Kredit Tumbuh Lebih Cepat, Bank Siapkan Pendanaan Alternatif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) membuat bank perlu menyiapkan strategi pendanaan untuk menopang ekspansi kredit.

Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh sekitar 13% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 8.970,2 triliun. Sementara itu, DPK tumbuh 7,7% yoy menjadi Rp 9.666,9 triliun. Adapun rasio kredit terhadap DPK atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan berada di level sekitar 92% pada Juli 2026.

Di tengah kebutuhan pendanaan tersebut, bank tidak hanya mengandalkan DPK, tetapi juga dapat memanfaatkan sumber pendanaan wholesale, seperti penerbitan surat utang.


PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) misalnya, menargetkan penerbitan obligasi sekitar Rp 2 triliun pada September 2026.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, obligasi tersebut akan dijual langsung ke pasar dan diterbitkan dalam rupiah karena kebutuhan pendanaan BTN juga dalam rupiah.

"Kisarannya kita masih lihat pasar, tapi dalam waktu dekat kita akan umumkan. Targetnya sih Rp 2 triliun," ujar Nixon di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Transaksi Valas Perbankan Meningkat di Tengah Tren Pelemahan Rupiah

Nixon menyebut,  BTN tengah berupaya mencegah tingginya suku bunga dana agar perseroan tetap dapat menyalurkan kredit dengan bunga murah.

Hingga Juli 2026, kredit BTN mencapai Rp 359,68 triliun, tumbuh sekitar 9,8% secara tahunan (yoy) dari Rp 327,59 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp 391,32 triliun, turun sekitar 2,4% yoy dari Rp 400,82 triliun pada Juli 2025.

Di sisi lain, pinjaman atau pembiayaan yang diterima BTN mencapai Rp 46,34 triliun pada Juli 2026. Sementara surat berharga yang diterbitkan Rp 5,57 triliun. Liabilitas atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali atau repo mencapai Rp 5,83 triliun.

Dari sisi likuiditas, BTN menargetkan loan to deposit ratio (LDR) berada di kisaran 92%-95% hingga akhir tahun. Nixon mengatakan posisi likuiditas akan disesuaikan dengan ekspansi kredit perseroan.

Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat hingga Juli 2026, kredit yang diberikan mencapai Rp 179,19 triliun, tumbuh 15,4% yoy dari Rp 155,26 triliun pada Juli 2025. Di sisi pendanaan, DPK tercatat Rp 258,59 triliun, naik sekitar 1,1% yoy dari Rp 255,86 triliun.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan CIMB Niaga masih mengandalkan dana pihak ketiga (DPK), terutama dana murah atau current account saving account (CASA), sebagai sumber utama likuiditas. Sementara itu, kredit hingga akhir tahun diperkirakan tumbuh 4%-5% yoy. Adapun LDR akan dijaga pada level 85% hingga 90%

"Kami perkirakan kredit sampai akhir tahun sekitar 4-5% yoy. Untuk sumber likuiditas masih akan mayoritas dari DPK terutama CASA," ujar Lani, pekan lalu.

Mengutip laporan keuangan per Juli 2026, CIMB Niaga mencatat pinjaman atau pembiayaan yang diterima tercatat Rp 75 miliar. Sementara itu, surat berharga yang diterbitkan mencapai Rp 71,98 miliar. Adapun liabilitas atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali atau repo mencapai Rp 29,64 triliun.

Baca Juga: Perbankan Masih Pupuk Pencadangan, Ini Alasannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News