KONTAN.CO.ID - Setelah kripto diakui sebagai salah satu komoditas, ternyata banyak perusahaan kripto dalam negeri yang ingin menawarkan koin, baik di bursa kripto lokal maupun global. Namun, hanya sedikit yang bisa lolos. Salah satunya karena prospek investasinya. Maklum, sekarang ini di tengah banyak tawaran kripto, investor semakin selektif memilih instrumen investasi berbasis digital ini. Jika dulu orang membeli kripto untuk spekulasi, kini investor semakin melihat sisi prospek investasinya. Sumardi Fung, CEO Rekeningku.com,
marketplace jual beli kripto, mengatakan, salah satu pertimbangan kelayakan sebuah aset digital untuk bisa tercatat
(listing) adalah utilitas. Artinya, kripto itu memiliki kegunaan tertentu dan manfaat yang jelas. Dari manfaat ini, investor akan bisa menilai sisi potensi peningkatan nilai
(value) di masa depan. Semakin besar manfaatnya, harganya juga akan berpotensi naik terus seiring banyaknya pengguna.
Di Indonesia, banyak pengembang (
developer) telah mengeluarkan kripto utilitas ini. Misalnya, BBX Coin besutan Bit Block Xchange yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran di jaringan
Warungq yang berafiliasi dengan BBX, sekaligus dapat ditukarkan dengan
loyalty point dari sejumlah
merchant. Rekeningku.com juga sudah mengembangkan kripto utilitas bernama Ana Coin. Token ini berfungsi untuk memberikan diskon biaya transaksi pada platform tersebut. Nah, belakangan, ada dua pengembang kripto yang mencoba memanfaatkan sektor agribisnis sebagai aset untuk penawaran kripto, yakni Hara Token (HART) dan Agricoin (AGC & AGCMN). Hara Token Hara Token dikembangkan oleh Hara, perusahaan yang menyediakan platform pertukaran data pertanian melalui teknologi
blockchain. “Kami bikin platform supaya semua orang bisa berbagi data terkait dengan pertanian, sehingga dengan begitu, kita bisa menghubungkan seluruh
stakeholder di sektor pertanian,” ujar Imron Zuhri,
Co-Founder &
Chief of Technology Officer Hara. Saat ini, kata Imron, sudah ada hampir 5.000 petani di berbagai daerah di Indonesia yang bekerja sama dengan Hara. “Kebanyakan di Jawa Timur. Ada beberapa proyek juga di Sulawesi dan Jawa Barat,” ujarnya. Para petani ini memasok data ke platform Hara. Lalu, data-data tersebut kemudian diakses dan dimanfaatkan oleh mitra Hara, seperti lembaga pembiyaan, perusahaan asuransi pertanian, perusahaan penyedia sarana pertanian, dan juga pembeli produk pertanian. Ada pun kategori data yang disediakan, mulai data umum seperti identitas dan latar belakang petani dan data hasil
geo-tagging, seperti luas dan lokasi lahan. Selain itu, juga data aktivitas pertanian, seperti produk yang ditanam dan kuantitas panen, data terkait ekologi seperti cuaca dan karakteristik tanah, dan data terkait pasar, harga, dan transaksi pembelian benih, serta harga dan di mana mereka menjual hasil pertanian. “Data-data itu ditanamkan di
blochain dan tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah dicatat,” jelas Regi Wahyu
Founder & Chief Executive Officer Hara. Data-data tersebut, menurut Regi, bisa dimanfaatkan oleh bank untuk melakukan verifikasi sebelum memberikan kredit. Bisa juga digunakan oleh perusahaan asuransi untuk menghitung profil risiko sebelum menawarkan produk asuransi pertanian. Nah, Hara bakal mengeluarkan token untuk membangun ekosistem pertukaran data pertanian ini. Token tersebut menjadi alat transaksi. “Di dalam
data exchange ini, akan ada banyak sekali
stakeholder-nya. Ada
data provider dan ada
data buyer. Untuk mempermudah dan mempercepat proses transaksi, kami menggunakan Hara Token,” ujar Imron. Dengan Hara Token, semua transaksi tercatat transparan. Saat ini, Hara sedang dalam proses pra-penjualan Hara Token ke para mitra institusi yang akan menjadi
stakeholder di dalam ekosistem ini, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sasarannya adalah perbankan, perusahaan asuransi, biro kredit, dan penyedia sarana pertanian. “Kami berkeinginan, sebagian besar token itu ada di pengguna,” ujar Imron. Total jumlah suplai Hara Token adalah sebanyak 1,2 miliar. Sebanyak 45% atau 540 juta akan dijual ke publik melalui
initial token sale (ITS). Dengan penggunaan ini, prospek nilai HART tergantung pada pertumbuhan ekosistem yang dibangun Hara. Semakin banyak yang butuh, nilai HART juga berpotensi terus naik. Sebaliknya, jika ekosistem tak berkembang, nilai koin ini juga akan turun. Kapan bakal
listing ke publik? Imron belum bisa memastikan waktunya. Yang jelas, token ini akan di-
listing di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Agricoin Aset kripto lain yang juga dekat dengan sektor pertanian adalah Agricoin (AGC) dan Agricoin Masternode (AGCMN) yang dikembangkan AGC Fund. Dua kripto ini akan digunakan untuk pembiayaan modal usaha ke petani. Riski Yudistira, CEO &
Developer AGC Fund, mengatakan, platform yang akan dikembangkan memiliki cara kerja seperti halnya perusahaan teknologi finansial (tekfin)
peer to peer lending (P2P). Bedanya, sumber pembiayaan yang dikembangkan AGC Fund berasal dari kripto. “Dengan kripto, investor bisa dari mana saja, tidak hanya dari Indonesia,” ujarnya. Investor yang ingin meminjamkan uangnya harus terlebih dahulu masuk ke platform AGC Fund. Untuk itu, investor harus membeli Agricoin di pasar. Agricoin ini kemudian dikonversi ke uang fiat oleh AGC Fund untuk disalurkan ke petani. Setelah masuk ke platform AGC Fund, investor bisa memilih berbagai proyek pertanian yang ingin didanai. Proyek itu telah melewati proses seleksi oleh AGC Fund berdasarkan proposal pengajuan modal dari petani.
Terkait bunga, menurut Riski, besarannya tidak ditentukan oleh AGC Fund. Tetapi oleh petani sendiri. Sehingga, bunga per proyek itu beda-beda. “Saat kami ketemu petani, mereka butuh biaya, kami tanyakan ke mereka, berapa bunga yang sanggup mereka berikan ke investor,” ujarnya. Investor bebas memilih proyek pertanian yang menjanjikan imbal hasil yang menarik. Bentuk imbal hasilnya dikembalikan ke investor dalam token. Artinya, potensi yang didapat investor adalah tambahan jumlah token dan kenaikan nilai lantaran kebutuhan tinggi. Riski bilang, pendanaan pertama ke petani akan diluncurkan pada 30 Desember 2018. “Kuartal I-2019, kami akan meluncurkan 4 proyek pertanian secara bersamaan dan platform AGC Fund akan beroperasi dalam skala penuh,” ujarnya. Soal risiko ke investor akibat gagal panen, Agricoin berusaha meminimalisir dengan selektif memilik proyek dengan tingkat kegagalan kecil. Setelah proyek jalan, Agricoin juga akan mendorong petani untuk menyisihkan 1%-2% dari profit untuk risiko
force majeure, seperti gagal panen. Cara ini untuk memenuhi kewajiban ke investor. Dua kripto AGC Fund ini dipasarkan di bursa luar negeri, yaitu FreiExchange dan BigBitex untuk AGC dan BiteBTC dan Crex24 untuk AGCMN. Akhir tahun nanti, dua kripto ini digabungkan dan ditukar menjadi AGCMN dengan rasio 100:1.