Kredit UMKM Mulai Menggeliat, Tapi Masih Jauh dari Target OJK



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski mulai berhasil keluar dari zona koreksi, kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perbankan tampaknya masih jauh dari target pertumbuhan 7%–9% yang dipatok regulator tahun 2026 ini. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit UMKM akhirnya berhasil membukukan pertumbuhan. Angkanya masih kecil, yakni 0,12% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Namun, itu lebih baik ketimbang catatan koreksi yang rutin ditorehkan sejak kuartal IV-2025. 


Di sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang fokus di sektor ini juga mencatatkan kinerja positif. Hingga kuartal I-2026, total penyaluran kredit UMKM BRI mencapai Rp 913,3 triliun, tumbuh 4,82% yoy. 

Baca Juga: BNI Jaga NPL Konstruksi di Bawah 1%

Menurut Direktur Utama BRI Hery Gunardi, model bisnis BRI yang fokus pada segmen UMKM menjadi keunggulan dari sisi manajemen risiko.

Pasalnya, persebaran luas portofolio di jutaan nasabah mikro dengan plafon yang relatif kecil menciptakan diversifikasi risiko yang sangat granular. 

Dengan struktur tersebut, potensi risiko kredit menjadi lebih terdistribusi dan tak terfokus di debitur tertentu. "Sehingga ketahanan portofolio relatif lebih kuat dalam menghadapi gejolak ekonomi," jelas Hery. 

Namun begitu, Hery tak menampik volatilitas ekonomi belakangan ini menjadi risiko yang perlu dicermati. Ia bilang pihaknya juga tetap melakukan pemantauan ketat secara berkala terhadap sektor yang mungkin terdampak dinamika global.

BRI juga melihat perkembangan kredit UMKM perlu didorong oleh peningkatan kualitas UMKM.

Terkait itu, BRI juga melakukan pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kapabilitas, daya saing, serta mendorong proses naik kelas bagi pelaku UMKM di Indonesia.

Baca Juga: Perbankan Waspadai Potensi Kenaikan Risiko Kredit Imbas Pelemahan Rupiah

Setali tiga uang, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) melihat penyaluran pembiayaan UMKM sebagai komitmen dukungan terhadap program Astacita Pemerintah. Hingga Februari 2026, pembiayaan ritel dan UMKM BSI tumbuh 6,1% yoy menjadi Rp 52,43 triliun. 

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menjelaskan, tren positif tersebut salah satunya dipicu kebijakan pemerintah yang menstimulus daya beli masyarakat, yang pada gilirannya meningkatkan perputaran ekonomi di segmen UMKM. 

Di samping itu, BSI juga memperkuat peran UMKM agar mampu naik kelas, mulai dari pendampingan, edukasi keuangan syariah, pelatihan, akses pembiayaan, business matching hingga penyediaan layanan BSI UMKM Center yang rutin menggelar kegiatan kegiatan peningkatan kapasitas para pelaku usaha UMKM.

“Langkah bank untuk fokus pada dukungan terhadap program pemerintah pada sektor produktif dan UMKM terbukti efektif dalam menjaga tren pertumbuhan kinerja,” kata Wisnu. 

Meski mulai menunjukkan perbaikan, Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai pertumbuhan kredit UMKM masih bakal terbatas tahun ini.

Baca Juga: BNI Jaga NPL Konstruksi di Bawah 1%, Fokus Proyek Infrastruktur dan Perumahan

Pun, target pertumbuhan 7%–9% yang dipatok OJK masih sulit terealisasi. Toh, hingga tiga bulan pertama tahun ini saja, pertumbuhannya masih sangat terbatas.

Deni menekankan bahwa sektor UMKM di Indonesia punya masalah yang tak sederhana. Mulai dari bentuk usaha yang tidak bankable, hingga pasar yang sangat rentan. 

Deni menyoroti penurunan konsumsi di kelas menengah dan bawah sebagai pasar utama UMKM. Selama konsumsi di segmen ini tak membaik, UMKM secara umum pasti sulit untuk tumbuh. 

“Pembelinya sedikit, sementara yang mau mulai usaha karena kena PHK banyak. Kompetisi jadi ketat, margin makin tipis, secara bisnis makin berisiko. NPL bisa tinggi,” tutur Deni. 

Dari sudut pandangnya, Deni bilang satu-satunya katalis yang bisa mendorong kredit UMKM tumbuh masif adalah perbaikan ekonomi secara struktural dan menyeluruh.

Baca Juga: NPL Konstruksi Masih Tinggi, Bank Selektif Salurkan Kredit

Jika pemerintah mampu mengelola fiskal dengan baik, keyakinan masyarakat bakal pulih, dan konsumsi bisa meningkat. 

Atau, lanjut Deni, kredit UMKM juga bisa saja tumbuh sesuai target kalau pemerintah mengeluarkan kebijakan yang “memaksa” bank. Namun, tentunya ini bakal menjadi malapetaka bagi kualitas aset bank. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News