Kredit perikanan belum digunakan maksimal



JAKARTA. Tingkat suku bunga kredit pada berbagai program di sektor kelautan dan perikanan dinilai perlu diturunkan agar semakin banyak pelaku usaha yang berminat mengambilnya. Direktur Eksekutif Center of Maritime Studies for Humanities, Abdul Halim, mengatakan, ini sembari mengembangkan sektor tersebut selaras dengan visi poros maritim dunia.

"KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) bekerja sama dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Kadin sudah memulai dengan program Jaring, hanya saja bunga pengembalian kreditnya masih tergolong tinggi, mencapai 9,45%," katanya di Jakarta, Rabu (22/2).

Untuk itu, menurut Abdul Halim, dibutuhkan keterbukaan di antara para pihak untuk memfasilitasi kesejahteraan pelaku usaha perikanan terutama yang berskala kecil.


Dia mencontohkan KKP dapat mempercepat penyelesaian program Sertifikasi Hak atas Tanah Nelayan agar kendala agunan yang kerap dipermasalahkan perbankan bisa terselesaikan.

"Demikian pula dengan perbankan, dibutuhkan kearifan dalam melihat potensi kemakmuran masyarakat pesisir di sektor usaha perikanan dan pergaraman skala kecil melalui pendampingan kredit lunak berbunga kecil," katanya.

Pada titik ini, ujar Abdul Halim, pemerintah harus bekerja ekstra memastikan program kredit perikanan dan peragaraman bisa diakses dan memberi manfaat secara ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup di seluruh 10.666 desa pesisir di Tanah Air.

Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk meningkatkan target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan pada tahun 2017.

Deputi Pemimpin Divisi Bisnis Usaha Kecil BNI Arif Sularso bilang, dari total penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2016 sekitar Rp 89 miliar yang disalurkan untuk sektor perikanan, akan ditingkatkan menjadi sekitar Rp 575 miliar. 

Untuk itu, BNI juga menerapkan beberapa strategi untuk dapat mencapai target tersebut. Di antaranya seperti kerja sama dengan divisi korporasi membuat skema pembiayaan rantai. 

(Razi Rahman)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini