JAKARTA. Dampak krisis global baru dirasakan produsen sepatu pada tahun ini. Tak ayal, sekitar 25 investor sepatu, baik dari dalam maupun luar negeri, memutuskan untuk menunda rencana ekspansi mereka. Dikabarkan, nilai investasi yang tertunda itu totalnya mencapai US$ 700 juta. Para investor mengaku, akan melanjutkan niatan ekspansi hingga kondisi perekonomian membaik."Mereka pada saat ini hold dulu. Kalaupun ada yang tetap jalan mendirikan pabrik, pelaksanaannya pelan-pelan tidak seperti rencana semula. Bahkan kemungkinan ada yang batal juga," kata Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Rabu (21/1). Ternyata, dari total 120 perusahaan sepatu, ada juga yang berminat berinvestasi sekitar Rp 5 miliar per perusahaan. Namun, mereka sulit merealisasikannya lantaran kesulitan arus kas. Ditambah lagi, pengusaha harus membeli bahan baku secara tunai. Demikian pula dengan penerbitan surat jaminan kredit (letter of credit atau L/C) untuk ekspor yang harus dibayar penuh. Kondisi ini membuat perusahaan sepatu lokal kebingungan.
Krisis, 25 Investor Sepatu Tunda Ekspansi
JAKARTA. Dampak krisis global baru dirasakan produsen sepatu pada tahun ini. Tak ayal, sekitar 25 investor sepatu, baik dari dalam maupun luar negeri, memutuskan untuk menunda rencana ekspansi mereka. Dikabarkan, nilai investasi yang tertunda itu totalnya mencapai US$ 700 juta. Para investor mengaku, akan melanjutkan niatan ekspansi hingga kondisi perekonomian membaik."Mereka pada saat ini hold dulu. Kalaupun ada yang tetap jalan mendirikan pabrik, pelaksanaannya pelan-pelan tidak seperti rencana semula. Bahkan kemungkinan ada yang batal juga," kata Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Rabu (21/1). Ternyata, dari total 120 perusahaan sepatu, ada juga yang berminat berinvestasi sekitar Rp 5 miliar per perusahaan. Namun, mereka sulit merealisasikannya lantaran kesulitan arus kas. Ditambah lagi, pengusaha harus membeli bahan baku secara tunai. Demikian pula dengan penerbitan surat jaminan kredit (letter of credit atau L/C) untuk ekspor yang harus dibayar penuh. Kondisi ini membuat perusahaan sepatu lokal kebingungan.