Kripto Terkoreksi Paling Dalam, Begini Prospek Bitcoin hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berbagai instrumen investasi kompak mencatatkan koreksi sepanjang sebulan terakhir. Mulai dari aset kripto, emas, saham hingga nilai tukar rupiah sama-sama tertekan akibat meningkatnya ketidakpastian global dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Di antara berbagai instrumen tersebut, aset kripto menjadi yang mengalami pelemahan paling dalam. Sepanjang sebulan terakhir, harga Bitcoin (BTC) terkoreksi sekitar 20,68% secara bulanan (mom) ke US$ 58.327 dan turun 47,36% ytd. Penurunan ini jauh melampaui pelemahan emas maupun pasar saham.

Harga emas spot juga terkoreksi cukup dalam yakni 12,07% mom ke level USS 4,038,5 per ons troi. Harga emas turun 8,36% ytd. Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun 7,9% mom. Sejak awal tahun IHSG sudah ambles 34,74%. Nilai tukar rupiah tak kalah merana. Rupiah juga terkoreksi mendekati Rp 18.000 per dolar AS, yakni ditutup ke level Rp 17.963 pada penutupan Jumat (3/7).


Baca Juga: Rupiah Menguat 0,18% pada Jumat (3/7), Ini Proyeksi Pergerakannya Pekan Depan

Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, mengatakan koreksi kinerja sejumlah aset portofolio di atas itu terutama disebabkan oleh tingginya harga energi yang menyebabkan adanya kekhawatiran inflasi dan juga ada yang lebih hawkish.

Khusus untuk Bitcoin, menurut Christopher, tekanan jual berasal dari kekhawatiran investor terhadap potensi penjualan Bitcoin secara berkala oleh perusahaan Strategy untuk memenuhi kewajiban pembayaran dividen saham preferen setiap dua pekan. Di sisi lain, pasar juga masih minim katalis positif yang mampu mengangkat harga aset kripto dalam jangka pendek.

“Meski demikian, Metaplanet baru saja menambahkan posisi Bitcoin dan menjadikannya sebagai perusahaan terbuka, dengan posisi bitcoin terbesar di dunia,” ujar Christopher kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Christopher menilai peluang pemulihan aset investasi pada paruh kedua 2026 masih terbuka. Menurutnya, mulai meredanya ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengurangi risiko inflasi berkepanjangan sehingga dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk melonggarkan sikap kebijakan moneternya.

Selain itu, arus pembelian dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin dan investor institusi diperkirakan masih akan menjadi katalis utama bagi pergerakan harga kripto hingga akhir tahun.

"Jika The Fed mulai kurang hawkish atau bahkan bergeser menjadi dovish, hal itu bisa menjadi katalis tambahan bagi aset berisiko, khususnya Bitcoin," katanya.

Untuk sisa tahun 2026, Christopher menilai bitcoin menjadi salah satu instrumen investasi yang layak dicermati. Ia melihat potensi penguatan harga akan lebih besar memasuki kuartal IV seiring pola musiman yang selama ini kerap mendorong reli Bitcoin pada akhir tahun.

Di sisi lain, pasar saham juga dinilai mulai menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam. Menurutnya, sejumlah saham unggulan kini diperdagangkan pada valuasi yang lebih murah sehingga dapat menjadi pilihan untuk akumulasi secara bertahap.

Adapun dari sisi strategi investasi, Christopher menyarankan investor untuk melakukan trading jangka pendek dan juga mempersiapkan akumulasi bitcoin menjelang akhir tahun. Sementara untuk saham, ia menyarankan investor untuk melirik beberapa saham-saham unggulan yang saat ini harganya sudah terdiskon.

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis pada Jumat (3/7), Sentimen Global Masih Membayangi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News