KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas pembiayaan proyek-proyek besar di Tanah Air kembali bergairah. kredit sindikasi masih menjadi pilihan perbankan untuk membiayai proyek dengan kebutuhan modal jumbo sekaligus berbagi risiko, terutama di tengah biaya dana yang masih tinggi. Berdasarkan Bloomberg League Table Reports, tercatat ada 49 kesepakatan kredit sindikasi dari sisi Mandated Lead Arranger (MLA) dengan nilai mencapai US$ 25,51 miliar atau sekitar Rp 456 triliun per 1 Oktober 2026, meningkat 36,9% secara tahunan (year on year/YoY). Peningkatan itu terutama didorong investasi sektor infrastruktur, energi, tambang, manufaktur, hingga data center. Kesepakatan di sektor energi menyumbang US$ 5,36 miliar, tambang US$ 4,76 miliar, infrastruktur dan transporasi US$ 4,43 miliar, serta data center US$ 1,75 miliar. Baca Juga: Downgrade Konsumsi Mengancam Asuransi Lifestyle, Premi 2026 Diprediksi Tumbuh 3%-6% Dari sisi bank penyalur dalam daftar MLA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memimpin dengan nilai partisipasi mencapai US$ 4,23 miliar di 20 proyek sindikasi. Proyek yang dibiayai mulai dari infrastruktur, energi, pertambangan, industri, pariwisata, agroindustri hingga data center. Posisi kedua ditempati PT Bank Mandiri Tbk dengan nilai partisipasi US$ 3,67 miliar pada 19 proyek, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sebesar US$ 2,40 miliar pada 14 proyek, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar US$ 1,54 miliar pada 13 proyek. Berikutnya, United Overseas Bank (UOB) sebesar US$ 1,31 miliar pada 9 proyek, serta Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) sebesar US$ 948,60 juta pada 7 proyek. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pertumbuhan kredit sindikasi masih didorong kebutuhan pembiayaan proyek berskala besar. Sindikasi menjadi pilihan bank untuk membiayai proyek tersebut dengan berbagi risiko, terutama ketika biaya dana masih tinggi. “Infrastruktur, pertambangan, dan data center memiliki karakter yang serupa. Ketiganya membutuhkan modal besar, tetapi menawarkan arus kas yang relatif dapat diproyeksikan,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (4/10/2026). Menurut Yusuf, kebutuhan pembiayaan infrastruktur turut didorong proyek energi, ketenagalistrikan dan logistik. Sementara pertambangan masih ditopang hilirisasi dan pembangunan smelter. Adapun pertumbuhan data center didorong meningkatnya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan dan digitalisasi. Baca Juga: BCA Ikut Danai 13 Proyek Besar, Nilai Kredit Sindikasi Capai Rp 27,6 Triliun Hingga akhir tahun, infrastruktur diperkirakan masih menjadi penopang utama kredit sindikasi dari sisi volume. Pipeline proyeknya relatif lebih tebal, terutama pada sektor energi, ketenagalistrikan dan logistik. Pertambangan juga masih berpeluang tumbuh, meski sensitif terhadap harga komoditas. Meski masih tumbuh kuat, Yusuf mengatakan pertumbuhan kredit sindikasi diperkirakan melambat hingga akhir tahun. Hal ini karena banyak transaksi besar sudah terjadi pada periode yang sama tahun lalu, sehingga angka pembandingnya sudah tinggi.
Kredit Sindikasi Jadi Pilihan Bank Biayai Proyek Jumbo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas pembiayaan proyek-proyek besar di Tanah Air kembali bergairah. kredit sindikasi masih menjadi pilihan perbankan untuk membiayai proyek dengan kebutuhan modal jumbo sekaligus berbagi risiko, terutama di tengah biaya dana yang masih tinggi. Berdasarkan Bloomberg League Table Reports, tercatat ada 49 kesepakatan kredit sindikasi dari sisi Mandated Lead Arranger (MLA) dengan nilai mencapai US$ 25,51 miliar atau sekitar Rp 456 triliun per 1 Oktober 2026, meningkat 36,9% secara tahunan (year on year/YoY). Peningkatan itu terutama didorong investasi sektor infrastruktur, energi, tambang, manufaktur, hingga data center. Kesepakatan di sektor energi menyumbang US$ 5,36 miliar, tambang US$ 4,76 miliar, infrastruktur dan transporasi US$ 4,43 miliar, serta data center US$ 1,75 miliar. Baca Juga: Downgrade Konsumsi Mengancam Asuransi Lifestyle, Premi 2026 Diprediksi Tumbuh 3%-6% Dari sisi bank penyalur dalam daftar MLA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memimpin dengan nilai partisipasi mencapai US$ 4,23 miliar di 20 proyek sindikasi. Proyek yang dibiayai mulai dari infrastruktur, energi, pertambangan, industri, pariwisata, agroindustri hingga data center. Posisi kedua ditempati PT Bank Mandiri Tbk dengan nilai partisipasi US$ 3,67 miliar pada 19 proyek, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sebesar US$ 2,40 miliar pada 14 proyek, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar US$ 1,54 miliar pada 13 proyek. Berikutnya, United Overseas Bank (UOB) sebesar US$ 1,31 miliar pada 9 proyek, serta Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) sebesar US$ 948,60 juta pada 7 proyek. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pertumbuhan kredit sindikasi masih didorong kebutuhan pembiayaan proyek berskala besar. Sindikasi menjadi pilihan bank untuk membiayai proyek tersebut dengan berbagi risiko, terutama ketika biaya dana masih tinggi. “Infrastruktur, pertambangan, dan data center memiliki karakter yang serupa. Ketiganya membutuhkan modal besar, tetapi menawarkan arus kas yang relatif dapat diproyeksikan,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (4/10/2026). Menurut Yusuf, kebutuhan pembiayaan infrastruktur turut didorong proyek energi, ketenagalistrikan dan logistik. Sementara pertambangan masih ditopang hilirisasi dan pembangunan smelter. Adapun pertumbuhan data center didorong meningkatnya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan dan digitalisasi. Baca Juga: BCA Ikut Danai 13 Proyek Besar, Nilai Kredit Sindikasi Capai Rp 27,6 Triliun Hingga akhir tahun, infrastruktur diperkirakan masih menjadi penopang utama kredit sindikasi dari sisi volume. Pipeline proyeknya relatif lebih tebal, terutama pada sektor energi, ketenagalistrikan dan logistik. Pertambangan juga masih berpeluang tumbuh, meski sensitif terhadap harga komoditas. Meski masih tumbuh kuat, Yusuf mengatakan pertumbuhan kredit sindikasi diperkirakan melambat hingga akhir tahun. Hal ini karena banyak transaksi besar sudah terjadi pada periode yang sama tahun lalu, sehingga angka pembandingnya sudah tinggi.
TAG: