Kremlin: Rudal Jarak Jauh Barat untuk Ukraina akan Picu Ketegangan Lebih Tinggi



KONFLIK UKRAINA DAN RUSIA - Pada Minggu (5/6/2023), Kremlin mengatakan bahwa setiap pasokan rudal jarak jauh ke Kyiv oleh Prancis dan Jerman akan mengarah pada putaran lebih lanjut dari ketegangan yang meningkat dalam konflik Ukraina.

Melansir Reuters, Inggris pada bulan lalu menjadi negara pertama yang memasok Ukraina dengan rudal jelajah jarak jauh.

Ukraina telah meminta Jerman untuk rudal jelajah Taurus, yang memiliki jangkauan 500 km (311 mil). Sementara Presiden Emmanuel Macron mengatakan Prancis akan memberi Ukraina rudal dengan jangkauan yang memungkinkannya melakukan serangan balasan yang telah lama diantisipasi.


"Kami sudah mulai melihat diskusi tentang pengiriman rudal dari Prancis dan Jerman dengan jangkauan 500 km atau lebih," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada seorang reporter dari saluran TV Rossiya-1.

"Ini adalah senjata yang sama sekali berbeda yang akan mengarah pada, katakanlah, putaran ketegangan yang meningkat," katanya.

Baca Juga: Pasukan Rusia Sengaja Menyerang Sumber Makanan Agar Warga Ukraina Kelaparan

Rusia telah berulang kali mengkritik negara-negara Barat karena memasok senjata ke Ukraina dan telah memperingatkan bahwa anggota NATO telah secara efektif menjadi pihak langsung dalam konflik tersebut.

Moskow telah memperjelas pihaknya melihat senjata yang dipasok oleh Barat sebagai target yang sah dalam apa yang disebutnya "operasi militer khusus" di Ukraina, yang sekarang memasuki bulan ke-16.

Ukraina mengatakan membutuhkan lebih banyak senjata, termasuk rudal jarak jauh, untuk mempertahankan diri dari serangan Rusia dan merebut kembali wilayah yang didudukinya.

Peskov juga menegaskan kembali bahwa Rusia akan melanjutkan operasinya di Ukraina sampai pekerjaan selesai dan tidak ada alternatif lainnya.

Baca Juga: Kremlin Melarang Jurnalis Barat Meliput Pertemuan Davos Rusia yang Dihadiri Putin

Moskow mengatakan mereka harus bertindak di Ukraina untuk melindungi keamanannya sendiri dan melawan apa yang dikatakannya sebagai sikap Barat yang bermusuhan dan agresif dalam penghancuran Rusia.

Kyiv dan sekutu Baratnya mengatakan Rusia mengobarkan perang agresi dan perampasan tanah di Ukraina tanpa alasan yang jelas.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie