KONTAN.CO.ID - CEBU. Krisis energi akibat konflik Timur Tengah menjadi isu utama dalam pertemuan para pemimpin negara ASEAN yang dimulai di Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026). Negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada impor energi dinilai menghadapi tekanan besar akibat terganggunya pasokan minyak global. Melansir
Reuters, pertemuan yang berlangsung hingga Jumat (8/5/2026) itu dihadiri para kepala negara, menteri luar negeri, dan menteri ekonomi dari 11 negara anggota ASEAN.
Baca Juga: Bursa Asia Cetak Rekor Kamis (7/5) Pagi, Harapan Damai AS-Iran Angkat Sentimen Pasar Isu ketahanan energi dan pangan menjadi prioritas utama dalam forum kawasan yang mewakili hampir 700 juta penduduk tersebut. Menteri Luar Negeri Filipina, Ma. Theresa Lazaro, mengatakan konflik di Timur Tengah memberikan dampak luas terhadap aliran energi, jalur perdagangan, rantai pasok pangan, hingga kesejahteraan warga negara ASEAN di luar negeri. “Krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah menunjukkan bahwa perkembangan di luar kawasan dapat memberikan dampak langsung dan mendalam terhadap ASEAN,” ujar Lazaro saat membuka pertemuan para menteri luar negeri ASEAN. Ia menegaskan, ASEAN perlu memperkuat koordinasi krisis dan kesiapan institusi dalam menghadapi situasi darurat global.
Baca Juga: Mengenal Hantavirus Andes, Virus Mematikan yang Picu Wabah di Kapal Pesiar Krisis di Timur Tengah membuat banyak negara Asia mencari alternatif pasokan minyak. ASEAN bahkan menggelar pertemuan khusus para menteri sebelum konferensi tingkat tinggi dimulai. Filipina juga berharap adanya ratifikasi kesepakatan kerangka berbagi pasokan minyak antarnegara ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. Pengamat geopolitik dari De La Salle University Manila, Don McLain Gill menilai, dampak ekonomi akibat lonjakan harga energi berpotensi menjadi fokus utama ASEAN, menggeser isu kawasan lainnya. “Perencanaan untuk meredam dampak ekonomi kemungkinan akan lebih dominan dibanding isu regional lain,” ujarnya. Meski demikian, isu konflik Myanmar dan sengketa Laut China Selatan tetap menjadi pembahasan dalam forum tersebut.
Baca Juga: Uni Eropa Pertimbangkan Hapus Sanksi Emisi Metana Perusahaan Migas, Ini Alasannya ASEAN selama ini dinilai kesulitan mencapai respons kolektif yang konkret terhadap berbagai krisis regional. Banyak pertemuan hanya menghasilkan komitmen kerja sama tanpa strategi yang jelas. Namun mantan diplomat Filipina, Laura del Rosario, menilai skala guncangan pasokan energi kali ini bisa mendorong ASEAN mengambil langkah yang lebih nyata. Di sisi lain, konflik Timur Tengah juga mempertegas rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China di Asia Tenggara. Peneliti dari S. Rajaratnam School of International Studies Singapura Collin Koh menilai, China berpotensi dipandang sebagai mitra yang lebih stabil di tengah fokus AS terhadap konflik global.
Baca Juga: Korea Utara Tegaskan Tak Terikat Lagi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir “AS akan dipersepsikan sebagai kekuatan yang menciptakan ketidakstabilan, sementara China dianggap lebih stabil,” katanya. Selain isu energi, ASEAN juga akan membahas upaya Myanmar untuk kembali terlibat aktif di organisasi tersebut setelah lima tahun tersisih sejak kudeta militer 2021. Para pemimpin ASEAN juga diperkirakan kembali mendorong penyelesaian kode etik Laut China Selatan bersama China yang ditargetkan rampung pada 2026.