Kredit UMKM Mulai Bergerak, Tapi Masih Tertinggal Laju Pertumbuhan Kredit Perbankan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih tertinggal dibandingkan laju kredit perbankan secara keseluruhan.

Hingga Juni 2026, kredit UMKM hanya tumbuh 1% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 1.519,1 triliun.

Meski demikian, pertumbuhan tersebut mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 0,6% YoY.


Namun, laju tersebut masih jauh di bawah pertumbuhan kredit perbankan secara nasional yang mencapai 12,6% YoY pada periode yang sama.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, perlambatan pembiayaan UMKM tidak lepas dari dinamika ekonomi yang masih menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap omzet dan perputaran kas pelaku UMKM sehingga proses pemulihan sektor ini berlangsung lebih lambat dibandingkan segmen korporasi.

Baca Juga: Kredit UMKM Tumbuh 1% yoy Juni 2026

"Dinamika kondisi ekonomi yang disertai perubahan pola konsumsi masyarakat memberi tekanan terhadap daya beli, terutama di kelas menengah ke bawah. Hal tersebut dapat memengaruhi aktivitas UMKM dan pembiayaan di tengah proses pemulihan sektor UMKM pascapandemi sehingga relatif lebih lambat dibandingkan sektor korporasi," ujar Dian dalam jawaban tertulis, dikutip Jumat (24/7/2026).

Meski demikian, OJK tetap optimistis pertumbuhan kredit UMKM akan membaik hingga akhir tahun. Regulator menilai tingkat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih terjaga diharapkan mampu menopang aktivitas usaha pelaku UMKM.

Selain itu, OJK bersama pemerintah terus mendorong penguatan sektor UMKM melalui berbagai kebijakan agar mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Salah satunya melalui penerbitan POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yang bertujuan memperluas akses pembiayaan yang mudah, cepat, murah, dan inklusif.

Melalui aturan tersebut, OJK juga mendorong perbankan membangun ekosistem pembiayaan UMKM yang lebih berkelanjutan, termasuk melalui pemanfaatan skema pembiayaan yang optimal serta pendampingan kepada pelaku usaha.

Selain itu, OJK mendorong perbankan memperluas penyaluran kredit UMKM melalui pendekatan rantai pasok (supply chain financing), digitalisasi proses kredit, kerja sama dengan lembaga jasa keuangan lain, serta peningkatan literasi keuangan bagi pelaku UMKM.

Adapun Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan menilai, kenaikan pertumbuhan kredit UMKM dari 0,6% menjadi 1% belum dapat diartikan sebagai pulihnya daya beli masyarakat secara menyeluruh.

Menurutnya, perbaikan tersebut lebih banyak didorong oleh meningkatnya kredit investasi, sementara kredit modal kerja masih relatif lemah.

"Kenaikan ini lebih merupakan sinyal awal pemulihan. Pelaku UMKM mulai berani berekspansi, tetapi aktivitas usahanya belum sepenuhnya pulih," ujar Trioksa.

Ia memperkirakan, pertumbuhan kredit UMKM akan terus membaik hingga akhir tahun berkat dukungan likuiditas perbankan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta berbagai insentif kebijakan.

Baca Juga: Bunga Kredit UMKM Tetap 10,47%, Insentif KLM BI Belum Mampu Turunkan Bunga Pinjaman

Meski demikian, tingginya risiko kredit dan lemahnya permintaan domestik masih menjadi tantangan.

Trioksa memproyeksikan, kredit UMKM berpotensi tumbuh di kisaran 3% hingga 5% sepanjang 2026. Peluang pertumbuhan bisa lebih tinggi apabila konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menguat pada semester II-2026.

Untuk menjaga momentum tersebut, ia menilai perbankan perlu memperkuat penyaluran kredit berbasis kualitas melalui pemanfaatan data digital dalam penilaian kredit, pembiayaan berbasis rantai pasok, pendampingan kepada pelaku UMKM, serta penerapan manajemen risiko yang lebih adaptif.

Di tengah perlambatan industri, sejumlah bank masih mampu mencatat pertumbuhan kredit UMKM di atas rata-rata nasional.

Direktur Commercial Banking PT Bank Mandiri Tbk, Totok Priyambodo mengatakan, hingga Juni 2026 kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 2,48% YoY menjadi Rp 85 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekosistem Kredit Usaha Mikro (KUM) yang tumbuh 15,7% YoY, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan kualitas portofolio.

Ke depan, Bank Mandiri akan tetap menyalurkan pembiayaan secara selektif ke sektor-sektor produktif yang menjadi unggulan di masing-masing daerah, seperti pertanian, perikanan, industri pengolahan, dan jasa produksi.

Baca Juga: Kredit UMKM Tumbuh Tipis, OJK Masih Optimistis Target 7%–9% Tercapai ,

"Upaya tersebut didukung oleh sinergi lintas segmen, kapabilitas digital, serta kekuatan ekosistem Mandiri Group," ujar Totok.

Selain pembiayaan, Bank Mandiri juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan UMKM, seperti Wirausaha Muda Mandiri dan Rumah Kreatif BUMN, guna meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar mampu naik kelas.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan menilai permintaan kredit, termasuk di segmen UMKM, masih tertahan akibat lemahnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, berbagai insentif dari regulator memang membantu mendorong pembiayaan, namun kenaikan suku bunga acuan sebelumnya turut meningkatkan biaya dana (cost of fund).

"Permintaan kredit itu sendiri relatif masih lemah karena faktor daya beli masyarakat yang masih rendah. Walaupun insentif dari regulator membantu, kenaikan BI Rate juga menaikkan cost of fund," kata Lani.

Ia memperkirakan, kredit ritel, termasuk UMKM, masih mampu tumbuh hingga akhir tahun, namun hanya pada kisaran single digit rendah.

Hingga Maret 2026, pembiayaan UMKM CIMB Niaga tercatat mencapai Rp26,9 triliun, atau tumbuh 1,2% YoY.

Baca Juga: Kualitas Kredit UMKM Kian Memburuk, Ekonom Prediksi Mendekati 5% pada Akhir 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News