Kripto Melonjak Saat Konflik Geopolitik, Bitcoin Cetak Level Tertinggi Sebulan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga aset kripto pada Rabu (17/3/2026). Bitcoin (BTC) pagi ini menembus level US$ 75.600, tertinggi dalam sebulan terakhir, sementara Ethereum (ETH) sempat melampaui US$ 2.350.

Mengutip Coin Market Cap pukul 19.33 WIB, BTC diperdagangkan di level US$ 73.858, dan ETH berada di US$ 2.322. 

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai pergerakan ini mencerminkan pergeseran persepsi investor terhadap kripto di tengah gejolak geopolitik. "Bitcoin dan Ethereum mulai dilihat sebagai lindung nilai terhadap krisis," kata Fahmi.


Baca Juga: Arah Harga Bitcoin Selanjutnya, Analis Beberkan Proyeksinya

Menurut Fahmi, sifat Bitcoin yang borderless, tidak bisa disita, dan pasokannya terbatas secara algoritmik membuatnya menjadi alternatif terhadap depresiasi uang fiat, mirip dengan emas, namun dengan likuiditas perdagangan 24 jam setiap hari.

Data Coinglass menunjukkan ETF Bitcoin spot mencatat aliran dana masuk positif sejak 9 Maret, sementara ETF Ethereum spot sejak 10 Maret, menandakan tren akumulasi investor institusional.

Dalam sepekan terakhir, tercatat pembelian bersih 22.337 BTC senilai sekitar US$ 1,57 miliar, membawa total kepemilikan institusional ke 761.068 BTC atau sekitar US$ 57,61 miliar.

Ethereum juga mencatat rekor kepemilikan institusional. Berdasarkan data strategicethreserve, jumlah ETH yang dipegang oleh Ethereum Treasury Companies mencapai 7,27 juta ETH senilai US$ 15,11 miliar, lebih dari 6% dari total suplai ETH, padahal 12 bulan lalu jumlahnya masih nol. 

Baca Juga: Bitcoin dan Aset Kripto Lain Bergerak Volatil di Tengah Ketegangan Geopolitik Global

Fahmi menekankan eskalasi konflik berpengaruh pada rantai pasokan minyak global dan inflasi, sehingga membuat kripto semakin strategis sebagai instrumen diversifikasi.

"Momentum seperti ini dapat dimanfaatkan secara bertahap dengan strategi Dollar Cost Averaging, tetapi manajemen risiko tetap kunci di tengah volatilitas tinggi," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News