KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan menunjukkan akselerasi pada pengujung 2025. Pada Desember 2025, total kredit yang disalurkan perbankan tercatat mencapai Rp 8.448,1 triliun, tumbuh 9,3% secara tahunan (year on year/yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada November 2025 yang sebesar 7,9% yoy. Berdasarkan data Uang Beredar BI yang dipublikasikan pada (23/1), dari sisi debitur, pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh penyaluran kepada debitur korporasi yang tumbuh cukup solid sebesar 14,6% yoy.
Sementara itu, kredit kepada perorangan masih mencatatkan pertumbuhan yang lebih terbatas, yakni 3,1% yoy.
Baca Juga: CNAF Andalkan Pembiayaan Multiguna di Tengah Penjualan Kendaraan yang Belum Pulih Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja (KMK) pada Desember 2025 tumbuh 4,4% yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 2,5% yoy. Pertumbuhan KMK terutama bersumber dari meningkatnya pembiayaan pada sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih, serta Konstruksi. Sejalan dengan itu, Kredit Investasi (KI) juga menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Pada Desember 2025, KI tumbuh 20,5% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan November 2025 yang sebesar 17,8% yoy. Pertumbuhan terutama terutama ditopang oleh peningkatan kredit pada sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan, serta Industri Pengolahan. Sementara itu, Kredit Konsumsi (KK) tercatat tumbuh 6,4% yoy pada Desember 2025, sedikit melambat dibandingkan November 2025 yang tumbuh 7,2% yoy. Pertumbuhan kredit konsumsi masih didorong oleh perkembangan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Multiguna. Dari sisi sektoral, penyaluran kredit properti mencatatkan pertumbuhan yang cukup kuat sebesar 13,0% yoy, meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,5% yoy. Pertumbuhan ini terutama berasal dari melonjaknya kredit konstruksi yang tumbuh hingga 28,2% yoy. Di sisi lain, penyaluran kredit kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menghadapi tekanan. Pada November 2025, kredit UMKM tercatat mengalami kontraksi 0,3% yoy, meskipun lebih baik dibandingkan kontraksi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,7% yoy. Perbaikan kinerja kredit UMKM terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit skala kecil yang tumbuh 6,8% yoy. Namun demikian, kredit UMKM skala mikro dan menengah masih mencatatkan kontraksi masing-masing sebesar 4,6% yoy dan 2,0% yoy. Berdasarkan jenis penggunaan, kontraksi kredit UMKM pada Desember 2025 terutama dipengaruhi oleh masih melemahnya Kredit Modal Kerja UMKM yang terkontraksi 4,2% yoy.
Baca Juga: Inovasi Ekonomi dan Pemberdayaan Holistik Bawa Nasabah PNM Naik Kelas Secara keseluruhan, kinerja kredit perbankan di akhir 2025 menunjukkan penguatan, terutama pada segmen korporasi, kredit investasi, dan sektor properti. Namun, pemulihan kredit UMKM masih memerlukan dorongan lanjutan seiring dengan perbaikan aktivitas ekonomi riil dan sektor produktif. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan bahwa di tengah minat penyaluran kredit perbankan yang tetap terjaga, terdapat sejumlah faktor utama yang menopang kinerja kredit sepanjang tahun lalu. "Dari sisi permintaan, korporasi secara bertahap mulai meningkatkan ekspansi usaha, khususnya pada sektor-sektor produktif yang berkaitan dengan program pemerintah. Hal ini sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi makro yang semakin solid," ungkap Ramdan kepada kontan.co.id, Rabu (21/1/2026). Selain itu, respons kebijakan Bank Indonesia yang bersifat akomodatif turut berperan mendorong pertumbuhan kredit. Pelonggaran kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga, serta penguatan kebijakan makroprudensial melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), dampaknya semakin terasa terutama pada akhir 2025. Hingga minggu pertama Januari 2026, total insentif KLM telah mencapai Rp 397,9 triliun. Ramdan menambahkan, kebijakan pemerintah juga memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan permintaan kredit, khususnya melalui pembiayaan program prioritas Kebijakan Dukungan Makroekonomi dan Pembiayaan (KDMP) yang realisasinya banyak terjadi di penghujung tahun. Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8%–12%.
Baca Juga: Kerek Laba di 2026, MUF Terapkan Sejumlah Strategi Ini "Dengan berbagai faktor tersebut, BI optimistis pertumbuhan kredit perbankan tetap berada pada jalur yang mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News