KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebutuhan pembiayaan proyek berskala besar masih menopang pertumbuhan kredit sindikasi perbankan hingga awal Oktober 2026. Sejumlah sektor strategis seperti infrastruktur, energi, pertambangan hingga pengembangan data center menjadi sektor yang banyak dibiayai melalui kredit sindikasi. Berdasarkan Bloomberg League Table Reports, nilai kesepakatan kredit sindikasi dari sisi Mandated Lead Arranger (MLA) mencapai US$ 25,51 miliar per 1 Oktober 2026. Angka tersebut meningkat 36,9% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 18,63 miliar. Meski nilai kesepakatan meningkat, jumlah proyek sindikasi justru tercatat lebih rendah. Hingga 1 Oktober 2026, terdapat 49 proyek sindikasi, dibandingkan 54 proyek pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam daftar MLA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memimpin dengan nilai partisipasi mencapai US$ 4,23 miliar pada 20 proyek sindikasi. Dari rincian proyek yang diikuti BNI, sektor infrastruktur menjadi salah satu sektor yang banyak dibiayai melalui kredit sindikasi. Selain itu, terdapat proyek di sektor energi, pertambangan, industri, pariwisata, agroindustri hingga data center. Baca Juga: CIMB Niaga Sambut Perluasan MDR QRIS 0% Posisi kedua ditempati PT Bank Mandiri Tbk dengan nilai partisipasi US$ 3,67 miliar pada 19 proyek. Bank Mandiri banyak terlibat dalam pembiayaan sindikasi di sektor infrastruktur, pertambangan dan energi. Proyek sindikasi juga mencakup sektor industri, kimia, pariwisata, aviasi, manufaktur serta agroindustri. Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membukukan nilai partisipasi sebesar US$ 2,40 miliar pada 14 proyek, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar US$ 1,54 miliar pada 13 proyek. Berikutnya, United Overseas Bank (UOB) mencatat nilai partisipasi sebesar US$ 1,31 miliar pada 9 proyek. Kemudian Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) sebesar US$ 948,60 juta pada 7 proyek. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pertumbuhan kredit sindikasi masih didorong kebutuhan pembiayaan proyek berskala besar. Sindikasi menjadi pilihan bank untuk membiayai proyek tersebut dengan berbagi risiko, terutama ketika biaya dana masih tinggi. “Infrastruktur, pertambangan, dan data center memiliki karakter yang serupa. Ketiganya membutuhkan modal besar, tetapi menawarkan arus kas yang relatif dapat diproyeksikan,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (4/10/2026). Menurut Yusuf, kebutuhan pembiayaan infrastruktur turut didorong proyek energi, ketenagalistrikan dan logistik. Sementara pertambangan masih ditopang hilirisasi dan pembangunan smelter. Adapun pertumbuhan data center didorong meningkatnya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan dan digitalisasi. Hingga akhir tahun, infrastruktur diperkirakan masih menjadi penopang utama kredit sindikasi dari sisi volume. Pipeline proyeknya relatif lebih tebal, terutama pada sektor energi, ketenagalistrikan dan logistik. Pertambangan juga masih berpeluang tumbuh, meski sensitif terhadap harga komoditas. Meski masih tumbuh kuat, Yusuf mengatakan pertumbuhan kredit sindikasi diperkirakan melambat hingga akhir tahun. Hal ini karena banyak transaksi besar sudah terjadi pada periode yang sama tahun lalu, sehingga angka pembandingnya sudah tinggi. Baca Juga: Multifinance Perkuat Strategi Hadapi Persaingan Bank di Pembiayaan Kendaraan Listrik Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA tetap selektif dalam menyalurkan kredit sindikasi dengan mempertimbangkan risk appetite, likuiditas dan permodalan. “Ke depan, tren penyaluran kredit sindikasi diperkirakan akan bergerak sejalan dengan dinamika dan kondisi perekonomian nasional,” ujar Hera kepada Kontan, Jumat (2/10/2026). Kebutuhan pembiayaan infrastruktur juga masih terlihat dari penyaluran kredit sindikasi di daerah. Bank Jakarta bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI menyalurkan pembiayaan sindikasi Rp 2,11 triliun untuk tujuh proyek infrastruktur prioritas di DKI Jakarta. Dari jumlah tersebut, Bank Jakarta menyediakan Rp 1 triliun. Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, kerja sama tersebut dilakukan untuk mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan di Jakarta. “Sinergi antara sektor keuangan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi fundamental penting dalam mendorong akselerasi pemenuhan kebutuhan pembangunan di Kota Jakarta,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Sabtu (26/9/2026).
Kredit Sindikasi Tumbuh 36,9%, Sektor Infrastruktur hingga Data Center Jadi Andalan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebutuhan pembiayaan proyek berskala besar masih menopang pertumbuhan kredit sindikasi perbankan hingga awal Oktober 2026. Sejumlah sektor strategis seperti infrastruktur, energi, pertambangan hingga pengembangan data center menjadi sektor yang banyak dibiayai melalui kredit sindikasi. Berdasarkan Bloomberg League Table Reports, nilai kesepakatan kredit sindikasi dari sisi Mandated Lead Arranger (MLA) mencapai US$ 25,51 miliar per 1 Oktober 2026. Angka tersebut meningkat 36,9% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 18,63 miliar. Meski nilai kesepakatan meningkat, jumlah proyek sindikasi justru tercatat lebih rendah. Hingga 1 Oktober 2026, terdapat 49 proyek sindikasi, dibandingkan 54 proyek pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam daftar MLA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memimpin dengan nilai partisipasi mencapai US$ 4,23 miliar pada 20 proyek sindikasi. Dari rincian proyek yang diikuti BNI, sektor infrastruktur menjadi salah satu sektor yang banyak dibiayai melalui kredit sindikasi. Selain itu, terdapat proyek di sektor energi, pertambangan, industri, pariwisata, agroindustri hingga data center. Baca Juga: CIMB Niaga Sambut Perluasan MDR QRIS 0% Posisi kedua ditempati PT Bank Mandiri Tbk dengan nilai partisipasi US$ 3,67 miliar pada 19 proyek. Bank Mandiri banyak terlibat dalam pembiayaan sindikasi di sektor infrastruktur, pertambangan dan energi. Proyek sindikasi juga mencakup sektor industri, kimia, pariwisata, aviasi, manufaktur serta agroindustri. Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membukukan nilai partisipasi sebesar US$ 2,40 miliar pada 14 proyek, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar US$ 1,54 miliar pada 13 proyek. Berikutnya, United Overseas Bank (UOB) mencatat nilai partisipasi sebesar US$ 1,31 miliar pada 9 proyek. Kemudian Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC) sebesar US$ 948,60 juta pada 7 proyek. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pertumbuhan kredit sindikasi masih didorong kebutuhan pembiayaan proyek berskala besar. Sindikasi menjadi pilihan bank untuk membiayai proyek tersebut dengan berbagi risiko, terutama ketika biaya dana masih tinggi. “Infrastruktur, pertambangan, dan data center memiliki karakter yang serupa. Ketiganya membutuhkan modal besar, tetapi menawarkan arus kas yang relatif dapat diproyeksikan,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (4/10/2026). Menurut Yusuf, kebutuhan pembiayaan infrastruktur turut didorong proyek energi, ketenagalistrikan dan logistik. Sementara pertambangan masih ditopang hilirisasi dan pembangunan smelter. Adapun pertumbuhan data center didorong meningkatnya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan dan digitalisasi. Hingga akhir tahun, infrastruktur diperkirakan masih menjadi penopang utama kredit sindikasi dari sisi volume. Pipeline proyeknya relatif lebih tebal, terutama pada sektor energi, ketenagalistrikan dan logistik. Pertambangan juga masih berpeluang tumbuh, meski sensitif terhadap harga komoditas. Meski masih tumbuh kuat, Yusuf mengatakan pertumbuhan kredit sindikasi diperkirakan melambat hingga akhir tahun. Hal ini karena banyak transaksi besar sudah terjadi pada periode yang sama tahun lalu, sehingga angka pembandingnya sudah tinggi. Baca Juga: Multifinance Perkuat Strategi Hadapi Persaingan Bank di Pembiayaan Kendaraan Listrik Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA tetap selektif dalam menyalurkan kredit sindikasi dengan mempertimbangkan risk appetite, likuiditas dan permodalan. “Ke depan, tren penyaluran kredit sindikasi diperkirakan akan bergerak sejalan dengan dinamika dan kondisi perekonomian nasional,” ujar Hera kepada Kontan, Jumat (2/10/2026). Kebutuhan pembiayaan infrastruktur juga masih terlihat dari penyaluran kredit sindikasi di daerah. Bank Jakarta bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI menyalurkan pembiayaan sindikasi Rp 2,11 triliun untuk tujuh proyek infrastruktur prioritas di DKI Jakarta. Dari jumlah tersebut, Bank Jakarta menyediakan Rp 1 triliun. Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, kerja sama tersebut dilakukan untuk mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan di Jakarta. “Sinergi antara sektor keuangan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi fundamental penting dalam mendorong akselerasi pemenuhan kebutuhan pembangunan di Kota Jakarta,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Sabtu (26/9/2026).