KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit perbankan masih ditopang sektor-sektor produktif hingga akhir 2026. Industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, properti, hingga sektor yang terkait hilirisasi dinilai masih menjadi sumber pertumbuhan kredit perbankan. BI mencatat kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 9,98% pada April 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang kredit investasi yang naik 21,95% yoy, kredit modal kerja 8,09% yoy, dan kredit konsumsi 5,89% yoy. BI pun memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada di kisaran 8%-12%. Berdasarkan data analisis uang beredar BI, Kredit Modal Kerja (KMK) didorong sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan. Sementara Kredit Investasi (KI) meningkat dengan penopang utama sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan, serta pengangkutan dan komunikasi. Sejalan dengan itu, sejumlah bank besar masih membukukan pertumbuhan kredit yang kuat. Bank Mandiri misalnya, mencatat pertumbuhan kredit 20,6% yoy menjadi Rp 1.580 triliun hingga Mei 2026. Baca Juga: Kredit Produktif Jadi Andalan Perbankan di Tengah Perlambatan Kredit Konsumsi Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista mengatakan, pertumbuhan tersebut ditopang pembiayaan pada sektor-sektor produktif, termasuk hilirisasi, UMKM, dan aktivitas usaha yang mendorong investasi serta penciptaan lapangan kerja. "Bank Mandiri terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan menyalurkan pembiayaan secara selektif ke sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan positif dan mampu memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional," ujar Adhika kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).
Kredit Perbankan Masih Ditopang Sektor Produktif hingga Akhir 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit perbankan masih ditopang sektor-sektor produktif hingga akhir 2026. Industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, properti, hingga sektor yang terkait hilirisasi dinilai masih menjadi sumber pertumbuhan kredit perbankan. BI mencatat kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 9,98% pada April 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang kredit investasi yang naik 21,95% yoy, kredit modal kerja 8,09% yoy, dan kredit konsumsi 5,89% yoy. BI pun memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada di kisaran 8%-12%. Berdasarkan data analisis uang beredar BI, Kredit Modal Kerja (KMK) didorong sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan. Sementara Kredit Investasi (KI) meningkat dengan penopang utama sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan, serta pengangkutan dan komunikasi. Sejalan dengan itu, sejumlah bank besar masih membukukan pertumbuhan kredit yang kuat. Bank Mandiri misalnya, mencatat pertumbuhan kredit 20,6% yoy menjadi Rp 1.580 triliun hingga Mei 2026. Baca Juga: Kredit Produktif Jadi Andalan Perbankan di Tengah Perlambatan Kredit Konsumsi Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista mengatakan, pertumbuhan tersebut ditopang pembiayaan pada sektor-sektor produktif, termasuk hilirisasi, UMKM, dan aktivitas usaha yang mendorong investasi serta penciptaan lapangan kerja. "Bank Mandiri terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan menyalurkan pembiayaan secara selektif ke sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan positif dan mampu memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional," ujar Adhika kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).
TAG: