Kredit Perbankan Tumbuh 11,83% pada Awal 2024, Ini Penopangnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit perbankan tumbuh tinggi pada Januari 2023, mencapai 11,83% secara tahunan (year on year/YoY). Gubernur BI Perry Warjiyo bilang pertumbuhan tersebut didukung oleh meningkatnya permintaan kredit yang didorong oleh terjaganya kinerja korporasi dan rumah tangga.

Hal ini juga sejalan dengan Bank yang mendorong penyaluran kredit pada sektor potensial yang menjadi ekspertise bank dan sesuai risk appetite, antara lain ke Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Industri, Pertanian, Jasa Dunia Usaha, dan Konsumsi.

Secara umum, sektor-sektor tersebut menunjukkan kinerja usaha korporasi yang baik, mendorong terjaganya kemampuan membayar


"Sementara secara sektoral, pertumbuhan kredit terutama terjadi pada sektor Pertambangan, Jasa Sosial, dan Jasa Dunia Usaha," kata Perry, Rabu (21/2)

Baca Juga: OJK Minta Bank Hentikan Penyaluran Kredit Ke Fintech P2P Lending yang Gagal Bayar

Sementara itu pembiayaan syariah juga terus melanjutkan pertumbuhan tinggi, yaitu mencapai 15,67% YoY pada Januari 2024, sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 8,97% YoY.

Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit ditopang oleh kredit investasi dan kredit modal kerja, masing-masing tumbuh sebesar 13,39% dan 12,26% YoY, diikuti kredit konsumsi yang tumbuh sebesar 9,64% YoY.

Perry bilang, ke depan BI terus memperkuat efektivitas implementasi kebijakan makroprudensial yang akomodatif, dan meningkatkan sinergi dengan Pemerintah, otoritas keuangan, Kementerian/Lembaga, perbankan, serta pelaku dunia usaha. Sehingga dia optimis pertumbuhan kredit 2024 diprakirakan meningkat dalam kisaran 10%-12%. 

Seiring dengan permintaan kredit yang meningkat, Bank juga didukung oleh permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai. Ketersediaan likuiditas perbankan tercermin pada tingginya rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,79% pada Januari 2024.

Selain itu didukung pula oleh kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) Bank Indonesia, khususnya bagi bank-bank yang menyalurkan kredit pada sektor-sektor prioritas

Baca Juga: Dipastikan Pensiun Tahun Ini, Bos Maybank Indonesia Beri Pesan untuk Penggantinya

Rasio kredit bermasalah perbankan (NPL) juga tercatat rendah, sebesar 2,19% (bruto) dan 0,71% (neto).

"Hasil stress-test Bank Indonesia juga menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko ketidakpastian ke depan," kata Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi