Kredit Produktif Jadi Andalan Bank di Tengah Lesunya Kredit Konsumsi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi, penyaluran kredit produktif justru menjadi motor pertumbuhan industri perbankan.

Kredit investasi dan kredit modal kerja mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi seiring meningkatnya aktivitas dunia usaha dan kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, kredit konsumsi per Mei 2026 tumbuh 5,8% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp2.383,1 triliun. Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 6% pada April 2026.


Baca Juga: BSI Kebut Pengembangan AI, Bidik Produktivitas dan Pertumbuhan Bisnis

Sebaliknya, kredit modal kerja (KMK) tumbuh 7,9% YoY menjadi Rp3.702,5 triliun pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,8% pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh pembiayaan ke sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan.

Sementara itu, kredit investasi (KI) mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 20,5% YoY menjadi Rp2.673,4 triliun, meningkat dari pertumbuhan 18,4% pada April 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh pembiayaan ke sektor keuangan, real estat, jasa perusahaan, serta sektor transportasi dan komunikasi.

Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, pergeseran tersebut mencerminkan mulai pulihnya ekspansi dunia usaha, sementara daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya pulih sehingga permintaan kredit konsumsi masih tertahan.

"Pertumbuhan kredit produktif yang melampaui kredit konsumsi mencerminkan mulai pulihnya ekspansi sektor usaha, sementara daya beli masyarakat masih tertahan sehingga permintaan kredit konsumsi belum optimal," ujar Trioksa kepada Kontan.co.id, Kamis (2/7).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat perbankan mulai meningkatkan porsi kredit produktif. Namun, hal itu bukan berarti bank meninggalkan kredit konsumsi.

"Permintaan pembiayaan dari korporasi lebih kuat, nilai pembiayaannya lebih besar, dan risikonya relatif lebih terukur melalui analisis arus kas usaha," katanya.

Trioksa memproyeksikan kredit produktif akan tetap menjadi motor pertumbuhan industri perbankan hingga akhir tahun. Kredit investasi diperkirakan masih mampu tumbuh dua digit, sementara secara keseluruhan kredit produktif berpotensi meningkat sekitar 9% hingga 12%, sejalan dengan target pertumbuhan kredit industri.

Adapun sektor yang dinilai masih prospektif meliputi hilirisasi industri, manufaktur, pangan dan pertanian, energi, infrastruktur, logistik, kesehatan, ekonomi digital, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terintegrasi dalam rantai pasok industri.

"Untuk memanfaatkan momentum tersebut, bank perlu memperkuat pembiayaan berbasis ekosistem dan supply chain, memprioritaskan debitur dengan fundamental serta arus kas yang kuat, sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan profitabilitas," ujarnya.

Strategi serupa juga ditempuh PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank). Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, perseroan akan lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor produktif yang mampu mendorong aktivitas ekonomi nasional.

"Kalau sektor produktif, tentu kami akan lebih fokus ke sana. Kami ingin mendukung perusahaan-perusahaan agar lebih produktif, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia," ujar Kunardy.

Meski demikian, KB Bank tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Menurut Kunardy, perseroan akan tetap menjalankan kebijakan kredit (credit policy) secara prudent dengan tetap membuka ruang pertumbuhan pada segmen ritel secara terukur.

"Kualitas aset tetap menjadi prioritas utama. Prinsip kami adalah quality first, then scale," katanya.

Ia menambahkan, pembiayaan akan difokuskan kepada sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat dan mampu bertahan di tengah perlambatan ekonomi.

"Strategi penyaluran kredit yang selektif dan berkelanjutan akan menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri perbankan ke depan," ujarnya.

Sementara itu, Citibank N.A. Indonesia (Citi Indonesia) juga melihat, permintaan kredit produktif dari segmen korporasi masih tetap solid.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan, sebagai bank yang fokus pada pembiayaan korporasi, Citi masih mencatat permintaan pembiayaan yang seimbang antara kebutuhan modal kerja (working capital) dan belanja modal (capital expenditure).

"Kami melayani empat segmen utama, yakni korporasi lokal, lembaga keuangan, sektor publik, dan perusahaan multinasional," ujar Batara.

Menurutnya, hingga kini permintaan pembiayaan masih relatif berimbang baik dari perusahaan multinasional maupun korporasi domestik.

"Kami masih melihat permintaan pembiayaan yang seimbang, baik untuk kebutuhan modal kerja guna mendukung operasional perusahaan maupun untuk belanja modal (capex)," kata Batara.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan aktivitas investasi dan operasional dunia usaha masih berjalan meskipun ketidakpastian ekonomi global belum sepenuhnya mereda.

Baca Juga: BTN Perluas Penggunaan AI, Efisiensi Operasional Makin Terdongkrak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News