mulai kembali terbentuk setelah awal tahun yang cenderung hati-hati.
Baca Juga: Bank Indonesia Minta Penurunan Suku Bunga Lebih Agresif Demi Kredit Tumbuh Dari sisi jenis kredit, pertumbuhan paling kuat masih ditopang oleh kredit investasi yang melonjak 20,85% yoy, mencerminkan mulai bergeraknya kembali proyek-proyek jangka panjang di sektor riil. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh tipis 4,38% yoy, namun membaik dari bulan sebelumnya yang hanya 3,88%. Di sisi lain, kredit konsumsi justru menunjukkan perlambatan, dari 6,34% menjadi 5,88%, menandakan kehati-hatian masyarakat dalam belanja rumah tangga masih berlanjut. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai tren ini sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional yang terus berlangsung. Ia menegaskan BI tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit di kisaran 8%–12% sepanjang 2026. “Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan, terutama dengan mengoptimalkan undisbursed loan yang masih cukup besar,” ujar Perry kemarin. Dari sisi perbankan, likuiditas disebut masih memadai dan minat penyaluran kredit tetap terjaga. Namun BI mencatat standar pemberian kredit cenderung longgar, meski kehati-hatian masih diterapkan khususnya pada segmen UMKM dan konsumer, yang sensitif terhadap kondisi ekonomi.
Baca Juga: BI Optimistis Penyaluran Kredit Tumbuh 12% pada 2026 Di tengah tren pemulihan tersebut, sejumlah bank besar turut mencatat kinerja kredit yang agresif. Bank Mandiri membukukan pertumbuhan kredit 17,4% yoy per Maret 2026, dengan kenaikan 2,21% secara kuartalan. Segmen korporasi menjadi motor utama dengan lonjakan 29,2% yoy, sementara kredit komersial tumbuh 13,34%. Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menilai, meski prospek ekspansi masih terbuka, ketidakpastian global tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai karena dapat memengaruhi kondisi domestik, termasuk sektor perbankan. Ia juga menyoroti tekanan harga energi serta pelemahan daya beli yang berpotensi meningkatkan risiko kredit. "Kami memperketat strategi penyaluran kredit dengan memprioritaskan sektor yang tahan banting dan memperkuat pengawasan portofolio secara berkelanjutan," ujarnya.
Baca Juga: Maybank Indonesia Tunjuk Zulkiflee Abbas Abdul Hamid Sebagai Presiden Komisaris Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) mencatat pertumbuhan kredit 10,3% yoy. Lonjakan tertinggi berasal dari segmen korporasi yang naik 51,9% dan komersial sebesar 12,3%, sedangkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebagai bisnis inti tumbuh 5,9%. BTN masih menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 10% pada 2026. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut, dorongan utama akan datang dari program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Kredit Program Perumahan (KPP), yang diharapkan terus menjaga momentum pertumbuhan sektor perumahan di tengah dinamika ekonomi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News