Kredit Perbankan Melaju 13%, Ini Saham Bank Pilihan Mirae Asset Sekuritas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham perbankan berkapitalisasi besar bergerak beragam di tengah akselerasi pertumbuhan kredit nasional yang mulai meninggalkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Kondisi likuiditas yang semakin ketat menjadi perhatian investor, terutama karena bank harus menjaga ekspansi kredit di tengah pertumbuhan sumber pendanaan yang lebih lambat.

Pada awal pekan ini Senin (31/8/2026), saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 1,88% ke level Rp 3.250 per saham. Dalam lima hari perdagangan, saham BBRI juga masih mencatat kenaikan 0,62%.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turut bergerak positif dengan kenaikan 0,39% ke Rp 6.450 per saham. Dalam periode lima hari, saham BBCA juga naik 0,39%.


Baca Juga: AAJI:Premi Asuransi Jiwa Syariah Turun 20,2% pada Semester I-2026,Spin-Off Diandalkan

Sementara itu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 0,47% menjadi Rp 4.230 per saham. Meski melemah dalam sehari, saham BMRI masih mencatat kenaikan 0,24% dalam lima hari.

Pergerakan paling kuat terlihat pada saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Saham BBNI naik 2,21% ke Rp 3.860 per saham dan mengakumulasi kenaikan 3,49% dalam lima hari.

Pergerakan saham bank besar tersebut terjadi ketika pertumbuhan kredit nasional menunjukkan akselerasi signifikan. Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin dalam riset 27 Agustus 2026 mencatat, penyaluran kredit perbankan mencapai Rp 8.970 triliun pada Juli 2026.

Kredit tumbuh 13,0% secara tahunan dan 0,6% secara bulanan. Pertumbuhan terutama ditopang kredit investasi yang melesat 23,1% YoY dan tumbuh 0,8% MoM.

Kredit modal kerja juga menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan 11,6% secara year on year (yoy) atau naik 0,7% month on month (mom). Sementara kredit konsumsi masih relatif tertahan dengan pertumbuhan 5,3% YoY dan hanya meningkat 0,2% MoM.

Nurkholis menilai akselerasi kredit investasi menjadi perhatian karena pertumbuhannya telah menembus 20% YoY dan mendekati level pertumbuhan terkuat sejak awal 2010-an. Kredit modal kerja juga telah kembali mencatat pertumbuhan dua digit.

“Pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,0% secara tahunan (YoY), dan semakin jauh melampaui pertumbuhan pendanaan,” tulis Nurkholis.

Kredit Melaju, DPK Tertinggal

Di balik pertumbuhan kredit yang kuat, perbankan menghadapi tantangan dari sisi pendanaan. Total simpanan perbankan pada Juli 2026 tercatat Rp9.667 triliun, hanya tumbuh 7,7% YoY dan justru turun 0,5% MoM.

Baca Juga: AAJI Catat Premi Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 8,2% di Semester I-2026

Artinya, terdapat kesenjangan 5,3 poin persentase antara pertumbuhan kredit dan DPK.

Berdasarkan komponennya, giro menjadi sumber pendanaan dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 10,5% YoY, disusul tabungan 8,2% dan deposito 4,8%.

Namun, seluruh komponen tersebut mengalami kontraksi secara bulanan. Giro turun 1,0% MoM, tabungan turun 0,5%, sedangkan deposito terkoreksi 0,1%.

Rasio CASA masih relatif sehat di level 64,5%, naik 98 basis poin secara tahunan. Namun, rasio tersebut turun 15 bps secara bulanan.

Menurut Nurkholis, pemulihan pertumbuhan DPK memang sudah terlihat dibandingkan titik terendah pada 2023-2024. Namun, lajunya masih tertinggal dari pertumbuhan kredit.

Kondisi tersebut membuat bank semakin perlu bersaing mendapatkan dana untuk menopang ekspansi kredit. Pada akhirnya, persaingan mendapatkan dana berpotensi meningkatkan biaya pendanaan marginal.

LDR Naik, BNI dan Mandiri Berpotensi Diuntungkan KLM

Tekanan likuiditas juga tercermin dari kenaikan loan to deposit ratio (LDR) sistem perbankan.

LDR naik menjadi 92,8% pada Juli 2026, dari 91,7% pada Juni 2026 dan 88,4% pada Juli 2025. Dengan demikian, LDR meningkat 105 bps secara bulanan dan 437 bps secara tahunan.

Baca Juga: Bank Digital Adu Strategi Demi Memacu Pertumbuhan Kredit di Sisa Tahun 2026

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan kondisi likuiditas sebenarnya lebih ketat apabila dukungan dari penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah tidak diperhitungkan.

Tanpa dukungan SAL tersebut, LDR sistem diperkirakan mencapai sekitar 96,6% hingga tujuh bulan pertama 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan LDR yang dilaporkan sebesar 92,8%.

Dalam jangka pendek, tekanan likuiditas diperkirakan dapat sedikit mereda setelah revisi kerangka Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) mulai berlaku pada 1 September 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi kuartal II 2026, BBNI dan BMRI berpotensi menjadi salah satu bank yang paling diuntungkan dari perubahan kebijakan tersebut.

Meski demikian, Nurkholis menilai penempatan SAL dan revisi KLM lebih berfungsi sebagai bantalan jangka pendek dan belum menyelesaikan persoalan struktural berupa kesenjangan pertumbuhan kredit dan DPK.

Selama pertumbuhan kredit terus berada jauh di atas pertumbuhan simpanan, tekanan likuiditas perbankan masih berpotensi berlanjut.

BBCA dan BRIS Jadi Pilihan Mirae

Dengan kondisi tersebut, Mirae Asset Sekuritas memilih untuk tetap selektif terhadap saham perbankan Indonesia.

BBCA dan BRIS menjadi dua saham yang dipilih sebagai top picks. Preferensi tersebut didukung oleh profil pendanaan yang relatif kuat, bantalan likuiditas yang memadai, serta fleksibilitas neraca yang lebih besar.

Baca Juga: Kredit Modal Kerja Perbankan Melaju 11,6%, Sektor Produktif Jadi Penopang

“BBCA dan BRIS tetap menjadi saham pilihan kami, didukung oleh profil pendanaan yang relatif kuat serta fleksibilitas neraca yang lebih besar,” tulis Nurkholis.

Sebaliknya, investor disarankan lebih berhati-hati terhadap bank yang agresif menggenjot kredit tetapi menghadapi likuiditas yang semakin ketat dan biaya pendanaan marginal yang meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: