KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laju kencang pertumbuhan kredit perbankan masih didorong oleh segmen korporasi. Kinerja kredit ritel jauh di bawah, seiring sikap bank yang lebih berhati-hati dan memilih menjaga kualitas aset. Laporan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Agustus 2026 kredit perbankan berhasil tumbuh 13,3% secara tahunan (
year-on-year/yoy), melaju dari pertumbuhan 13% yoy pada bulan sebelumnya. Jika dilihat berdasarkan golongan debiturnya, kredit ke korporasi dan ke ritel menunjukkan kinerja yang cukup kontras. Sementara kredit korporasi tumbuh subur 21,6% yoy, melaju dari pertumbuhan 20,9% yoy, kredit ritel hanya tumbuh 3,5% yoy, sedikit melambat dari pertumbuhan 3,6% yoy.
Baca Juga: MNC Bank, JCB dan Kawasaki Berkolaborasi Luncurkan Tiga Kartu Kredit Baru Itu sejalan dengan kredit investasi dan modal kerja yang masing-masing tumbuh 23,4% yoy dan 12,3% yoy, sementara kredit konsumsi hanya tumbuh 4,2% yoy. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyebut, tertahannya ekspansi kredit ritel sejalan dengan kenaikan risiko di segmen ini. BRIDS mencatat, rasio kredit bermasalah (
non performing loan/NPL) di kredit konsumer meningkat jadi kisaran 2,4%–2,5% hingga tengah tahun ini, dari posisi 1,6% pada Januari 2023. Dalam kondisi ini, BRIDS menyoroti strategi Bank Central Asia (BCA) yang justru mengerem pertumbuhan kredit konsumer. Langkah BCA itu dianggap sebagai sinyal bahwa perbankan mulai lebih berhati-hati terhadap risiko di segmen ritel. “BCA biasanya paling cepat membaca risiko, jadi ini sinyal risiko ritel lebih besar dari yang terlihat di angka NPL industri,” jelas BRI Danareksa Sekuritas dalam riset 24 September 2026. Hingga semester I-2026, kredit konsumer BCA memang turun 2,4% yoy menjadi Rp 221 triliun. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn bilang itu sejalan dengan kondisi perekonomian.
Baca Juga: Bank Mandiri Rilis Obligasi Berkelanjutan Rp 5 Triliun, Tawarkan Kupon Hingga 8,65% Meski landai, Hera memastikan penyaluran kredit dilakukan beriringan dengan monitoring risiko untuk menjaga kualitas aset, yang menurutnya hingga kini masih terkendali. Sebagai gambaran, secara keseluruhan rasio kredit bermasalah (
non performing loan/NPL) BCA dalam periode yang sama ada di 1,9%. “BCA juga menyediakan solusi proaktif kepada nasabah untuk menghindari potensi kenaikan NPL,” ujar Hera kepada Kontan, Selasa (29/9/2026). Sementara itu, Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi memandang, kemampuan bayar ritel memang relatif menurun akibat lesunya dunia usaha, yang pada gilirannya membuat kapasitas ekonomi debitur di segmen ini menurun. “Menurut saya itu penyebab kredit ritel turun,” ujarnya. Bank INA sendiri sejatinya tengah berupaya untuk memperkuat peran di pasar ritel melalui kredit pemilikan rumah (KPR). Henry mengaku kinerja KPR saat ini juga relatif lebih lambat, meski tetap berprogres. Di sisi lain, tanpa merinci angkanya, Retail Banking Director KB Bank Harryanto Pramono mengaku pihaknya masih mencatatkan pertumbuhan positif di segmen kredit konsumer hingga Juli 2026. Hal itu didukung oleh permintaan pada segmen yang menjadi fokus bank, khususnya
pension loan dan
mortgage. Baca Juga: OJK Bubarkan Dana Pensiun BASF Indonesia “Kami melihat penyaluran kredit konsumer pada kuartal III-2026 masih memiliki ruang untuk tumbuh positif,” tuturnya. Memasuki kuartal IV-2026 nanti, KB Bank juga bakal memperluas fokus bisnis ke segmen
Payroll Loan. Dalam penyalurannya, Harryanto bilang pihaknya senantiasa memperhatikan kebutuhan dan profil nasabah, serta menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kemampuan bayar debitur. Ia menjelaskan, penyaluran kredit ritel memiliki karakteristik dan proses yang berbeda dengan kredit korporasi. Oleh karena itu, pertumbuhannya tak hanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, tetapi juga oleh permintaan, profil risiko nasabah, serta pertimbangan kualitas, dan keberlanjutan portofolio. Ke depan, KB Bank memandang kredit ritel masih memiliki peluang untuk tumbuh seiring dengan potensi permintaan di segmen yang menjadi fokus bank. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, KB Bank terus memperkuat akuisisi nasabah, memperluas kerja sama dengan mitra, serta meningkatkan efektivitas proses bisnis dan layanan. Seluruh upaya itu dilakukan dengan tetap mengedepankan pengelolaan risiko yang
prudent guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset.
Baca Juga: OJK Bubarkan Dana Pensiun BASF Indonesia Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya memproyeksi, kinerja kredit ritel masih bakal tertinggal hingga akhir tahun nanti. Menurutnya pemulihan mungkin terjadi secara bertahap pada 2027, jika daya beli serta keyakinan konsumen membaik. Dalam hal ini, Andrey memandang perubahan komposisi kredit ini sebenarnya berisiko menekan imbal hasil rata-rata yang diterima bank. Sebab, kredit ritel umumnya memiliki bunga lebih tinggi. Namun begitu, dampaknya terhadap laba tetap bergantung pada volume kredit, biaya dana, dan pencadangan. “Penyaluran yang lebih selektif dapat menjaga kualitas kredit baru, tetapi NPL ritel belum tentu langsung membaik karena pinjaman lama masih bisa bermasalah,” tutur Andrey. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News